h1

UN Terlambat, Cita-Cita Terhambat?

May 5, 2013

Demam Ujian Nasional (UN) sedang melanda seluruh pelosok nusantara. Berbagai media dari televisi, spanduk, surat kabar, hingga twitter presiden pun membicarakan mengenai UN. Berbagai polemik muncul dalam penyelenggaraan UN, yang sebenarnya sudah menjadi masalah yang turun temurun dari tahun ke tahun. Diantaranya adalah penentuan standar kelulusan, soal bocor, penundaan ujian, soal tak lengkap, dan serba serbi pro kontra diadakannya UN. Bahkan, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut berkomentar mengenai UN. Beliau tidak setuju dengan adanya UN sebagai alat untuk mengevaluasi pendidikan yang berlangsung selama beberapa tahun, beliau menganggap UN hanya membuat siswa menjadi stress, karena menurutnya UN lebih berfokus kepada hasil, bukanlah proses.

Pendidikan Spesialistik vs Komprehensif

Penetapan standar minimal kelulusan pada UN ternyata menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Hal ini secara tidak langsung menimbulkan dua kubu di dalam masyarakat yaitu masyarakat yang pro “ spesialistik” dan masyarakat yang pro “ komprehensif”. Pendukung “ spesialistik” meyakini bahwa pendidikan yang baik adalah pendidikan yang terjurus, dan terarah sedini mungkin. Mereka meyakini bahwa manusia bukanlah makhluk sempurna yang mampu unggul dalam segala aspek kehidupan. Mereka mencontohkan bahwa ketika manusia menulis, hasil tulisannya akan lebih bagus jika dibandingkan dengan menulis sembari berbicara. Selain itu mereka membandingkan dengan kehidupan binatang. Seekor katak yang ahli melompat, tidak akan semahir elang dalam terbang, boleh jadi dia mendapat nilai rendah dalam pelajaran terbang tetapi tidak untuk melompat. Mereka berfikir demikian pula dengan UN, seorang siswa yang suka mempelajari Bahasa Indonesia, bercita-cita menjadi ahli bahasa, sangat mungkin tidak menyukai dan mendapat nilai rendah di pelajaran matematika bahkan kurang dari standar kelulusan. Hal ini dirasa tidak adil bagi penganut pendidikan “spesialistik” jika pada akhirnya mereka tidak lulus.

Berbeda dengan penganut pendidikan spesialistik, penganut pendidikan “ komprehensif” menyetujui standarisasi nilai kelulusan pada masing-masing mata pelajaran yang dijadikan bahan ujian. Mereka bersepakat, bahwa untuk survive dalam kehidupannya seseorang membutuhkan banyak ilmu, dan tidak hanya terfokus pada suatu ilmu. Terfokus dalam satu ilmu, akan menjadikan siswa seperti katak dalam tempurung. Penganut pendidikan yang menyeluruh ini melandaskan pemikirannya pada kecerdasan multipel yang seharusnya dimiliki oleh seorang manusia. Mereka berpendapat, seorang ahli bahasa pun memerlukan matematika, fisika, dan kimia dalam hidupnya. Dan untuk menjadi seorang yang kompeten, siswa seharusnya kompeten di segala bidang.

Evaluasi pendidikan berdasarkan kompetensi utama dan pendukung

Baik penganut pendidikan spesialistik dan komprehensif, masing-masing memiliki kelebihan dan kekuragan. Tetapi ada baiknya jika model pembelajaran di jenjang dasar menilik model pembelajaran di perguruan tinggi. Sama dengan model pemebelajaran di jenjang dasar, perguruan tinggi juga menerapkan model pembelajaran dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Hanya bedanya, untuk menentukan suatu kompetensi pada perguruan tinggi, terlebih dahulu dilakukan pengkajian profil lulusan. Terdapat tiga macam kompetensi, kompetensi dasar, pendukung, dan lainnya. Kompetensi dasar adalah kompetensi yang harus ada pada masing-masing fakultas dan sama di Indonesia. Kompetensi pendukung adalah kompetensi yang menjadi ciri dari suatu universitas sebagai pendukung kompetensi utama dan kompetensi lainnya adalah kompetensi tambahan lain yang dianjurkan untuk mahasiswa. Fakultas Kedokteran misalnya, menginginkan profil lulusan sebagai seorang dokter. Berbagai kompetensi yang diperlukan untuk mendukung performa seorang dokter diajarkan dan terdapat standar sebagai seorang dokter melalui Uji Kompetensi Dokter Indonesia. Pada kenyataannya, terdapat juga dokter yang juga menjadi wirausahawan seperti mendirikan klinik dan rumah sakit. Kompetensi kewirausahaan ternyata juga diperlukan oleh seorang dokter, oleh karena itu kompetensi pendukung ini juga diselipkan dalam perkuliahan meskipun tidak diadakan uji kompetensi mengenai kewirausahaan.

Pada saat ini, kompetensi dasar pada jenjang SD, SMP, dan SMA meliputi mata pelajaran yang harus ada pada masing-masing sekolah. Sedangkan kompetensi pendukung direalisasikan sebagai muatan lokal atau mata pelajaran pilihan seperti Bahasa Jerman, Bahasa Jepang, maupun Tata Boga. Hal ini tentu masih sangat general dan menimbulkan overlapping dalam evaluasi siswa. Secara tidak langsung siswa dikatakan kompeten jika mampu menguasai berbagai macam mata pelajaran seperti matematika, fisika, kimia, bahasa, dan lainnya. Padahal boleh jadi minat seorang siswa adalah scientist di bidang fisika, dan sangat memungkinkan siswa tersebut tidak berminat terhadap bahasa. Diperlukan evaluasi yang bijaksana untuk menentukan kompeten tidaknya seorang siswa. Dan tentunya hal tersebut dapat terselenggara jika dilakukan perubahan dalam sistem pendidikan. Ada baiknya, jika sedini mungkin siswa terfokus kepada minat dan bakat yang disukainya, tetapi tetap didukung dengan kompetensi-kompetensi yang dapat mengembangkan minat dan bakat siswa tersebut. UN adalah sarana evaluasi dalam suatu proses pembelajaran. Jangan sampai yang terjadi malah sebaliknya, adanya UN yang terlambat, tidak tepat sasaran, malah  menghambat cita-cita siswa.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: