h1

MEREKA YANG TAK MENGENAL MENYERAH: Kebenaran Bagi Yang Berhak

May 3, 2013

OPINI | 03 May 2013 | 06:40 Dibaca: 13   Komentar: 0   Nihil

Wajahnya sudah sepuh. Gurat-gurat mukanya nampak ia orang yang sangat optimis menghadapi hidup. Ia pemikir bangsa yang besar namun disingkirkan oleh kekejaman pemerintahan orde baru. Ia pernah mengalami hidup berbagai jaman. Jaman Belanda, jaman Jepang, jaman kemerdekaan, dan terakhir jaman reformasi. Ia juga pernah membela bangsa di tengah pertempuran ketika merebut kemerdekaan bangsa ini. Dan jaman yang paing membekas dan memilukan dalam hidupnya adalah jaman peristiwa tahun 1965 ketika peristiwa yang penuh dengan abu-abu itu memiriskan dan menyayat seluruh negeri.
Banyak rakyat yang tak berdosa menjadi korban keganasan orde baru beserta loyalisnya. Orang-orang desa yang tak tahu apa-apa banyak yang menjadi kurban fitnah orde baru dan banyak yang dijebloskan ke Pulau Buru tanpa proses hukum. Siapa yang paing menanggung dosa besar ini? Tentu saja Soeharto dan antek-anteknya.
Saya ingin mewawancarai tokoh-tokoh pelaku sejarah seperti mereka. Mereka para pejuang namun disingkirkan oleh orde baru dengan tuduhan PKI. Padahal anda tahu siapa yang lebih PKI dari orang yang dikatakan PKI? Menjadi PKI atau tidak itu pun urusan mereka? Kita tak berhak memaksakan ideologi orang lain dengan ideologi kita. Kita tak bisa mengklaim tindakan kita adalah tindakan yang paling benar. Kita tak bisa menyalahkan orang lain namun tindakan kita sendiri salah. Kita tak bisa berteriak maling namun kita sendiri adalah maling. Padahal kebenaran hakiki hanya milik Sang Maha Kuasa yaitu Allah SWT. Tetapi orde baru telah mengklaim dirinya dengan menyebarkan fitnah dan membunuhi musuh-musuh politik mereka dengan cara yang sangat kejam dan sadis.
Sejarah harus diungkap sebelum para sesepuh yang menjadi kurban orde baru itu meninggalkan kita. Sejarah harus dibuka seterang-terangnya agar orang-orang yang sebenarnya pemikir dan pejuang bangsa itu tidak menjadi kurban selama hidupnya. Kita harus memperjuangkan hak-hak mereka agar bangsa ini bisa melihat masa lalu lebih bijaksana dan fair.
Para kurban kebijakan orde baru berjumlah jutaan orang. Bahkan ada orang yang lugu dari desa tetapi karena difitnah oleh aparat desa yang mencari muka akhirnya harus meninggal dengan cara yang mengenaskan. Mereka dibunuh dan mayatnya dikubur dalam satu lubang dengan cara yang sangat tidak manusiawi dan itu banyak terjadi dimana-mana kala itu. Ada juga kurban yang diestrum listrik sampai mati. Sangat memiriskan.
Jika bangsa ini ingin menatap ke depan dengan tegak, kita harus uangkap dosa-dosa orde baru itu agar anak cucu kita ke depan tidak gamang dalam menghadapi masa depan karena luka sejarah yang begitu menyayat kemanusiaan kita. Atau benar yang pernah dipikirkan GUSDUR agar kita membuka seterang-terangnya luka masa lampau. Kita harus saling memaafkan namun memberika keadilan bagi yang menjadi kurban. Soeharto telah pergi tetapi banyak generasi sekarang masih terluka atas tindakannya.
Mengapa masalah pelanggaran HAM berat masa lalu terutama peristiwa 1965 masih abu-abu hingga sekarang? Apa tindakan kita sekarang ini jika luka sejarah itu masih terasa melukai hati anak bangsa ini? Bangsa yang belum tuntas menyelesaikan luka sejarahnya! Memang ini sungguh ironis…!!!????

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: