h1

Dinginnya Jeruji Besi, Ketuk Hatinya

May 2, 2013

OPINI | 03 May 2013 | 06:43 Dibaca: 8   Komentar: 0   Nihil

Jack ( nama samaran ) adalah preman dari kampung sebelah yang cukup ditakuti. Usianya masih tergolong muda sekitar 30-35 tahun. Sejak di bangku SMP ia sudah menjadi anak yatim. Sang ayah meninggal karena penyakit kronis yang menggerogoti tubuhnya selama bertahun-tahun.

Di kampungnya Jack dikenal sebagai pemuda yang sering membuat onar. Perilakunya cukup membuat warga resah. Mabuk-mabukan, tawuran, dan berjudi adalah kegemarannya. Beberapa kali ia terlibat dalam banyak kasus kriminal, namun mujur selalu lolos dari jerat hukum. Hampir setiap ada kekisruhan di kampungnya melibatkan dirinya. Tak pelak jika warga mengecapnya sebagai Begundal desa.

Pada pertengahan tahun 2012 petualangannya berakhir. Nasib sial sedang menimpanya. Ia dibekuk polisi bersama temannya setelah kedapatan mencuri disebuah gudang pabrik. Beruntung, petugas tidak melayangkan timah panas sebab tidak melakukan perlawanan ketika digrebek. Polisi menggiringnya untuk selanjutnya diproses hukum.

Atas perbuatannya, ia diganjar tujuh bulan kurungan penjara. Warga desa menyambut gembira atas berita tersebut. Bahkan tak ada simpati dari keluarga dan kerabatnya. Benar saja, perilaku Jack memang membuat keluarga kesal. Keluarga berharap atas kejadian ini ia menjadi sadar.

Walaupun hanya tujuh bulan mendekam di penjara bukanlah waktu yang singkat. Sehari serasa seminggu, sebulan serasa setahun, waktu berputar begitu lambat, kata orang begitu. Terlebih, hidup di Bui sangatlah tersiksa. Makan seadanya, tidur tak bertikar, nyamuk-nyamuk pun menjengkelkan. Belum lagi dinginnya jeruji besi seakan menusuk tulang. Waktu ke waktu hanya menghitung hari kapan aku pulang.

Hari yang dinantipun tiba. Tujuh bulan telah berlalu. Kini Jack bisa menghirup udara bebas dan berkumpul dengan keluarganya. Matanya berkaca-kaca, mulutnya tak dapat bicara ketika berjumpa sang Ibu. Seakan ingin mengatakan “ Maafkan aku Ibu “.

Pengalaman tujuh bulan hidup di Bui membuatnya Jera. Dinginnya dinding penjara ternyata menyadarkan hatinya. Ia berjanji sumpah tujuh turunan tidak akan pernah mengulangi perbuatannya. Kini, Jack telah insyaf. Hari-harinya banyak ia gunakan untuk mendekatkan diri dengan sang Kholiq. Ia kini berguru pada seorang ulama untuk memperdalam ilmu agama. Alhamdullilah, engkau telah kembali ke jalan yang benar, Jack..

Salam ( Rahardi Widodo )

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: