h1

Soal Sapi Impor, Biarkan Marah Sampai Mati Jak!

May 12, 2013
13683945831274396221

Sapi. Photo, shutterstock.com

Hari demi hari dalam sebulan terakhir, koran, teve, majalah dan radio memainkan gending kemarahan dan gong cemoohan pada salah satu partai Indonesia terkait impor sapi Australia yang kata Komisi Pengawasan Persaingan Usaha (KPPU) melibatkan kartel dalam impor tersebut.

Tapi, kalau mau jeli, pangkal persoalan besar bukan masalah kartel sebenarnya, sebab jika laporan Kompas pada  Ahad, 12 Mei 2013, benar dan bisa dipercaya, maka dibalik itu ada cerita besar mengenai invasi dan penjajahan yang tengah dilancarkan oleh pemerintah Australia. Dan untuk itu Canberra punya cukup amunisi dan berpengalaman memainkan senjata sapi dan mendikte kebijakan atas negara-negara yang lemah dalam kemandirian pangan seperti Indonesia.

Menurut Kompas, pada Ahad, 12/05/13, dua menteri pertanian dari negara bagian Queensland dan Northern Territory berkunjung ke Jakarta guna menyakinkan Jakarta untuk menaikkan kuota impor sapi.

Berita bilang, Menteri Pertanian Queensland John McVeigh, dan Menteri Industri Utama dari Northern Territory Westra van Holthe, akan melakukan kunjungan ke berbagai tempat seperti rumah penjagalan hewan, pasar tradisional dan bahkan supermarket, guna melihat bagaimana orang-orang Jakarta memanusiakan sapi Australia di Indonesia.

Kompas bilang, tahun 2011, pemerintah Federal Australia melarang eskpor sapi ke Indonesia, menyusul adanya laporan jika orang Indonesia mati rasa dalam memanusiakan hewan dan membunuh sapi-sapi Australia itu dengan kejam, lebih kejam dari cerita fiksi Holocaust, lebih kejam dari fiksi besar pembantaian orang-orang Yahudi di Eropa.

Mungkin sebagian orang ingin segera bertanya: kenapa Australia begitu peduli pada nasib sapi potong di saat mereka jarang menunjukkan kepedulian pada manusia yang mati kena sambar bom, pelor, dan mortir? Bukankah yang terakhir adalah cerita rutin invasi haram pasukan pendudukan pimpinan Amerika Serikat atas Afghanistan dan Irak dalam satu dekade terakhir – dan ribuan serdadu Australia termasuk di dalamnya?

Tidakkah pula kejinya pendudukan oleh pasukan asing itu – termasuk oleh tentara Australia hingga detik ini – telah menyamai debur ombak yang membasahi pasir di tepi pantai, namun publik Australia kukuh mengikhlaskan sebagian uang pajak mereka untuk membiayai perang atas negara berdaulat?

Pemerintah Australia nampaknya menganggap invasi, penjajahan dan cerita kelam pembunuhan warga sipil sebagai sesuatu yang wajar, tapi tidak untuk sapi mereka, karenanya Canberra mengutus dua pejabat teras langsung untuk melakukan investigasi pelecahan atas hak-hak sapi Australia.

Sebenarnya, semua rencana besar Canberra dengan mudah bisa dibaca. Bahwa Australia ingin memastikan Indonesia berada dalam siklus ketergantungan yang panjang seperti ketergantungan Mesir pada sapi-sapi Australia pada tahun 2006.

Sebab, indikasi itu jelas dan gamblang terbaca saat mereka memahami keinginan Jakarta untuk mencapai swasembada daging pada 2014. Jika sukses, swasembada berarti susutnya penerimaan Australia dan ini sekaligus kiamat kecil bagi puluhan ribu warga Australia yang menggantungkan hidupnya dari ekspor sapi dan daging beku ke Indonesia.

Dengan invasi dua pejabat pilar Australia ke Jakarta Ahad ini, maka Jakarta kini hanya punya dua pilihan: 1. tunduk pada skema invasi Canberra seperti Mesir takluk pada kuasa dan tekanan Australia, atau; 2. menggiatkan langkah swasembada daging dan sapi potong dan membiarkan Canberra merepet sampai mati. []


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: