h1

Maladi dan TVRI, Rintisan yang Terlupakan

May 9, 2013

Pada tanggal 23 Oktober 1961, Menteri Penerangan Maladi menerima instruksi untuk melakukan hal yang sudah ia persiapkan sejak tahun 1952. Hari itu, Presiden Soekarno mengirimkan telegram dari Wina yang memerintahkan Maladi melanjutkan pendirian televisi di Indonesia. “Aku sudah memikirkan masak-masak mengenai pendirian stasiun televisi itu dan menurutku, proses pendirian itu tepat jika diserahkan kepada Nippon Electric Company (NEC), supaya menghemat pengeluaran kita. NEC sudah menawarkan harga yang rendah untuk itu. Sekian. Presiden Soekarno.” Demikianlah bunyi instruksi dari Kepala Negara itu.

Telegram Bung Karno tadi merupakan penanda resmi untuk memulai persiapan pendirian lembaga penyiaran televisi di Indonesia. Instruksi itu merupakan tindak lanjut dari proses yang sudah dilaksanakan oleh sebuah panitia khusus yang mengadakan permusyawaratan pertama pada 16 Juli 1961. Panitia ini dibubarkan dengan Keputusan Menteri Perangan 25 Juli 1961. Kekuatan pendorong pembentukan lembaga penyiaran televisi itu sendiri tidak lepas dari peran Maladi, olahragawan hebat, penyiar radio berpengalaman, dan Kepala RRI 1946-1959.

Maladi lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 30 Agustus 1912. Sesudah memimpin RRI, ia menjadi Menteri Penerangan (1959-1962) dan kemudian Menteri Olahraga (1964-1966). Ia juga pernah memimpin Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (1950-1959). Maladi juga pekerja seni yang handal, khususnya dalam seni keroncong. Diantara lagu ciptannya adalah Di Bawah Sinar Bulan Purnama dan Nyiur Hijau. Dalam dunia penyiaran, Maladi tercatat pernah memimpin pula stasiun radio pribumi pertama yaitu Solosche Radio Verreninging (SRV) dan kemudian memimpin Hosu Kyoku, stasiun radio di masa pendudukan Jepang.

Maladi memahami bahwa stasiun televisi yang baik adalah yang menyediakan tontonan olahraga dan bagaimana misinya dapat dikenal di dalam negeri maupun di luar negeri, menjadi simbol pengertian dan konstruksi identitas Indonesia. Maladi sendiri peduli dengan masalah pendidikan, karena sebelumnya ia pernah menjadi guru sebelum Perang Dunia II. Maladi yakin bahwa televisi merupakan sarana yang bagus untuk mempercepat akses rakyat terhadap pendidikan formal dan informal.

Maladi awalnya mengajukan gagasan mengenai pendirian lembaga penyiaran televisi kepada Bung Karno pada tahun 1952, disertai argument bahwa langkah tersebut penting secara politik bagi pemerintah untuk menyambut pemilu 1955. Pada tahun itu pula, Maladi mengirimkan satu tim khusus Kementerian Penerangan ke University of Southren California at Los Angeles guna memperoleh kursus nongelar. Maladi sendiri pernah mengatakan betapa Bung Karno amat bergairah dengan gagasan tersebut karena keuntungan khusus yang tidak dapat diperoleh dari radio. Soekarno sendiri berpengalaman dalam urusan penyiaran arena selama pendudukan Jepang, ia bersama sejumlah nasionalis pribumi lain diizinkan untuk melakukan siaran radio bagi pendidikan rakyat. Di tengah akses pendidikan yang masih rendah kala itu, pendirian lembaga penyiaran televisi bagi Soekarno akan sangat menguntungkan. Sekalipun sebagai Kepala Negara Soekarno mendukung gagasan Maladi, tetapi anggota Kabinet yang lain justru menganggapnya terlalu mahal dan meminta supaya gagasan itu ditunda terlebih dahulu.

Maladi akrab dengan dunia olahraga dan PSSI yang dipimpinnya berpartisipasi dalam Olimpiade Dunia di Helsinki (1952). Dia sudah mengelana ke Amerika selama lebih dari 2 bulan, sudah mengunjungi studio CBS dan stasiun radio di New York, Los Angeles, dan Seattle. Dia memperluas pengetahuannya mengenai manajemen olahraga internasional dan kemudian mempresentasikan pengetahuan itu di Olimpiade Dunia yang diselenggarakan di Melbourne tahun 1956, masa di mana Australia juga sedang memulai pendirian stasiun televisi.

Di tahun 1959, Maladi kembali menggaungkan gagasan pembentukan lembaga penyiaran televisi, menekankan keuntungan yang diperoleh sehubungan dengan dukungan televisi untuk pengembangan pendidikan dan mengantisipasi agenda seusai Asian Games di Jepang (1958). Tujuan pendirian lembaga penyiaran televisi itu mempunyai motif politik. Maladi sendiri pernah berujar, “Bayangkan, 7 juta penduduk Belanda dapat memerintah Indonesia? Karena Indonesia tidak bersatu. Radio yang mengembangkan gagasan nasionalisme dan televisi dapat melakukan langkah serupa.” Maladi berambisi supaya televisi, dengan program pendidikan, mampu mencerahkan kehidupan penduduk Indonsia.” Maladi sungguh percaya, siaran Asian Games akan menjadi kesempatan utama guna menumbuhkan rasa kebanggan dan persatuan nasional, yang dia rasakan kacau balau, karena adanya gagasan federalisme di awal kemerdekaan. Maladi juga percaya bahwa antara politik dan olahraga mempunyai hubungan yang erat.

Sjamsoe Soegito, seorang penyiar RRI Yogyakarta, pernah diperintahkan Maladi untuk mengikuti perkembangan pemberitaan internasional dari waktu ke waktu, termasuk kabar dari arena Olimpiade Dunia di London (1948) guna memberikan pengetahuan kepada masyarakat perkembangan kejadian dunia. Sjamsoe juga menandaskan, kedudukan Maladi di PSSI, memungkinkan untuk menghimpun reportase olahraga untuk tujuan yang sama. Maladi tahu benar, Bung Karno amat membutuhkan popularitas misalnya dalam kunjungan ke luar negeri yang sering membawa rombongan 30-50 orang, formulasi ideologi negara, pidato kenegaraan,berbagai macam peringatan, upacara, termasuk upaya peningkatan pendapatan negara dengan pembangunan reactor atom dan pabrik baja.

Maladi aktif mengedarkan gagasan dan melakukan lobi-lobi politik hingga puncaknya, rencana pendirian lembaga penyiaran televisi itu memperoleh persetujuan MPRS (1960). Pada Juli 1961, Maladi memperoleh persetujuan untuk mempersiapkan langkah-langkah pembentukan lembaga penyiaran televisi yang diintegrasikan dengan persiapan Asian Games. Persiapan itu hanya dengan dukungan segelintir orang yang mempunyai pengalaman mengenai televisi dan tak ada yang memperoleh pendidikan khusus mengenai penyiaran, berlangsung selama 10 bulan. Tim yang dibentuk Maladi sendiri beranggotakan terutama dari pegawai RRI dan “pinjaman” dari Pusat Produksi Film Negara. Sebanyak 18 orang teknisi dan staf produksi pada awal 1962 dikirim untuk mendalami penyiaran di NHK Jepang selama 3 bulan; 12 dari RRI dan 4 dari Pusat Produksi Film Negara. Sebanyak 4 staf RRI lainnya dikirim ke BBC Inggris untuk memperoleh pelatihan.

Maladi juga “setengah memaksa” kepada Sumartono Tjitrosidojo, yang sedang belajar di University of New South Wales di Sydney, Australia dengan beasiswa Colombo-Plan agar segera pulang setelah masa studi selesai. Sumartono, kelak Direktur TVRI (1971-1975), dipekerjakan sebagai pegawai teknisi dan perawatan di Hoso Kyoku, saat Maladi memimpin lembaga penyiaran radio di Solo itu (1943-1945). Sumartono sendiri pernah mengelola “Radio Gerilyawan” di Gunung Balong, dekat Surakarta dan pernah bersama-sama Maladi saat menjadi staf penghubung Tentara Keamanan Rakyat. Atas mediasi Sumartono di Australia tersebut, Tim Maladi menjalin kontak dan memperoleh bantuan dari Australian Broadcasting Comission (ABC). Sementara itu, sebuah tim yang beranggotakan 8 orang Jepang membantu membuat design studio dan perencaan fasilitas teknik di Kompleks Stadion Senayan. Saat berlangsungnya Asian Games, tim NHK membantu para reporter Indonesia. Segala hasil kerja itu berpuncak pada uji coba penyiaran dengan menayangkan peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan yang ke-17 dari Istana Merdeka (1962). Seminggu kemudian dilakukan rencana untuk melakukan siaran langsung pembukaan acara Asian Games IV di Stadion Senayan 24 Agustus 1962 dan selanjutnya rutin hingga 12 September 1962. Rintisan penyiaran itu tidak dilanjutkan kembali karena belum ada pemikiran untuk membentuk program televisi sesudah Asian Games tadi.

Menilik perencaan dan persiapan pembangunan lembaga penyiaran televisi nampak sekali bahwa didukung oleh lembaga penyiaran terkemuka di dunia. Bantuan itu berasal dari Australia, Inggris, Jepang, dan bahkan Amerika Serikat dan Jerman Barat. Jadi pendirian televisi di Indonesia mengikuti kecenderungan yang terjadi di tingkat global.

Seusai Asian Games, misalnya, TVRI menayangkan konferensi pers dengan anggota Parlemen Filipina, yang ditayangkan dalam acara Dunia Dalam Berita, dengan menggunakan hasil liputan CBS dan ITN dan menyiarkan pertandingan sepakbola antara Indonesia dan Swedia, termasuk wawancara yang menggunakan bahasa Inggris untuk pertama kali di TVRI.

Pada awal September 1962, Televisi Republik Indonesia (TVRI) diintegrasikan di bawah naungan Yayasan Gelora Bung Karno. Pada 19 September, ringkasan siaran ditayangkan tetapi mengecewakan karena tayangan aksi-aksi olahraga hanya menayangkan ulang hasil produksi Pusat Perfilman Negara, disertai suara narrator tetapi tidak menampakkan penyiarnya. Studio yang dipersiapkan di kawasan Senayan belum sempurna menangkap sinyal hingga 11 Oktober 1962. Meskipun 24 Agustus diterima sebagai hari pertama permulaan penyiaran televisi, akan tetapi sejak 11 Oktober tersebut dimulai siaran berkelanjutan dari TVRI.

Dalam masa itu, TVRI menayangkan siaran langsung mengenai kebudayaan Jerman dan pada Januari 1963, menayangkan wawancara dengan kosmonot Rusia, Adrian Nikolayev. Tahun 1969, setelah peresmian Waduk Jatiluhur, Jawa Barat, TVRI mampu menyajikan siaran langsung kejadian internasional, khususnya olahraga, musik, dan berita-berita terkini, juga mengirimkan beberapa hasil produksinya ke luar negeri.

Peran Maladi, persetujuan Presiden Soekarno, dan rintisan awal untuk pembentukan lembaga penyiaran televisi di Indonesia jarang sekali dipublikasikan, bahkan barangkali sudah dilupakan. Tiap liputan hari jadi TVRI yang kerap ditampilkan hanyalah reportase siaran Asian Games (1962) dan posisi televisi tersebut dari masa ke masa berhadapan dengan kebijakan monopoli pemerintah. Gagasan pendirian TVRI ternyata lekat dengan semangat membentuk nasionalisme, khususnya lewat jalur pendidikan, olahraga, dan pemberitaan. Dan yang mengagumkan, semua ditopang dengan kajian yang mengikuti kecenderungan global program televisi dengan mengirimkan tim untuk pelatihan di luar negeri. Ini jarang diungkap!


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: