h1

Ancaman Perang dalam Sebuah Dilema

May 7, 2013

Oleh: Tungga Dewi Winarno Putri

Konfrontasi uji coba nuklir yang dilakukan oleh pemimpin negeri Pyongyang, Kim Jong Un akhir-akhir ini membuat suasana Korea Utara dan Korea Selatan kembali memanas. Negeri yang disebut Goerge W Bush sebagai negeri poros setan ini seolah ingin menunjukkan eksistensi negerinya yang tidak mati. Dengan basis militer yang kuat, Korea Utara masih ingin dipandang oleh seluruh dunia, terlebih dengan Kim Jong Um sebagai pemimpin baru dengan pemerintahannya yang masih seumur jagung.

Francis Fukayama (1992) pernah berpendapat bahwa berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan akhir dari sejarah yaitu titik akhir dari evolusi ideologis manusia dengan demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan. Ideologi inilah yang rupanya masih ditentang oleh Korea Utara karena hingga detik ini tidak pernah ditandatangani suatu perjanjian perdamaian antara Korea Utara dengan Korea Selatan beserta Sekutunya (Amerika Serikat). Hal ini menginisasi bahwa perang dingin ideologi belum berakhir, sejarah masih akan terus mengukir tindak tanduk negara-negara ekstrem ideologis ini. Pertanyaannya, apakah gertakan siaga perang yang dilancarkan Korea Utara akhir-akhir harus ditanggapi serius oleh Korea Selatan dan dunia?

Jika kita menilisik pemerintahan Korea Utara saat ini, pernyataan perang yang dilontarkan Kim Jong Un bisa kita kategorikan sebagai bentuk tindakan dari pengakuan kekuatan pemimpin baru yang ingin dipandang oleh dunia. Korea Utara seakan ingin menunjukan bahwa dengan dipimpin oleh pemimpin yang masih muda, lantas negara nya masih tetap tegas terhadap rival-rival politiknya. Namun, di satu sisi, jika kita perhatikan, ada satu dilema keamanan tersendiri yang dihadapi Korea Utara dan menghasilkan beberapa alternatif strategis yang harus dipilih untuk keberlangsungan kekuatannya.

Cho (2009) menyebutkan bahwa ada 3 hal yang menjadi alternatif strategis yang menjadi dilema bagi Korea Utara saat ini yaitu melakukan tindakan demi keberlangsungan negeranya dengan 3 pilihan alternatif tindakan, yaitu transformasi, kompromi, atau justru bandwagon. Transformasi adalah alternatif pilihan pertama bagi Korea Utara. Transformasi disini berarti Korea Utara melakukan pembukaan akses pada pasar dunia seluas-luasnya, opsi ini dapat menggenjot perekonomian dari negeri bekas kendali Uni Soviet tersebut, namun disatu sisi dapat melepaskan program senjata nuklirnya. Alternatif kedua yaitu kompromi. Kompromi adalah alternatif yang dilakukan dengan tetap mempertahankan program nuklirnya yang terbatas dengan perjanjian nonpoliferasi nuklir dan mengejar perekonomian terbuka dalam lingkup yang amat terbatas. Kemudian opsi yang terakhir yaitu bandwagon. Bandwagon disini diartikan sebagai opsi bagi Korea Utara dengan tetap mempertahankan program nuklirnya yang kuat dan mengembangkan pembangunan dengan bersekutu kedalam ketergantungan blok ekonomi China. Tetapi nampaknya, alternatif strategi pembangunan dengan ketergantungan keamanan dengan China tidak dapat diandalkan lagi. China tidak dapat memastikan keamanan dari Korea Utara secara tak bersyarat sejak negeri itu sendiri sedang gencarnya mengembangkan pertumbuhan ekonominya dengan tidak membuat konflik dengan Amerika Serikat, karena hal tersebut akan membahayakan keamanan dan stabilitas pembangunan di kawasan timur laut Asia, khusunya bagi China sendiri.

Dilema dari beberapa alternatif strategis muncul karena Korea Utara patut was-was terhadap apa yang dianggap sebagai kelebihannya selama ini. Misalnya dalam hal kekuatan militer. Tidak bisa dipungkiri memang, kekuatan militer Korea Utara jauh memimpin dari Korea Selatan. Korea Utara memiliki 70 kapal selam, sementara Korea Selatan hanya memiliki 10. Korea Utara memiliki 820 kapal perang, Korea Selatan hanya mengandalkan kapal perang bantuan Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, selama masa kepemimpinan Kim Jong Il, jumlah tentara di Korea Utara sebanyak 1,2 juta jiwa dengan 200.000 jiwa dikategorikan “special forces” dengan kemampuan khusus. Tetapi kelebihan tersebut justru bisa menjadi boomerang tersendiri bagi Korea Utara apabila tidak dapat mengatur negaranya dengan baik dan memilih alternatif kebijakan yang paling baik. Dengan realitas kemiskinan yang terus menghantui rakyatnya, food supply yang tidak kunjung bertambah, dan perekonomian yang sangat tertutup, ketegangan perang justru dapat membahayakan negaranya, karena logikanya militer membutuhkan persedian makanan yang banyak. China yang tidak bisa selalu menjanjikan bantuan dewasa ini terhadap Korea Utara serta perkembangan industri agraris Korea Utara yang stagnan membuat Korea Utara harus berpikir ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan pangan negerinya, khususnya pasukan militernya.

Korea Utara adalah negeri tirani yang mengharuskan seluruh warganya untuk mengikuti perintah dari sang pemimpin. Fanatisme dari sosok pemimpin didoktrin pada seluruh warganya hingga memunculkan suatu ketakutan tersendiri dalam diri mayoritas individu disana. Korea Utara pasti menyadari hal tersebut dan dengan alasan ini, tidak sedikit dari warganya yang tidak setuju dengan kepemimpinan dari Kim Jong Un akan memanfaatkan momen perang yang terjadi untuk melakukan tekanan dan asosiasi untuk menentang pemimpinnya sendiri karena selama ini mereka dilakukan seperti budak dan diperintah dengan penuh rasa ketakutan. Bagaimana tidak? Kesejahteraan sosial dari warganya adalah fokus yang dikesampingkan oleh para pemimpinnya. Dari anggaran yang dimiliki oleh Korea Utara, anggaran untuk kesehatan bagi para warga Korea Utara hanya 2% dari total anggaran secara keseluruhan, menempatkan Korea Utara pada 3 deret terbawah negara yang memiliki anggaran terkecil untuk kesehatan masyarakatnya.

Dengan realitas warganya yang masih banyak kelaparan, terserang penyakit, serta kekuatan ekonominya yang masih cukup lemah, maka tidak heran sejumlah dilema tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu bagi masa pemerintahan Kim Jong Un sebelum melakukan perang dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat, karena dalam masa kini kita dapat meramalkan bahwa mengembangkan senjata nuklir tanpa basis kekuatan ekonomi yang kuat hanya akan menjadi sebuah wacana pertahanan yang lemah.

Referensi

Cho, Seong-Ryoul, “North Korea’s Security Dilemma and Strategic Options”, The Journal of East Asian Affairs, Vol. 23, no.2, 2009, pp 69-102

Fukuyama, Francis, The End of History and The Last Man, Free Press, 1992

https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/kn.html

https://www.cia.gov/library/publications/the-world factbook/rankorder/2225rank.html?countryName=Korea,%20North&countryCode=kn&regionCode=eas&rank=189#kn

http://www.catholic.org/international/international_story.php?id=50448


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: