h1

Tinggal di Luar Negeri

May 12, 2013
Masyarakat di Sydney saat sholat idul fitri. Foto: Dokumentasi pribadi

Masyarakat di Sydney saat sholat idul fitri. Foto: Dokumentasi pribadi

Kalau ada orang tanya, “Apa sih enaknya tinggal di luar negeri?”, jawabnya serba relatif. Tergantung pada individu masing-masing. Tergantung dari mana sudut pandangnya. Tidak semuanya enak. Ada enak dan tidaknya. Luar negeri bukan segalanya dan pula serba baik. Ada sisi-sisi positif dan negatifnya.

Tapi banyak orang mengira bahwa tinggal di luar negeri itu lebih enak daripada tinggal di tanah air. Banyak pula orang berpikiran bahwa orang yang tinggal di luar negeri itu kaya-kaya. Atau orang yang tinggal di luar negeri itu pasti pinter dan modern.  Sebenarnya tidak selalu demikian.

Bagi orang yang pertama kali pergi ke luar negeri, jika sebagai turis tentu lebih banyak gambaran yang baik-baik di dapat. Banyak hal beda ditemui dan kelihatannya selalu lebih baik dari yang ada di tanah air.  Barangkali gambaran selintas itu ada benarnya. Gambaran di permukaan memang serba gemerlap, canggih, teratur, bersih dan sebagainya.

Bagi orang yang telah lama menetap di luar negeri, kemudian mengenal lebih dalam keadaan di luar negeri mungkin ada sedikit perbedaan pandangan. Tapi ini pun relatif. Banyak orang yang kerasan untuk tinggal selamanya di luar negeri.  Tapi banyak pula yang tidak kerasan dan kembali pulang ke tanah air setelah beberapa tahun tinggal di luar negeri.

Beberapa hal penting yang membuat orang betah di luar negeri terutama adalah karena rasa aman, kehidupan yang lebih demokratis, jaminan kesehatan dan pendidikan yang memadai, jaminan sosial yang tersedia dan lain-lain. Itu hanya yang pokok dan paling dominan. Ada banyak faktor lain yang mendorong orang untuk enggan kembali pulang ke tanah air.

Dalam hal enggannya manusia Indonesia untuk kembali ke tanah air ini tidak ada kaitannya dengan unsur nasionalisme seseorang. Unsur nasionalisme tidak bisa diukur begitu saja lewat penilaian-penilaian sempit dan terbatas hanya pada lapis luar yang nampak. Perlu dipelajari lebih dalam definisi nasionalisme sebelum menggunakannya sebagai tolok ukur untuk menilai rasa cinta tanah air orang lain.

Kecendrungan orang untuk menggunakan unsur nasionalisme sebagai penggada besar sebagai alat menilai tindakan seseorang adalah warisan pemerintahan orde baru untuk mengkambing-hitamkan sekelompok orang yang menentang kekuasaan atau kebijaksanaannya. Nasionalisme yang diterjemahkan dalam artian sempit dan sepihak.

Perlu diketahui bahwa orang yang tinggal di luar negeri untuk masa tahunan bukan berarti telah melepas kewarga-negaraan Indonesianya. Di Australia, pemegang status visa penduduk tetap (permanent resident visa) bisa tinggal di Australia selamanya dan punya hak hampir sama dengan warga negara asli Australia. Beda paling kentara adalah tidak punya hak pilih dalam pemilu. Pemegang visa permanent resident tidak akan kehilangan visanya selama memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh departemen imigrasi Australia.

Indonesia tidak menganut dwi-warganegara sebagaimana banyak dianut negara lain – yang sebenarnya punya banyak segi positifnya jika menganut dwi-warganegara. Seseorang dipaksa untuk memilih warga-negaranya. Kasus dalam sejarah pernah terjadi pada warga Tionghoa di Indonesia pada tahun 1967an.  Mereka dipaksa untuk memilih sebagai warga Indonesia atau warga negara lain sehingga terjadi eksodus baik sukarela atau terpaksa pergi ke luar negeri.  Dan faktor terbatasnya pilihan ini tetap berlaku hingga sekarang.  Banyak penduduk Indonesia setelah lulus kuliah di luar negeri lalu enggan untuk pulang ke tanah air.

Kunjungan masyarakat Indonesia di kediaman Konsulat Jendral di Sydney. Foto: Dokumentasi pribadi

Kunjungan masyarakat Indonesia di kediaman Konsulat Jendral di Sydney. Foto: Dokumentasi pribadi

Mungkin karena faktor tidak adanya pilihan lain inilah membuat orang enggan atau tidak bisa kembali ke tanah air begitu ia memperoleh status sebagai warga negara bangsa lain. Namun bukan berarti rasa nasionalisme orang bersangkutan telah luntur. Tidak ada orang yang bisa menolak kelahirannya.  Banyak hal perlu dipertimbangkan alasan kenapa penduduk Indonesia di luar negeri lebih senang tinggal di negara orang.  Kadang hanya karena alasan masalah teknis atau ekonomis atau birokratis namun banyak juga karena alasan politis. Tidak menutup kemungkinan juga karena masalah-masalah yang sifatnya pribadi, kesehatan misalnya. Atau karena telah menikah dengan warga asing dan seluruh keluarganya tinggal di negara asing dan alasan pribadi lainnya.

Berikut ini beberapa pikiran saya selama tinggal di Australia selama hampir 25 tahun, tentang alasan kenapa orang lebih senang tinggal di luar negeri dan enggan balik ke tanah air.  Uraian berikut adalah sekedar gambaran umum dan selintas.  Tidak berusaha menukik ke inti masalah yang perlu uraian tersendiri panjang lebar.

Keterbukaan Informasi

Hal paling menarik selama berada di Australia adalah adanya keterbukaan informasi. Pada saat di Indonesia banyak dilakukan pengaturan, pengontrolan, penyensoran bahkan pembreidelan media massa – pada masa pemerintahan orde baru, berada di luar negeri dengan segala keterbukaan informasinya adalah bagai berada di surga.

Buku-buku atau informasi yang dilarang beredar di Indonesia bisa didapat relatif mudah di Australia. Di perpustakaan universitas yang koleksi bukunya ribuan dan dengan sistem katalog serta fasilitas teknologinya, pencarian informasi begitu mengasyikkan.  Yang paling menarik adalah mencari informasi tentang sejarah, politik atau kebudayaan Indonesia. Terutama mencari novel, buku terutama sejarah nasional, atau terbitan informasi yang dilarang di Indonesia. Kadang rasa ingin tahu kenapa kok dilarang malah mendorong orang jadi penasaran. Inilah untungnya tinggal di luar negeri dengan segala keterbukaan informasinya.  Kesempatan orang untuk mencari kebenaran sebuah kejadian, fakta atau fenomena lebih dihargai.

Karena keterbukaan informasi tersebut, memungkinkan orang untuk mengolah daya pikirnya sendiri dengan lebih baik dan mendewasakan. Individu dihargai sebagai mahluk hidup yang bisa berfikir dan menentukan keputusan hidupnya sendiri.

Ketersediaan informasi secara terbuka membuat orang semakin kritis. Setiap fenomena bisa didiskusikan sebab dan akibatnya tanpa menghilangkan satu sisi informasi lainnya demi pembenaran sudut pandang sepihak. Sejarah akan lebih sulit dibengkokkan jika tersedia informasi terbuka lainnya sebagai referensi.

SAMSUNG

Suasana bazar makanan Indonesia saat memperingati Hari Kemerdekaan RI di Sydney. Foto: Dokumentasi pribadi

Kebebasan Manusia Dewasa

Tidak saja keterbukaan informasi yang bersifat umum terjamin, tapi juga keterbukaan informasi yang bersifat khusus untuk kepentingan pribadi.  Buku-buku, majalah atau video khusus orang dewasa juga tersedia dengan terbuka bagi kalangan yang cukup umur.
Tersedianya informasi bagi orang dewasa tersebut diatur dengan ketat. Terbuka bukan berarti bebas. Jika secara fisik dilihat cukup umur, masuk ke tempat-tempat khusus dewasa tersebut tidak akan ditanya kartu identitas diri. Tapi bila secara fisik terlihat masih muda, jangan diharap bisa masuk tanpa bukti diri.

Pemerintah tidak ingin campur tangan mengatur kehidupan pribadi seseorang yang dianggap telah cukup umur. Selera seks, tingkah laku seks, kebiasaan seks dan sebagainya diserahkan pada masing-masing individu dewasa untuk memutuskan di ruang privacynya masing-masing. Kehidupan seks adalah kehidupan setiap manusia dewasa. Terasa aneh jika pemerintah melarang orang dewasa untuk melihat atau membaca masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan pribadi seorang yang cukup umur.  Bagai melarang kakek dan nenek untuk lihat video porno.

Tempat perjudian atau penjual alkohol (bar, pub, diskotik) juga terbuka bagi kalangan yang cukup umur. Aturan penggunaan alkohol sangat ketat dan keras. Demikian juga tempat perjudian ada aturan-aturan yang menghalangi orang untuk bermain judi secara berlebihan. Kampanye kesadaran akibat perjudian dan fasilitas konseling bagi orang yang ketagihan judi juga disediakan pemerintah.  Aturan memang dibikin untuk dilanggar. Dimanapun hal ini bisa terjadi. Tapi tidak berarti dilarang sama sekali. Kecenderungan manusia, semakin dilarang semakin penasaran.

Hal yang amat terlarang adalah jika aktivitas seksual melibatkan individu di bawah umur. Hukumnya sangat keras bagi pelanggar. Keluar dari penjara pun juga masih diikuti gerak-geriknya. Pelanggar kejahatan seks terhadap anak bawah umur dilarang mendekati sekolah atau tinggal dekat dengan sekolah anak-anak. Mereka dilarang terlibat dalam kegiatan yang pesertanya anak di bawah umur.

Masalah narkoba juga amat dilarang. Masalah narkoba bisa dikatakan sebagai tempat bersumbernya tindakan kriminal.

Masyarakat Indonesia mengadakan acara bersama. Foto: Dokumentasi pribadi.

Masyarakat Indonesia mengadakan acara bersama. Foto: Dokumentasi pribadi.

Jaminan Pendidikan

Meski pemerintah menjamin pendidikan bagi semua orang, namun tidak semua orang tertarik pada bidang pendidikan ini. Ada kasus-kasus dimana orangtua enggan menyekolahkan anak-anaknya.  Kasus paling besar terjadi di kalangan suku Aborigin. Faktor pendidikan belum dianggap sebagai unsur penting dalam kehidupan mereka yang dekat dengan alam. Jika ada suku Aborigin yang bisa lulus SMA dan bekerja adalah sesuatu yang luar biasa.

Pendidikan di perguruan tinggi dulu tersedia gratis bagi semua orang.  Karena subsidi pemerintah dalam pendidikan makin tahun makin berkurang, kini individu harus membayar. Bisa bayar lunas atau hutang dengan mencicil dengan bantuan pemerintah dan dikembalikan nanti setelah bekerja lewat pemotongan pajak penghasilan.

Batasan umur untuk masuk ke universitas tidak ada. Demikian juga jenjang pendidikan tidak harus lulus SMA dulu. Individu yang ingin masuk ke universitas meski sudah tergolong setengah umur bila punya pengalaman yang sesuai diperbolehkan ikut kuliah. Ada seorang penyair yang tidak lulus SD tapi bisa kuliah lagi hingga punya gelar doktor. Hal demikian tidaklah asing. Mature age student, itu istilah bagi individu yang telah lewat umur tapi ingin belajar di universitas. Mereka tidak harus lewat test khusus.  Cukup membuktikan bahwa mereka punya pengalaman yang sesuai dengan bidang yang hendak dipelajari.

Bagi para pensiunan atau bagi kalangan yang ingin menyibukkan diri dengan belajar hal baru juga disediakan oleh berbagai instansi.  Kursus-kursus pendek ditawarkan sepanjang tahun. Setiap orang bebas untuk ikut sesuai bidang yang diinginkan. Pemerintah membantu mereka dalam hal bea kuliah lewat subsidi. Bagi para pensiunan biasanya gratis. Para pensiunan (senior citizen) dianggap orang yang telah berjasa saat muda.  Mereka telah bekerja keras dan menyumbang pajak bagi negara.  Jadi adalah kewajiban negara untuk membantu mereka setelah mereka pensiun.

Jaminan Sosial

Setiap penganggur dapat tunjangan dari pemerintah.  Tiap dua minggu sekali mereka dikirimi uang ke rekening mereka oleh pemerintah. Dan tidak dua minggu sekali mereka harus datang ke kantor dinas sosial dan tenaga kerja dan membuktikan bahwa mereka secara aktif berusaha mencari pekerjaan. Kalau tidak bisa membuktikan hal ini, maka tunjangan sosialnya akan dihentikan.  Jadi tidak melulu duduk-duduk digaji pemerintah.

Tunjangan dari pemerintah tersebut jumlahnya amat minim sekali.  Hanya cukup bahkan sekedar pas untuk memenuhi kebutuhan pokok bagi satu individu. Hampir dipastikan tidak akan ada uang sisa pada akhir dua mingguan.  Kecuali tidak membayar sewa kost atau beli makanan.

Demikian juga sama halnya bagi para pensiunan.  Semua orang berhak mendapatkan tunjangan pensiun ini. Tapi jumlahnya hanya cukup atau pas untuk hidup selama dua minggu saja. Jika seseorang tidak punya tabungan cukup sebagai penopang saat pensiun, menggantungkan tunjangan dari pemerintah saja amat mepet dan serba terbatas untuk bisa hidup dengan nyaman. Karena alasan inilah, setiap orang yang bekerja gajinya dipotong wajib untuk dana pensiunannya.

Setiap orang yang bekerja juga wajib dipotong gajinya lewat sistem pajak untuk dana kesehatan.  Untuk saat ini besar pajak tersebut diperkirakan akan naik jadi 2% dari jumlah penghasilan. Di Australia gaji pekerja dibayar tiap minggu, dua minggu atau sebulan sekali tergantung perusahaan dan persetujuan karyawan.

Potongan pajak untuk kesehatan tersebut memungkinkan bahwa setiap orang tidak dipungut beaya jika ketemu dokter umum atau masuk rumah sakit pemerintah.  Memang tidak semuanya gratis, ada bagian-bagian tertentu tidak dijamin dalam asuransi kesehatan pemerintah tersebut.  Misalnya kunjungan ke dokter gigi atau optometris adalah dua hal yang tidak dijamin oleh asuransi kesehatan pemerintah.

Rasa Aman

Australia adalah negara liberal dan sekuler yang menjamin kebebasan hak dan pendapat masing-masing individu.  Untuk menjamin kebebasan masing-masing individu agar tidak saling tabrak antar-etnis, antar-agama, antar-suku, maka hukum-hukum positif berlaku buat semua sama rata.  Jaminan atas berlakunya hukum positif inilah yang menjamin rasa aman bagi individu. Ia tidak akan dinilai berdasar SARA.  Setiap orang dinilai atas perbuatannya dan bukan atas keyakinannya.  Setiap orang dinilai sama rata tidak tergantung pakaiannya.  Orang yang berpakaian compang-camping punya kedudukan sama dengan orang yang memakai atribut-atribut agama yang gemerlap.  Semua punya kedudukan sama di muka hukum. Semua bisa hidup berdampingan tanpa melihat latar belakang SARA-nya. Kecuali jika memang individu tersebut ingin hidup eksklusive maka negara tidak bisa menghalangi asal tidak melanggar aturan hukum positif.

Hukum positif begitu banyak mengatur berbagai bidang kehidupan. Hampir setiap sisi kehidupan tidak ada yang terjamah begitu memasuki ranah sosial. Begitu seseorang keluar dari rumahnya, ia harus berpikir tentang hukum-hukum yang bisa menjeratnya. Bahkan dalam rumahpun jika tidak hati-hati bisa terjerat hukum. Misalnya seseorang menaruh barang sembarangan di rumahnya dan mencelakakan seorang pencuri, bisa saja pemilik rumah ikut masuk penjara atau kena denda.  Memang kesannya keterlaluan. Tapi begitulah cara hukum positif melindungi setiap warga negaranya. Tidak peduli apakah ia lagi bertindak sebagai orang normal atau pencuri sekalipun tetap dilindungi. Seorang yang mencuri tidak secara gebyah uyah pasti moralnya jelek dan pantas digebuki rame-rame.

Masyarakat Indonesia saat bakti sosial menyumbangkan darah. Foto: Dokumentasi pribadi.

Masyarakat Indonesia saat bakti sosial menyumbangkan darah. Foto: Dokumentasi pribadi.

Banyaknya aturan dan hukum-hukum positif yang tegas dan tanpa pandang bulu membuat orang berpikir dua kali untuk bertindak gegabah atau merugikan orang lain.  Nilai moral tidak bersumber pada agama tapi multi dimensi. Namun bukan berarti moral agama atau praktek-praktek positif dari agama diabaikan begitu saja oleh negara.  Pemerintah menghargai tingkah laku sosial yang dianggap baik dari sudut moral agama selama tidak melanggar hukum positif negara.  Moral dari agama selalu melahirkan diskusi panjang begitu memasuki ranah sosial.  Namun pada akhirnya moral yang terkandung dalam hukum positif selalu punya kedudukan paling menentukan.

Sistem dan birokrasi yang relatif berjalan baik membuat orang merasa nyaman untuk menyelesaikan segala urusan. Masalah sosial, ekonomi, politik ada jalur-jalur khusus dan jelas. Asal tidak melanggar hukum, negara tidak akan bisa berbuat banyak untuk turut campur dalam kehidupan pribadi.  Setiap orang punya kesempatan sama. Negara mengembalikan pada masing-masing individu untuk mengaktualisasikan dirinya. Kerja keras mendapat pengakuan secara otomatis. Bagi masyarakat umum, jika ingin uang lebih harus dengan cara kerja keras dan tidak dengan cara menipu atau korupsi. Jika tidak punya skill atau ketrampilan pemerintah menyediakan berbagai fasilitas untuk mendapatkan ketrampilan yang diperlukan. Jika cacat dan tidak bisa bekerja, pemerintah akan membantu dengan tunjangan, latihan ketrampilan dan mencarikan pekerjaan yang sesuai dengan keadaan cacatnya.

Keamanan lainnya adalah terjaminnya hak-hak konsumen. Jika konsumen dirugikan, produsen bisa kena denda nggak kepalang tanggung. Apalagi jika sampai menyebabkan seseorang hingga menderita cacat atau meninggal dunia. Dendanya bisa segunung.  Komplain dan menuntut ganti rugi adalah sebuah kebiasaan.  Siapapun bisa dituntut bila lalai dan merugikan orang lain, termasuk pemerintah sendiri.

Masyarakat Indonesia di Sydney mengadakan acara keluarga bersama makan-makan di taman umum. Foto: Dokumentasi pribadi.

Masyarakat Indonesia di Sydney mengadakan acara keluarga bersama makan-makan di taman umum. Foto: Dokumentasi pribadi.

Penutup

Satu hal lagi yang membedakan adalah budaya rasionil masyarakat barat. Masalah-masalah umum diselesaikan dengan logis dan rasionil. Moralitas bersumber dari hukum dan moralitas umum. Kalau dicubit sakit, jangan mencubit orang lain.

Budaya logis dan rasionil ini memungkinkan orang untuk adu argumentasi tanpa menyinggung usia, jenis kelamin, status sosial, pangkat drajat atau rasa keyakinnya. Manusia pada hakekatnya sama.  Maka tidak perlu rasa ewuh pakewuh, sungkan, merasa kecil atau merasa direndahkan. Setiap orang merasa dilindungi hak-haknya.  Jika bergesekan haknya tinggal diadu lewat jalur formal hukum positif.

Barangkali yang bisa dipetik selama tinggal di negara barat adalah cara berpikir yang rasinil dan logis. Jaminan kesamaan hak. Ethos kerja yang meninggikan nilai profesionalisme dan efisiensi. Tidak ada pekerjaan yang rendahan atau hina. Semua pekerjaan dianggap sebagai profesi dan harus dikerjakan secara profesional pula.  Agama jarang ditanyakan dalam isian formulir dimanapun yang berkaitan dengan masalah umum. Usia bukan halangan untuk ikut aktif di lapangan kerja atau pendidikan.

Jadi kalau orang bertanya, “Senang ya hidup di luar negeri?”. Jawabnya adalah relatif dan subyektif.  Masalah senang atau susah sebenarnya tergantung pada apa yang ada di hati dan tidak tergantung pada faktor eksternal atau dunia luar. Orang kaya bisa senang dan bahagia. Orang miskin juga bisa senang dan bahagia. Rasa senang atau susah bukan hak milik golongan, kelas sosial atau tingkat ekonomi. Hidup dimana pun sama. Tergantung bagaimana kita menyiasatinya.  Kita tetap saja manusia dengan nafsu dan keinginan.

Sebagaimana dimana pun sistem sosial, pasti ada kelemahan dan kelebihannya. Artikel ini hanya mengupas selintas kelebihan sistem sosial di barat. Kelemahan sistem sosial di barat juga banyak. Sifat konsumtif, individualis, materialistik adalah sebagian saja sisi negatif sistem sosial di budaya barat. Banyak hal negatif lainnya yang perlu dikupas lewat tulisan lain secara tersendiri.

Jadi ada juga tidak enaknya tinggal dan hidup di luar negeri. Banyak sekali alasannya kenapa kok tidak enak.  Yang jelas warung nasi pecel, nasi jotos, nasi uduk atau warung goyang lidah lain yang cocok dengan perut orang Indonesia tidak bisa didapat di sembarang tempat.  Apalagi acara radio siaran wayang kulit semalam suntuk. Tidak ada itu. Kedengarannya amat sederhana.  Tapi kesederhanaan kadang malah dirindukan dan membawa kebaikan. Kita sering mengabaikan hal ini.*** (HBS)


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: