h1

Pramugari Perawan Dan Malam Pertamanya

May 11, 2013

Dalam perjalanan ke Jakarta 8 bulan lalu, karena urusannya dinas kantor, maka sesuai jabatanku yang sudah lumayan tinggi, aku mendapat fasilitas duduk di kelas bisnis.

Ternyata duduk di kelas bisnis sangat nikmat, kursi lebar, bisa direbahkan sampai lurus (jadi seperti kasur), makanan dan minuman lengkap tersedia, dan yang pasti pramugari yang khusus menangani penumpang kelas bisnis adalah pramugari yang agak senior, cantik dan cekatan kerjanya.

Yang menarik dari perjalanan kali ini, pramugari tersebut, sebut saja namanya Dina, sepertinya bolak balik samperin aku dengan berbagai alasan, nawarin makan, minum, majalah, sampai selimut. Matanya agak nakal menatap mataku. Aku yang tadinya cuek-cuek saja, jadi gelisah juga, jadi punya pikiran nakal, enak juga nih digoyang di Jakarta pikirku. Sampai akhirnya pesawat tiba di Soekarno Hatta, dina menyalami tanganku dan meninggalkan kertas kecil bertuliskan nomor teleponnya. Aku kaget mendapat nomor teleponnya, padahal baru saja mau aku minta. Mungkin Dina tak mampu menahan dirinya, melihat pria ganteng, cool, sopan dan duduk di kelas bisnis.

Di mobil dalam perjalanan ke kantor di bilangan SCBD Sudirman Jakarta, saya telepon Dina. Dina terlihat senang sekali saya meneleponnya dengan cepat, tanpa menunggu matahari terbenam. Singkat kata, kita janjian ketemu makan malam di restoran Potato Head di Pacific Place.

Waktu yang ku tunggu-tunggupun tiba, Dina datang dengan penampilan sangat anggun, tak kalah dengan putri Indonesia saja. Aku sampai pangling,penampilan Dina malam itu sungguh membuat libidoku naik. Dina tak terlihat kalo dia adalah seorang pramugari. Untuk menjaga supata aku tak terlihat terlalu semangat terhadap dina, aku mengatur nafas, dan ingin tampak biasa-biasa saja.

Selama makan malam, kami ngobrol ngalor ngidul, mulai dari soal pekerjaan, sampai soal hubungan badan. Maklum, hari makin malam, pikiran mulai tak karuan, penasaran akan tubuh mulus dibalik gaun malam Dina. Berikut adalah obrolan saya dan Dina selama makan malam, Saya (S) dan Dina (D) :

S : cantik sekali kamu malam ini dik
D : hehehe, kan mau ketemu mas

S : makasih yah dik, aku senang kamu beri nomor HP, jadi kita bisa janjian ketemu di Jakarta
D : sebenarnya aku terpaksa memberikannya mas.

S : terpaksa kenapa dik? Aku kan ga maksa minta nomor HP mu, kamu sendiri yang kasih.
D : bukan mas yang maksa, tapi hati saya yang maksa, saya gak mau kehilangan kesempatan tidak ketemu mas lagi, saya suka gaya mas. Mas ganteng, cool, sopan dan duduk di kelas bisnis. Saya akan menyesal jika saya gak berikan nomor saya ke mas.

S : oallaa. Ku pikir terpaksa kenapa.
D : hehehehe, aku seneng mas telepon aku tadi dijalan dan ajak aku makan malam.

S : kalo lebih dari makan malam kamu bersedia gak?
D : maksud mas?

S : aku mau ajak kamu menginap di apartmentku di Jakarta.
D : menginap aja kan mas, gak ngapa-ngapain? (Sambil tangannya memegang tanganku)

S : hihihi, gak janji yah dik
D : hehehe, aku mau mas, terserah mas deh mau ngapain, aku ikut aja. Tapi mas, aku perlu beritahu dulu. Aku masih perawan

S : Haa.. (Mataku membelalak) koq bisa masih perawan dik ? Kamu kan cantik, pasti banyak pria yang mau sama kamu.
D : Yang mau dan sudah nembak sih banyak mas, tapi sayanya belum ada sreg, belum ketemu yang pas di mata dan hati saya. Tipe saya agak tinggi mas, seperti mas ini tipe saya. Ganteng, cool, sopan, pintar dan banyak uang.

S : kamu gak papa kasih perawan kamu ke saya dik?
D : gpp mas, saya iklas. Yang penting mas jangan campak kan aku setelah mendapat perawanku.

S : ooo, aku bukan tipe seperti itu dik, aku pria bertanggung jawab.
D : alhamdulillah, Tuhan maha baik, untuk tipe high quality seperti mas, apapun akan ku berikan.

S : ya udah gak usah lama-lama, yuk kita ke apartment di atas. (Satu gedung dengan Pacific Place)
D : hihihi, itu yang kutunggu-tunggu dari tadi mas, mas ngomong terus, kapan kita ke apartment mas.

Kita pun menyudahi makan malam romantis dan menyenangkan tersebut, kita berjalan sambil berpelukan, tidak ada kecanggungan diantara kami, seperti sudah lama saling mengenal. Begitu masuk kamar apartment, Dina langsung mengambil inisiatif dengan melucuti pakaianku satu persatu.

Cerita selanjutnya sudah bisa rekan-rekan bayangkan, jadi tidak perlu saya deskripsikan secara detail.

Ps : Dina saking sudah naksir berat, lupa bertanya apakah aku single atau double, aku pun tidak menjelaskan karena tidak ditanya.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: