h1

PKS, Perang Khandak dan Istana Republik Indonesia

May 8, 2013

PKS, Perang Khandak dan Istana Republik Indonesia

A. PKS

Akhir-akhir ini Partai Keadilan Sejahtera sering mendapat cobaan, berbagai fitnah dilontarkan, tuduhan berzina, tuduhan korupsi, dan sebagainya. Tuduhan-tuduhan yang ingin menjatuhkan partai ini, menghancurkan partai, merusak tali persaudaraan para kader partai keadilan sejahtera, menanamkan rasa pesimis dan kecewa kepada para asatidz partai ini. Mereka melakukan konspirasi dengan segala cara dan teknik sehingga partai ini benar-benar hancur dan para kadernya akan menjadi malu kepada masyarakat apabila bertemu. Cara yang mereka lakukan sangat beragam, mulai dari menggunakan kekuasaan untuk menangkap Mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Luthfi Hasan Ishak dengan kasus suap impor dan perempuan gelap, kemudian mereka juga ingin menghancurkan pks melalui media-media yang mereka punya sehingga setiap berita televisi, majalah dan koran adalah kasus suap impor mantan presiden pks.

Saudaraku seiman yang dirahmati allah, sungguh ini semua adalah cobaan dan tantangan yang allah berikan kepada kita jamaah ini sebagai bukti kecintaan dan kesayangannya kepada kita sebagai hambanya yang sedang menunaikan tugasnya. Saudaraku, saya juga ingin mengatakan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa, kita manusia lemah yang selalu mengharapkan bantuannya. Oleh karena itu, kita harus merelakan diri kita untuk diuji oleh allah, dicoba oleh allah karena kita ini bukan rasul. Cobaan yang hari ini kita rasakan masih sangat kecil, belum seberapa bandingan dengan mereka rasul yang Ulul Azmi.  Mereka rasul ulul azmi saja diuji oleh allah dengan cobaan yang lebih berat daripada yang kita rasakan saat ini. Ada sebagian rasul itu diuji dengan dibakar dalam api yang sangat menyala seperti nabi Ibrahim As, ada yang diusir dari rumah sehingga menjadi buronan Nabi Musa, ada yang ingin dibunuh sehingga melarikan diri kedalam gua seperti Nabi Isa As, ada juga ujian seperti Nabi Nuh As, dan ada juga ujian yang lebih berat seperti Nabi Muhammad Saw.

Hari ini kita harus menyadarkan diri kita bahwa kita adalah jamaah dakwah yang tidak akan pernah luput dari cobaan dan tantangan untuk memperjuangkan kalimah la ilaha illallah, karena bukan dakwah namanya kalau tidak ada orang yang menghambat perjalanan para da’inya. Saya berharap bahwa masalah hari ini yang menimpa jamaah, kita jadikan sebagai sebuah semangat atau tekad untuk memperkuat barisan kita dalam jamaah ini dan semakin memperkokoh akidah keyakinan kita kepada allah. Sebab sejahat-jahat makar yang mereka buat hari ini untuk kita, jauh lebih baik makar yang allah buat untuk mereka. Akan tetapi, untuk menenangkan hati kita saat ini, ada baiknya kita membaca kembali, mengingat kembali sirah nabawiyah yang telah kita pelajari yaitu tentang Perang Ahzab (perang khandak). Kenapa mesti perang khandak? Karena peristiwa ini hampir seimbang dengan yang kita rasakan hari ini, walaupun ruang kondisi dan situasinya berbeda, namun misi yang kita emban dan cobaan yang kita rasakan hampir sama. Namun kita mempunyai kelebihan yang besar yang kita miliki daripada sahabat, dimana kita berjuang tanpa seorang rasul, dan para sahabat berperang dan berjuang dengan bersama rasul.

B. Perang Khandak (ahzab)

Perang khandak adalah salah satu perang yang diikuti oleh rasul dan para sahabat, terjadi pada Bulan April Tahun 627 Masehi (Dzulqa’dah 5 H). Perang ini adalah perang yang paling sulit sekali bagi kaum muslimin, perang yang membuat hati umat islam sudah mulai tidak tenang, perang yang membuat pikiran, perasaan menjadi pusing 7 keiling dan perang yang membuat nafas kaum muslimin menjadi sesak. Kondisi kota madinah pada saat itu dan kaum muslimin sangat mengkhawatirkan, dimana pada waktu itu terjadi musim dingin yang berkepanjangan, kemudian terjadi gagal panen kurma, krisis pangan, kelaparan melanda kaum muslimin, banyaknya rangkaian perang yang melelahkan, dan peralatan yang kurang memadai. Begitu banyak permasalahan internal yang dirasakan oleh kaum muslimin saat itu, belum lagi banyaknya musuh yang akan dihadapi. Sedangkan musuh-musuh yang akan mereka hadapi mempunyai perlengkapan persediaan pangan yang mencukupi dan musuh-musuh mereka terdiri dari pasukan bani Ghathafan dan koalisi suku-suku arab badui yang berjumlah sekitar 6000-an orang, pasukan Musyrikin Makkah yang berjumlah sekitar 4000-an orang dan Yahudi Bani Quraizhah yang berkhianat.

Singkat cerita, setelah nabi mendapatkan informasi dari intelijennya abbas bin abdul muthalib bahwa pasukan musyrikin mekkah segera berangkat ke madinah. Nabi Muhammad langsung mengadakan musyawarah dengan para sahabatnya, akhirnya perang dilakukan secara depensif tidak opensif yaitu menggali parit yang diusulkan oleh sahabat salman al-farisi. Sebab perang ini ada 3 golongan yang akan menyerang kaum muslimin, dua musuh dari luar dan satu musuh dari dalam, yang jumlah pasukannya jauh melebihi pasukan muslimin yaitu 700 prajurit muslimin dibanding 10000-an lebih musuh yang akan menghadang. Dalam peristiwa penggalian parit ini, rasa lapar terus menghampiri para sahabat, musim dingin yang begitu menyakitkan bagaikan jarum menusuk tulang-tulang rusuk prajurit kaum muslimin apabila dimalam hari. Namun mereka tetap bersabar dan istiqamah bersama nabi. Pada waktu penggalian parit ini kesolidan para sahabt uji, keimanan dan keistiqamahan mereka dipertaruhkan, namun diantara mereka ada yang bertahan dan ada yang tidak bertahan. Apalagi rasa lapar yang melanda perut para prajurit, sampai-sampai para sahabat dalam riwayat disebutkan 3 hari dalam penggalian parit tidak makan sedikitpun, mereka bertanya dan mereka sampaikan keluhannya kepada nabi. Lalu nabi menjawab, “Wahai sahabatku, jika kalian merasa lapar, ganjallah perut kalian dengan batu.” Kemudian mereka mengikuti perintah rasul untuk mengambil batu dan langsung mereka ikat keperutnya. Ukuran batu menjadi indikator rasa lapar, dan rasa lapar tersebut menjadi musuh tersendiri bagi kaum muslimin saat itu. Bisa dibayangkan bagaimana Nabi Muhammad saw. dan para sahabat menguras tenaga mereka, ibarat, “Membanting tulang dan memeras keringa” ditambah stok makanan mereka tidak ada. Bibir mereka pecah-pecah karena sangat jarang dilewati oleh air minum sehingga mengalami dehidrasi berat. Dinginnya udara pada malam hari membuat para sahabat hanya memakan dedaunan karena sangat lapar tetapi tidak ada makanan.

Lalu bagaimana dengan kondisi dakwah yang kita rasakan hari ini akhi? Ternyata cobaan yang kita rasakan hari ini dibanding dengan masa rasul masih kecil dan masih jauh perbedaannya. Cobaan ini masih menimpa seorang kiyadah kita, belum semua kita terkena musibah atau cobaan. Dan kita lihat kembali bahwa kemenangan para sahabat dalam perang khandak adalah disebabkan kesolidan ukhuwah mereka, keimanan kepada allah, kesabaran yang kuat dan keistiqamahan dalam berjamaah. Inilah yang menjadi kunci kesuksesan para sahabat dalam setiap perang yang mereka ikuti dan laksanakan bersama rasul dan khulafaurrasyidin.

Biarkan hari ini mereka menghalangi jalan kita, menghambat dakwah kita, membuang dan membunuh kita, namun mereka tidak akan bisa menghentikan kalimah allah. Dalam hal ini ikhwa kita tidak boleh tergesa-gesa dalam menyebarkan dakwah, kita tidak boleh secepatnya ingin melihat dan menikmati hasil dakwah yang kita lakukan, yang terpenting bagi kita dan jamaah ini adalah aktivitas-aktivitas dakwah kita tidak boleh berhenti, kesolidan kita tidak boleh berkurang, kita harus menambah dan memompa semangat kita untuk terus berdakwah, insya allah kemenangan-kemenangan itu akan kita raih dengan secepatnya. Saya hanya ingin mengatakan bahwa saat ini Allah benar-benar ingin melihat semangat dakwah kita dan menguji keimanan kita apakah kita masih cinta kepadanya. Kita hari ini masih sangat beruntung bahwa allah masih mengingat dan cinta kepada kita, bahkan kita sangat khawatir apabila allah lupa dan tidak mau lagi menguji kita. Biarkan media-media sosial dan elektronik gencar menyebarkan fitnah tentang PKS keseluruh Indonesia dengan tujuan supaya masyarakat tahu, namun itu semua tidak akan ada artinya sebab Allah lah yang berkuasa dan berkehendak atas setiap sesuatu itu akan terjadi.

C. Istana Republik Indonesia

Ada kisah menarik yang terjadi dalam penggalian parit pada Perang Khandak. Kisah itu tentang 3 Istana yang besar, megah dan meriah yaitu Istana Romawi yang berwarna kemerahan, Istana Persia yang berwarna putih dan Kota Shan’a di Yaman yang begitu indah dimana dalam sejarah telah ditaklukkan oleh kaum muslimin. Hal ini sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah saw. kepada para sahabat pada masa perang khandak dengan apa yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Anis Matta kepada para kader dan simpatisan PKS ketika beliau diangkat menjadi presiden PKS, dengan mengatakan antara jarak sumur dan istana sangat dekat. Adapun tujuan Rasulullah mengatakan hal itu untuk mengajarkan para sahabatnya agar memiliki obsesi yang jauh lebih besar dalam meraih peradaban. Bukankah Persia, Romawi dan Yaman adalah tiga negara adidaya saat itu. Dimana jika dibandingkan dengan posisi kaum muslimin belum sepadan apalagi diatas mereka semua, namun itulah obsesi besar yang dimunculkan Rasulullah saat itu, ketika para sahabat merasakan ketakutan melawan pasukan ahzab yang berkelas. Begitu juga dengan kondisi dakwah yang kita rasakan saat ini, kita tidak mempunyai media, kekuasaan belum kita pegang, lembaga-lembaga yudikatif belum dikuasai, namun Ustadz Anis ingin mengajarkan kepada kita bahwa Istana Republik Indonesia sangat cepat dan akan mudah kita mendudukinya.

Kisah itu bermula dari penggalian parit dalam perang khandak hampir selesai dan para sahabat mencium kedatangan pasukan musuh. Aroma keangkuhan pasukan ahzab sudah tercium oleh para sahabat. Akan tetapi, tiba-tiba muncul masalah teknis, yaitu ada satu regu penggali parit yang kesulitan menyelesaikan pekerjaannya. Mereka menemukan ada sebongkah batu yang sangat besar dan keras yang sangat sulit untuk dipecahkan. Hampir semua seluruh sahabat yang berada pada regu ini mencoba untuk memecahkan batu itu, namun tidak berhasil juga. Sehingga salah seorang sahabat mengadukan perihal batu yang satu ini belum terpecahkan. Para sahabat merasa khawatir dan panik, sebab dari batu ini bisa menjadi celah masuk ke kota madinah oleh pasukan musuh. Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya, Nabi Muhammad saw. mengatakan, “Biarkan aku yang turun.” Kemudian beliau mendatangi tempat tersebut, Nabi saw segera mengambil martil sambil mengucapkan takbir, “Allahu Akbar.” Dengan ayunan tangan yang keras maka pukulan pertama, beliau menghancurkan satu bagian dari batu. Para sahabat melihat ada percikan api yang tinggi akibat kerasnya pukulan Rasulullah, para sahabat terkejut dan terheran-heran sambil bertakbir. Kemudian Rasulullah saw. mengatakan, “Allahu Akbar !!!, kunci-kunci syam telah diberikan padaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istananya yang berwarna kemerahan.”

Pada pukulan yang kedua, para sahabat menyaksikan pemandangan yang sama, yaitu percikan api yang tinggi akibat pukulan Rasulullah. Para sahabat kembali bertakbir, kemudian Rasulullah mengatakan, “Allahu Akbar !!! kunci-kunci persia telah diberikan kepadaku. Demi Allah aku tengah melihat istana-istana kota berwarna putih.Pada pukulan ketiga atau yang terakhir Nabi saw. pada akhirnya membuat batu besar itu menjadi pasir yang berserakan, diiringi percikan api. Kemudian Rasulullah mengatakan, “Allahu Akbar !!! kunci-kunci Yaman telah diberikan pula kepadaku. Demi Allah kini aku telah melihat pintu-pintu kota Shan’a dari tempatku ini.” Dengan demikian, hilanglah sudah batu besar yang menghalangi penggalian parit tersebut.

Hanya ada 3 partai besar yang akan kita hadapi dalam pemilu 2014 nanti, insya allah kita memenangkan dakwah ini. Tidak ada jalan lain, tidak ada jalan keluar untuk kita saat ini dalam menghadapi cobaan dan tantangan yang kita rasakan hari ini saudaraku, kecuali hanya bersabar dan selalu meminta pertolongan pada Allah. Mari kita tingkatkan ukhuwah kita, keimanan kita dan kesabaran kita dalam membela agama Allah. Firman Allah dalam surah Muhammad ayat 7:

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Penulis:

Mangaraja Halongonan Hrp, S.PdI (Sang Dhaif)


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: