h1

Ndobos

May 10, 2013

Ini adalah kisah nyata, true story.  Cerita mengenai seorang pelatih menyelam.  Namanya Kenjiro Watanabe.  Karena dia berasal dari Jepang, orang memanggilnya Kenjiro San.  Usianya, kira-kira 45 tahun.  Kenjiro San adalah coach handal, profesional dan bertaraf internasional.

Kenjiro pernah lama bermukim dan melatih diving di Bali.  Murid-muridnya berasal dari mancanegara.  Eropa, Amerika, Australia,  dan Asia, termasuk tentunya,  Jepang dan Indonesia.  Kisah ini saya dengar dari salah seorang coachee-nya yang bertutur seraya menitikkan air mata.  Kisah tentang perjuangan Kenjiro yang heroik, menyelamatkan anak-didiknya, hingga dia gugur di pantai Ao Kiew – Koh Samet, 3 jam perjalanan darat, dari Bangkok,  plus 15 menit naik speed boat.

1 April 2013, salah seorang anak-didik Kenjiro San, Takumi, setengah “memaksa”,  agar dia mendapat latihan khusus, dalam rangka mendapatkan sertifikat menyelam internasional.  Sebetulnya, alam kurang bersahabat. Saat itu sedang berlangsung Festival Songkran, perayaan  air laut pasang yang biasa dirayakan di negara Thailand. “Songkran” sering  mengingatkan nelayan agar lebih hati-hati dalam berlayar.  Tapi Takumi dan 3 kawannya bersikukuh.  Latihan  berlangsung jua, dikelilingi ombak laut pasang yang mengancam mereka.

Bagi saya, ombak laut pasang memang menyeramkan, tetapi tidak bagi Kenjiro San,  diving master, berpengalaman, ahli dalam bidangnya.  Juga bagi Takumi dan kawan-kawan yang ngebet segera mendapat  sertifikat internasional di bidang menyelam. Olahraga kegemarannya.

Untung memang tak bisa diraih, apes tak bisa ditolak.  Meski semua peralatan safety tak lupa dipakai, kecelakaan itu terjadi juga.  Saat coach Kenjiro mendorong Takumi naik ke boat, entah karena dorongan apa, tiba-tiba, sang pelatih seperti disedot dari dalam laut.  Seakan ada makhluk gaib  yang menghisapnya. Kenjiro bak ditelan lautan.  Dia tenggelam.  Kenjiro hilang.  Diketemukan beberapa saat, ketika sudah menjadi mayat.  “Selamat jalan coach Kenjiro.  Anda telah mendemonstrasikan kepada kita, bagaimana seorang pelatih, guru, master, atau pemimpin  harus bersikap”.  Seorang pelatih harus menampilkan perilaku yang patriotik, membela si murid, meski nyawalah taruhannya.

Takumi menjadi serba salah.  Meski semua orang mengatakan bahwa itu bukan salahnya; bahkan asosiasi menyelam Thailand juga mengatakan hal serupa, Takumi terlanjur gamang.  Dia tak nyaman.  Seolah semua dosa ada di pundaknya.  Rasa bersalah, kematian Kenjiro karena ulahnya, tak bisa hilang dari batinnya.  Begitulah mungkin budaya Jepang melekat pada dirinya.  Seseorang yang “merasa” bersalah, harus menebusnya.   Bila itu melawan undang-undang atau peraturan negara, hukumlah yang berwenang menentukannya.  Bila itu “hanya” melanggar norma, budaya atau etika, maka  dialah yang harus menghukum dirinya sendiri.

Berbuat kesalahan adalah satu hal.  Menyadari telah berbuat kesalahan adalah hal lain.  Menyesal karena berbuat kesalahan adalah hal lain lagi.  Dan itu yang terpenting.  Bentuknya bisa bermacam-macam.  Tetapi, proses dari satu tahap ke tahap berikutnya, tidak mengenal bangsa dan budaya.  Semua makhluk yang disebut manusia memilikinya, secara universal.  Agar sampai pada tahap “menyesal” akan perbuatannya, diperlukan tahapan atau proses-proses tertentu.  Istilah yang lazim digunakan adalah introspeksi. Bahasa Inggris mengenal kata insight.  “Melihat ke dalam”, tenggang-rasa, tepo-sliro.

Itu yang dipegang teguh bangsa Jepang hingga kini.  Tak terkecuali Takumi.  Meski telah dihibur banyak orang bahwa itu adalah kecelakaan biasa,  dia bergeming.  Takumi membatalkan seluruh acara yang sudah disusunnya, dan terus menunggui jenazah Kenjiro, gurunya.  Dia melakukan matiraga, puasa, merenung, berdoa, meditasi, di depan jenazah gurunya, sampai dikremasi, 27 hari kemudian.

Sesaat sebelum upacara kremasi dilakukan,  Takumi duduk bersila, di samping jenazah Kenjori, selama 12 jam.  Mata terpejam, entah merenung, meditasi atau berdoa.  Lengkap dengan pakaian adat Jepang, di tengah panas kota Bangkok yang bersuhu hampir 40 derajat.  Apa pun yang dilakukan Takumi, tak ada orang lain yang tahu, kecuali dirinya  dan Tuhan.

Orang tak tahu apa agama Kenjiro dan Takumi.  Mungkin mereka memeluk Shinto atau Budha.   Tetapi signal yang dikirim mereka adalah pesan spiritual yang tinggi.   Spritualitas memang jauh lebih bermakna dan mendalam dibanding sekedar ritualitas.

Pesan yang dikirim kepada semua yang hadir, jelas tertangkap maknanya.  Takumi ingin menyatakan penyesalannya.  Ingin mengumumkan bahwa dirinya bersalah.  Ingin “menderita” bersama Kenjiro, yang terbujur kaku di depan pertapaannya.  Takumi  tahu bahwa secara hukum dia tak bersalah.  Tetapi dia ngotot untuk berdialog dengan dirinya sendiri dalam ranah substansi, balutan hakekat, dari belitan hati nurani. Kalau tidak ada pihak lain yang bisa menghukum dirinya, maka dirinya sendiri yang harus menghukumnya.   Begitulah kira-kira orang menangkap pesannya.

Tahapan sebaliknya bisa juga terjadi. Bila dalam hidup proses insight tidak terjadi, mawas-diri tidak ada, introspeksi tidak dilakukan, maka mekanisme pertahanan diri-lah yang bakal keluar.  Orang menjadi defensif.  Bentuk yang paling gampang adalah  mengeluarkan kata-kata verbal atau tulisan yang isinya kosong-melompong, nol besar, lepas dari kebenaran.   Sama sekali jauh dari logika dan akal sehat.  Bahasa jawa menyebutnya ndobos.  Ndobos adalah defence mechanism yang keluar spontan begitu orang terdesak, justru karena membuat kesalahan dan tak mau meniru sifat ksatria seperti Takumi.

Ada 2 contoh ndobos yang kebetulan tejadi di tanah air kita mengiringi kisah Kenjori dan Takumi.  Pertama adalah ketika penyelenggaran Ujian Nasional (UN) karut-marut dan harus ditunda untuk 11 propinsi.  Mendikbud yang menjadi penanggung-jawab tunggal, enggan melakukan introspeksi.  Dia tidak melakukan insight. Alih-alih melakukan harakiri atau sekedar mengundurkan diri,  sang menteri malah berdalih kesana-kemari untuk menjastifikasi kekeliruaannya.   Karena terdesak, dia defensif.  Ucapannya di media massa menjadi jauh dari akal sehat.  Agak kasar kalau mengatakan mendikbud sedang ndobos.  Tapi itulah kenyataan yang dilihat orang banyak.

Ndobos kedua terjadi ketika seorang mantan pejabat menolak masuk penjara, padahal  pengadilan tertinggi dan terakhir telah memutuskan seperti itu.  Dia dihukum karena terbukti korupsi.  Karena tidak ada logika yang mendukungnya, dia, dan pengacara-pengacaranya “terpaksa” ndobos.  Cerita indah dikarangnya, logika palsu disusunnya, prosa gadungan dibuatnya.  Isinya sama saja, omong kosong dan penuh muslihat, meski indah didengar.  Mereka sedang ndobos.

Cerita yang terjadi di Bangkok pada awal artikel ini dan 2 kisah berikutnya yang terjadi di Indonesia memang bagai bumi dan langit.  Yang pertama penuh nilai-nilai heroik, patriotik, ksatria dan spiritualitas, sedang 2 kisah berikutnya penuh ungkapan ndobos.  Awal-mulanya memang harus berangkat dan dimulai dari tahap “melihat ke dalam diri sendiri”, yang sering sangat sulit dilakukan.  Tak salah kalau pepatah mengatakan, “Meski sangat dekat, melihat diri sendiri jauh lebih sulit dibanding melihat orang lain”.

Note : Terima kasih untuk sahabat saya, SN, yang memberi ide untuk menulis artikel ini, dengan judul di atas.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: