h1

Sirih Pinang

May 8, 2013

REP | 09 May 2013 | 05:06 Dibaca: 25   Komentar: 0   Nihil

Mengunyah sirih sambil duduk bercakap-cakap sudah merupakan hal lumrah di berbagai daerah di pedesaan di Nusantara. Namun di berbagai desa di Pulau Timor besar, Sirih pinang merupakan pernyataan ucapan selamat datang dan merupakan penghormatan bagi tamu yang mengunjungi rumah atau desa seseorang. Artinya, mana kala ada tamu yang datang di desa atau di rumah seseorang, tamu tersebut disambut dengan acara sirih pinang, di mana tuan rumah mempersiapkan dan meramu sirih, pinang, dan kapur sedemikian dan diserahkan kepada tamu untuk di makan, demikian sebaliknya, sang tamu mempersiapkan dan meramu sirih, pinang dan kapur dan menyerahkannya kepada tuan rumah untuk dimakan. Jadi ada semacam saling membalas, menerima dan memberi sirih pinang di antra tuan rumah dan tamu. Ketika mereka mulai memakan sirih pinang yang diterima dari lawan bicara, tuan rumah dan tamu, baru mereka mulai untuk bercakap-cakap. Dengan demikian, sirih pinang menjadi titik awal berpijak untuk melakukan dialog atau percakapan. Dengan kata lain, sirih pinang merupakan sarana membuka komunikasi antara tuan rumah dan sang tamu.

Ada kalanya sang tamu tidak memiliki atau tidak membawa persiapan sirih, pinang dan kapur yang diperlukan demi terciptanya pertukaran atau balas-membalas sirih pinang. Dalam hal yang demikian, sang tamu akan memohon maaf dengan alasan tertentu, katakan karena berasal dari tempat yang jauh dan tidak dapat mempersiapkan sirih pinang untuk pertemuan tersebut. Sang tamu kemudian akan meminta sirih, pinang dan kapur dari tuan rumah, dan meramunya dengan sebaik mungkin untuk ia berikan kepada tuan rumah sebagai balas sirih pinang yang telah ia terima dari tuan rumah. Kalau sang tamu merupakan pendatang dari luar daerah yang tidak mengerti meramu sirih, pinang dan kapur untuk acara berbalas sirih pinang seperti ini, tidak perlu harus meramu sirih pinang, tetapi cukup mengatakan bahwa yang bersangkutan sebagai pendatang dan mohon maaf tidak dapat membalas kebaikan tuan rumah yang telah memberi sirih pinang. Kemudian memakan sirih pinang yang diberikan tuan rumah. Itu sudah cukup dan diterima tuan rumah sebagai titik awal membuka komunikasi.

Dalam hal tertentu, dan itu sering terjadi, tuan rumah tidak hanya sekedar menyuguhkan sirih pinang, tetapi mempersiapkan makan besar yang dikenal dengan Pesta Selamat Datang untuk sang tamu. Pada kesempatan seperti ini, tuan rumah akan memotong seekor hewan peliharaan seperti babi atau sapi sebagai penghormatan kepada sang tamu. Tetangga diundang untuk mengikuti jamuan makan. Sebelum makan, tamu juga disambut dengan pemberian kain tenun buatan setempat yang tidak kalah menarik baik dari segi motif maupun mutunya. Pesta selamat datang seperti ini juga merupakan saranan promosi yang bersangkutan kepada teman sekampung bahwa yang bersangkutan mengenal orang-orang ’hebat’ yang menjadi tamu keluarga saat ini. Dan ini dapat mengangkat martabat keluarga di mata para tetangga di desa yang sama (Sumber: Pernah Nyata di Nusantara oleh Johnson Dongoran berdasarkan perbincangan dengan Bapak Agus Naiola, dan berdasarkan pengalaman pribadi penulis di Kabupaten Timor Tengah Selatan).

Catatan: Mohon koreksi dari pembaca, terutama saudara-saudaraku dari NTT khusunya Kab. TTS

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: