h1

Tak Perlu Berlama-lama di Kelas

May 9, 2013

Dengar pengarahan dari Pak KS pada santri yang akan diterjunkan untuk berdakwah ke daerah.

Ada cerita yang menarik. Beliau menyampaikan info yang didapat ketika berkunjung ke STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) Jakarta. Kata beliau, kuliah 4 tahun di STID, berbeda dengan di kampus lain. Di sana hanya 2 tahun berada di kelas. Tahun ketika sudah praktek dakwah. Tahun ke empat dikirim ke wilayah-wilayah terpencil untuk berdakwah (Membangun peradaban).

Saya jadi membanding-bandingkan dengan pengalaman saya. Sebelum masuk ke kampus UNMUH Jember, Fakultas Sastra dan Psikologi sangat favorit bagi saya. Tetapi harus memilih FKIP Bahasa Inggris agar lebih aman menghadapi kekhawatiran ortu. Ya, di FKIP Bahasa Inggris ada study prikologi  dan sastra juga, pikir saya waktu itu.

Waktu itu saya sangat berhasrat untuk menekuni dunia pendidikan, bukan dunia sekolah.

Akhirnya saya menjadi mahasiswa FKIP Bahasa Inggris di Universitas Muhammadiyah Jember. Sempat juga di awal semester satu berencana pindah ke FKIP Bahasa Indonesia. Tetapi sudah tidak bisa.

Sekarang saya sudah menyelesaikan semua mata kuliah, ketika semester tujuh tahun lalu. Tetapi skripsi yang belum selesai. Tidak masalah. Bagi saya tidak ada bedanya, jadi mahasiswa, jadi alumni atau jadi apapaun. Hidup harus hidup sesuai ilmu yang dimiliki.

Sudah hampir setahun mengajar di SMP swasta di Mojokerto. Sudah banyak sekali pengalaman, meskipun masih lebih pantas dibilang sedikit.

Dunia sangat berbeda sekarang. Ketika di kampus, seolah-olah saya adalah anak kecil yang masih cengeng, tetapi punya selangit mimpi untuk memajukan pendidikan. Ah, waktu itu begitu semangatnya, tetapi semangat yang bagaimana? tanyaku saat ini. Dunia berbeda. Sekarang saya merasakan dunia pendidikan yang sesungguhnya, jaaauh sekali berbeda dengan dunia kampus. Dua bulan PPL tidak cukup, jiwa pendidikan belum terang.

Ketika di kampus, yang paling banyak diperbincangkan adalah:

– bagaimana nilaimu?

– oleh nilai piro?

– dapat A apa B?

– Tugasnya sudah selesai?

– tugase wes mari opo dorong?

– ada tugas, nggak?

– sopo sing maju saiki?

– dosene tekko?

– udah datang tah dosennya?

Ya, itu sedikit ungkapan-ungkapan yang masih saya ingat. Berbeda dengan di sekolah. Di isni, yang kami perbincangkan:

– bagaimana anak-anak?

– bagaimana perkembangan si A?

– dengar kabar perubahan sistem ini dan itu nggak?

– kelas ini kok begini ya, gimana ya solusisnya?

– bagaimana kalau kita begini atau begitu, coba?

Di lembaga yang saya tempati ini ada seorang ustadzah dari Ngruki. Beliau menjalani program pesantrennya selama setahun. Beliau seringkali konsultasi dengan rekan-rekan pengajar di sini, juga dengan ustadz-ustadz pembimbingnya di Ngruki. Menurut saya, di STID pun demikian. Mereka banyak sharing ketika berada di lapangan. Ide-ide itu muncul ketika berada di lapangan, mengetahui sendiri keadaan sebenarnya. Jadi bukan hanya di angan-angan.

Mengingat fakta yang sudah lewat. Ada salah satu teman yang nyeletuk saat berada di ruang micro teaching. katanya, “Nanti jadi pedagang saja, tidak usah jadi guru.” Ada juga yang terang-terangan pamit ke orang tuanya, mau jualan kelapa katanya. Tentu saja orang tuanya marah. “Pak lek mu nggak kuiah bisa jualan kelapa!” kata orang tuanya. Menurut saya, hal semacam itu terjadi karena jiwa pendidik belum tumbuh daam dirinya. Mereka belum tahu dunia pendidikan, hanya melihat atau mendengar saja. mereka belum merasakan bagaimana sebenarnya dunia pendidikan.

Menurut saya, mungkin ada baiknya jika selama kuliah, mahasiswa FKIP diwajibkan mengabdikan waktunya meskipun hanya 1 atau 2 hari dalam seminggu untuk ikut mendidik generasi di sekolah, meskipun hanya di kegiatan ekstra. Sekolah tidak harus menggaji mereka.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: