h1

Bahasa Indonesia, Masyarakat, dan Pemuda

May 7, 2013

Mungkin jarang kita sadari bahwa kita beruntung telah di lahirkan di sebuah bangsa dengan keanekaragaman yang luar biasa. Di sekitar kita dapat dengan mudah kita jumpai berbagai keanekaragaman, dan entah kita sadari ataupun tidak kita pun merupakan bagian dari keanekaragaman itu sendiri. Perbedaan diciptakan Tuhan bukan untuk memecah belah kita, justru semuanya Ia ciptakan agar kita dapat bersatu atas nama perbedaan yang ada diantara kita.

Keanekaragaman di bangsa ini, meliputi berbagai hal dan hampir menyeluruh. Suku, ras, budaya, etnis, bahasa, dan adat menjadi sebuah contoh mendasar, seperti apakah keberagaman di bangsa kita ini.

Tidak akan ada persatuan tanpa adanya komunikasi, dan tidak ada komunikasi tanpa hadirnya bahasa. Tentu bukan perkara mudah menjembatani 248 juta orang dengan wilayah yang terbagi dalam belasan ribu pulau dan 726 bahasa daerah, untuk bersatu menggunakan bahasa persatuan. Namun tembok tinggi kokoh bernama “ketidakmungkinan” itu berhasil diruntuhkan dengan kehadiran bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Kristalisasi darah dan keringat para pejuang ketika dahulu untuk berbahasa Indonesia saja harus sembunyi-sembunyi, berimbas baik pada kemajuan bahasa persatuan Indonesia di masa sekarang.

Mungkin seperti sebuah ironi disaat ini banyak diantara kita terutama golongan anak muda khususnya kalangan pelajar, justru memiliki nilai kuantitatif ujian nasional untuk mata pelajaran bahasa asing yang lebih baik ketimbang bahasa Indonesia, sekalipun terdapat tingginya intensitas penggunaan bahasa persatuan ini dikalangan pelajar. Memang taraf kebahasaan bukanlah dinilai dari seberapa besar nilai yang didapatkan siswa di sekolah, melainkan dari seberapa besar rasa hormat mereka terhadap bahasa pemersatu lebih dari 248 juta orang ini. Tetapi apakah tidak mengherankan jika bangsa lain saja mulai menyadari eksistensi bangsa ini, dengan mulai mempelajari bahasa Indonesia sedangkan kita sendiri meletakkan bahasa Indonesia sebagai dinding tempat bersembunyi demi identitas pengakuan untuk mendapat label sebagai anak bangsa?

Dikalangan mayarakat pun terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam berbahasa. Banyak penggunaan bahasa yang sebenarnya kurang tepat dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar namun justru dinilai sebagai sesuatu yang tepat. Tingginya intensitas pemakaian bahasa yang kurang tepat tersebut, menciptakan mindset bahwasanya kesalahan tadi merupakan suatu kebenaran mengingat begitu seringnya visual maupun auditori masyarakat menerima berbagai kata ataupun kalimat tesebut.

Bahasa Indonesia bukanlah hanya tentang penggunannya, tetapi juga tentang penjiwaan serta pembawaan sifat orang yang menggunakannya. Tameng emas serta pisau bermata berlian dalam berbahasa Indonesia menjadi penyebab mengapa terdapat tingginya intensitas penggunaan bahasa Indonesia disekitar kita namun tanpa diimbangi dengan kualitas yang baik dalam berbahasa.

Tidak selamanya besi berkarat akan terus berkarat, sedikit tempaan akan membuatnya kembali tak berkarat, begitulah semestinya bahasa Indonesia. Memang tak mudah memperbaiki kesalahan berbahasa yang sudah mendarah daging bahkan hingga dianggap menjadi sebuah hal yang lazim di masyarakat. Semuanya perlu berperan aktif dalam rangka perbaikan berbahasa di masyarakat, terlebih seorang publik figur yang merupakan salah satu sosok sentral dalam penyebaran bahasa terutama artis, pemerintah, dan bahkan para pendakwah ataupun missionaris.

Dikalangan para pelajar, khusunya pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA), menyadari betul pentingnya berbahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Namun sikap dari sebagian pelajar tersebut tidak mencerminkan demikian, bahkan mulai dari hal yang paling sederhana. Misal banyak pelajar yang justru menyepelekan dan menganggap enteng pelajaran bahasa Indonesia dengan lebih memilih bercanda dengan kawannya atau justru tidur saat guru sedang menerangkan mata pelajaran bahasa nasional ini.

Orangtua para pelajarpun masih menganggap bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Contoh sederhananya mayoritas orangtua siswa lebih memperhatikan nilai-nilai anaknya untuk mata pelajaran bercorak eksak seperti Matematika, Fisika dan sebagainya. Dan lebih jauh lagi, orangtua siswa pun kebanyakan lebih bangga anaknya mendapatkan nilai kuantitatif tinggi untuk mata pelajaran bahasa asing seperti bahasa Inggris, bahasa Jepang, bahasa Perancis, dan lain sebagainya ketimbang bahasa Indonesia. Hal ini mungkin terjadi karena dinilai bahasa asing tersebut lebih menjanjikan kehidupan baik untuk masa mendatang ketimbang bahasa Indonesia.

Begitu kurang diperhatikannya pendidikan bahasa Indonesia, semakin tampak ketika melihat banyak guru terutama di sekolah dasar mayoritas bukanlah guru dengan pendidikan bahasa Indonesia. Kebanyakan mereka hanya merangkap sebagai guru bahasa Indonesia disamping mata pelajaran keahliannya, demi menutupi kekurangan guru untuk mata pelajaran bahasa nasional tersebut.

Terlepas dari bagaimana peran bahasa Indonesia dalam sistem pembelajaran di sekolah, bahasa Indonesia pun memiliki berbagai macam keunikan yang mungkin tidak banyak dimiliki oleh bahasa asing. Hal ini dapat kita temukan dengan mudah langsung di daerah-daerah. Tentu orang di suatu daerah atau suku lebih sering menggunakan bahasa daerahnya daripada bahasa Indonesia. Mereka menggunakan bahasa Indonesia hanya ketika berkomunikasi dengan orang yang bukan satu suku yang tidak menguasai bahasa daerah setempat. Uniknya masyarakat setempat tetap tidak akan kehilangan identitasnya sebagai warga daerah dengan masih menyisakan sedikit logat ataupun gaya bicara yang identik dengan bahasa daerahnya saat ia berbicara dengan bahasa Indonesia. Sebagai contoh saat berbicara dalam bahasa Indonesia, orang Jawa tentu masih menyisakan logat medhok-nya; orang Banyumas masih memiliki nada khas ala ngapak-nya; orang Irian, Maluku, dan Nusa Tenggara dengan kata-kata bertempo cepatnya; dan masih banyak lagi contoh yang lainnya. Hal ini tentu saja merupakan suatu yang unik tatkala perbedaan-perbedaan logat tadi tidak menghalangi kita untuk tetap mengagungkan bahasa persatuan nusantara, bahasa Indonesia.

Keunikan tentang bahasa Indonesia pun tak hanya terhenti sampai di wilayah nasional saja. Dikancah internasional bahasa Indonesia juga memiliki keunikan yang membanggakan. Dalam ranah olahraga misalnya, di cabang balap motor MotoGP, terdapat tulisan berbahasa Indonesia yang dengan jelas tertulis di motor dan helm pembalap pabrikan Yamaha dengan tulisan “semakin di depan” dan motor pembalap pabrikan Honda yang bertuliskan “satu hati”. Mungkin memang dari hal kecil semacam itulah kita dapat sedikit membuka mata dunia akan eksistensi bahasa kita ini di mata masyarakat internasional. Mengingat sebenarnya Negara kita memiliki potensi besar untuk menjadi Negara maju dan segera beranjak dari label Negara berkembang yang selama ini melekat erat di nama sang Negara zamrud khatulistiwa.

Bahasa Indonesia merupakan fenomena, sekaligus anugerah dari sang maha pencipta. Bahasa persatuan ini sudah seharusnya kita tanam dalam hati kita, kita rawat dan kita jaga, hingga ia tumbuh dengan kokoh diatas akar kuat yang mencengkeram erat hati kita, serta batang yang kokoh dalam rimbunan dedaunan lebat. Yang bahkan sekalipun ditebang ataupun dipotong tetap akan terus tumbuh tanpa terpengaruh kematian. Sampai pada suatu hari akan berbuah, lalu masak dan dapat kita petik untuk kita rasakan kemanisan serta manfaatnya.

Inilah bahasa kita, bahasa persatuan, bahasa kebanggan, bahasa kebangsaan dan bahasa luhur yang sudah ada sejak entah kapan dan sampai kapan. Sudah seharusnya kita jaga dan kita rawat tanpa mempermasalahkan perbedaan yang ada diantaranya. Jika bukan kita lantas siapa lagi yang akan merawatnya? Inilah tugas kita semua sebagai warga Negara pengagung garuda, berjiwa merah-putih, berhati luas layaknya nusantara, bertekad kuat layaknya baja dengan tetap menjaga kesucian Bhineka tunggal Ika, ditanah surga tanah air beta, dan tetap bangga menjadi bagian dari warga masyarakat Negara Indonesia raya.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: