h1

H. Anton Abdullah: IMI Jatim Butuh Ketua Berkomitmen dan Cerdas

May 8, 2013

Dunia otomotif baginya telah menjadi rumah kedua. Ini dirasakan hingga usianya yang sudah mencapai kepala enam. Itu terjadi lantaran dunia otomotif yang digeluti sejak duduk di bangku SMA, telah memberinya beragam pelajaran, yang bermanfaat untuk menapaki kehidupan. Dunia otomotif mengajarinya berjiwa loyalis terhadap pimpinan, bersikap sportif dan solidaritas tinggi terhadap sesama. Karena itu, H. Anton Abdullah menegaskan, bahwa dunia otomotif akan menjadi bagian hidupnya selama dia masih mampu menggeber gas motor dan menjejak pedal gas mobil.

13680504181520543482

DUNIA KEDUA. Mantan pereli nasional H. Anton Abdullah (63 tahun) tak bisa lepas dari dunia otomotif, karena otomotif telah menjadi dunia kedua yang memberinya banyak pelajaran tentang kehidupan.

MENJADI atlet otomotif telah menjadi obsesi H. Anton Abdullah sejak remaja. Karena itu, saat duduk di bangku SMA Negeri 1 Surabaya pada tahun 1965-1967, dia sudah mulai terlibat dalam beragam balapan resmi. Tampil dalam kejuaraan Piala Tugu Muda Race di lapangan udara Tanjung Perak, yang menghasilkan predikat juara. Juga, tampil dalam kejuaraan Simpang Lima Race di Semarang, yang membuat namanya mulai dikenal oleh para pembalap nasional saat itu.

“Awalnya saya dilarang bapak ikut balapan. Beliau khawatir saya ikut balapan liar. Setelah tahu saya ikut balapan resmi dan pulang membawa piala, maka beliau memberi dukungan penuh,” kata pria yang berulang tahun setiap tanggal 15 Februari ini dengan tersenyum.

Sejak mendapat dukungan penuh dari orang tua, maka pria yang kini berusia 63 tahun ini dengan sepenuh hati menekuni dunia balapan. Setelah beranjak dewasa pada tahun 1980-an, Anton Abdullah pun beralih pada dunia balap roda empat. Nomor balap speed rally menjadi pilihannya. Dia pun mulai malang melintang di semua even speed rally dari seri dunia yang dieslenggarakan di Medan, Ujung Pandang hingga seri kejurnas dan regional seperti Paulus Memorial Speed Rally.

Dari kegemarannya berspeed rally itu, maka mulai tahun 1983 hingga 2000 direkrut Tim Djarum Speed Rally. Teman satu timnya juga tidak tanggung-tanggung diantaranya Hutomo Mandala Putra (Tommy Suharto), Dolly Indra Nasution, Alex Asmasoebrata, dan beberapa lainnya. Prestasi yang dibukukan bersama tim Djarum pun juga sangat banyak, diantaranya The Best Driver Nasional 1994. Selain itu, Anton juga banyak mengoleksi piala dari seri Time Rally nasional dan regional.

Namun, suratan takdir berkata lain. Pada 15 Januari 2005, pengusaha ekspedisi ini terpilih sebagai Ketua Umum IMI Jatim periode 2004-2008. Dalam Musda yang digelar di Hotel Santika Jl. Pandegiling, Anton menang membukukan 40 suara, sementara rivalnya Eddy P. Sagala mengantongi 24 suara. Saat Musda 2008, ternyata Anton kembali terpilih untuk periode 2008-2012.

Salah satu prestasi yang dibukukan salah satu pendiri GEMAAS ini, adalah keberhasilan melakukan terobosan dengan membuat rekening IMI Jatim di BCA. Dengan adanya rekening pengprov tersebut, semua dana yang masuk ke IMI Jatim dari pembiayaan rekom penyelenggaraan even dan pengurusan SIM Internasional dapat terdeteksi secara akurat.

“Target saya membuat rekening IMI Jatim sekadar untuk menjaga amanah para anggota klub. Saya tidak ingin ada fitnah terkait keuangan, setelah saya lengser. Karena itu, penarikan dananya tidak bisa saya lakukan sendiri, tapi harus bersama dengan bendahara dan diketahui oleh para pengurus inti. Sehingga keuangan pengprov sangat terkontrol dan auditnya bisa dipertanggungjawabkan,” katanya.

Salah satu terobosan Anton yang mendapat pujian PP, adalah komitmennya sebagai ketua yang zakelijk dan total. Sejak menjabat pimpinan IMI Jatim, dia memutuskan klub even miliknya, Anton Speed Line (ASL) vakum. Tidak menggelar secuil evenpun. Kebijakan itu sebagai bentuk penegakan etika berorganisasi IMI, bahwa penguasa (pengurus IMI) sangat pamali jika menjadi pengusaha (menggelar even otomotif).

13680506761010521681

H. Anton Abdullah (Ketua IMI Jatim) bersama Komjen Pol Nanan Soekarna (Ketua Umum PP IMI) disela-sela Rakernas IMI 2012 di Jakarta.

Disinggung tentang tertundanya Musyawarah Provinsi (Musprov) IMI Jatim dari rencana pada 27 Maret 2013 lalu, menurut dia, karena petunjuk dari Pengurus Pusat (PP) IMI yang ditetapkan dalam Juklak (petunjuk pelaksana) soal Musprov IMI Jatim. Bukan akal-akalan pengurus lama sebagaimana fitnah yang beredar. Selain itu, keputusan mengundur Musprov ini juga merupakan hasil rapat pleno pengurus, yang digelar untuk mensikapi Juklak dari PP dengan terbitnya SK IMI Jatim.

“Secara pribadi, saya sangat senang jika Musprov itu diselenggarakan secepatnya. Lebih cepat lebih baik. Namun IMI Jatim sebagai lembaga dibawah PP, secara organisasi harus patuh. Sebab penerbitan Juklak oleh PP pasti mempunyi tujuan pembinaan,” kata pria yang dua periode memimpin IMI Jatim ini.

Sedangkan latar belakang terbitnya Juklak Musprov yang dilakukan PP itu, dikatakan, sebagai efek domino dari ketidak disiplinan dalam penyelenggara balapan di Jatim. Sumber di PP mengatakan, bahw Ketua PP IMI Nanan Sukarna sangat tidak berkenan atas perilaku klub penyelenggara even, yang tidak mematuhi aturan yang sudah ditetapkan. Mengurus rekom IMI Jatim, selanjutnya mengurus surat izin penyelnggaraan.

Namun, data yang masuk ke PP IMI, ada beberapa even balapan resmi yang diselenggarakan dengan sedikit nakal. Penyelenggara tidak mengurus rekom IMI Jatim, tapi langsung mencoba mengurus surat izin keramaian pada kepolisian setempat. Saat pengurusan ditolak oleh kepolisian, maka klub penyelenggara itu baru melakukan pengurusan rekom IMI Jatim.

Selain itu, PP juga sangat kesal dengan sistem penghapusan poin pembalap yang dilakukan pengurus IMI Jatim, karena pembalap tersebut tidak mengikuti even yang diselenggarakan pengurus tersebut. Padahal tidak ikutnya pembalap tersebut dalam even tersebut, karena tim merk yang diperkuatnya tidak mengirimkan skuad balap.

Sedangkan kemasgulan PP yang paling merangsang terbitnya Juklak tersebut, adalah sterilnya komitmen mayoritas pengurus IMI Jatim dalam memegang amanah klub. Pengurus yang berasal dari klub even, ternyata masih menggelar even. Bahkan jumlahnya lebih banyak dari even yang digelar klub anggota yang bukan pengurus pengprov. Sehingga PP menilai, perebutan menjadi pengurus IMI Jatim lantaran keinginan memuluskan bisnisnya sebagai penyelenggara.

“Berpijak dari terbitnya Juklak PP yang membuat Musporv tertunda, saya berharap KONI Jatim dan klub-klub anggota bersikap dewasa. Dukung dan pilih pengurus yang punya komitmen dan cerdas untuk memajukan prestasi IMI Jatim. Bukan pengurus yang lemah dalam berkomitmen,” ujar Anton yang berharap kedepannya nanti prestasi IMI Jatim tetap sebagai lima besar nasional. @


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: