h1

Freedom of Expression

May 12, 2013

13683553311837436321

Ini salah satu dari lima kelas yang ada dalam acara ASEAN Blogger Festival. Sebenarnya saya juga cuma ikut-ikutan doang kelas ini. Hehe. Awalnya rada bingung juga apa yang dibahas di kelas ini. But, enjoy it aja lah.

Beruntung ni kelas gak serius-serius amat tapi substansinya tetep dapet. Pembicaranya (haduh saya lupa namanya). Hehe. Yang pasti orangnya gaul and asik. Bikin kelas jadi interaktif. Dengan bahasa pengantar Indonesia dan Inggris soalnya di kelas ini juga ada orang dari Malaysia, Kamboja dan Filipina.

Awalnya saya bingung karena saya gak bawa buku catatan atau pulpen sama sekali. Laptop atau sejenisnya juga gak bawa. Di dalam tas cuma ada HP, dompet sama novel. Terpaksa harus merekam pakai otak apa yang di bahas di kelas yang berisi sekitar empat puluh orang ini.

Pertama kali, jelas kami ditanya apa yang pertama kali terpikir jika mendengar kata “Freedom of Expression”. Jawabannya tentu beragam. Beberapa yang masih terekam baik di otak adalah, freedom of expression is freedom to speak, freedom is the basic of human right de el el.

Kemudian ‘Ammu Dian Kelana (saya biasa memanggil beliau dengan sebutan ‘Ammu-paman) angkat bicara. Beliau memaparkan bahwa kebebasan berpendapat adalah hak setiap orang. Namun, di dalam hak itu ada juga hak orang lain yang harus kita jaga. Jadi, dalam mengemukakan pendapat kita harus melakukannya dengan bertanggung jawab. (kira-kira begitulah yang saya ingat).

That’s the point. Bahwa setiap orang memang bebas mau berpendapat apa saja. Bukankah setiap kepala punya isinya masing-masing. Kalo ada seratus orang dalam sebuah ruangan, lalu mereka ditanya tentang sebuah permasalahan, kemungkinan besar akan ada seratus pendapat yang berbeda. Meskipun beberapa orang mungkin memiliki pendapat yang substansinya sama. Tapi dari cara mengungkapkan, diksi dan gaya bahasa yang dipilih pastilah berbeda. Karena memang hakikat setiap orang berbeda. Apalagi dalam hal berpendapat semacam ini.

Jadi ingat, kira-kira dua hari sebelum acara ini, saya dan teman teman seangkatan sedang dalam proses voting untuk menentukan model remenberence book angkatan kami. Wah, bayangkan dari 90 anak, ada banyak banget komentar (saya sampe lupa jumlahnya). Ya iyalah, karena setiap anak punya pendapatnya masing-masing. Mulai dari yang logis, sampai nyeleneh bin aneh.

Back to topic, sebebas apapun kita berpendapat, ingat ada hak orang lain dalam kebebasan itu. disinilah pentingnya saling menghargai. Salah satu caranya dengan menghormati hak-hak orang lain. Kita boleh saja menyusun kata dari huruf A sampe Z, tapi ingat, pilihlah diksi dan cara yang baik untuk mengungkapkan apa yang menjadi pendapat kita. Disitulah titik dimana kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita ungkapkan.

Sebab, kita hidup di dunia juga cuma sementara, kalo kita mau dihargai pendapatnya, perhatikan cara kita menyampaikan pendapat terhadap orang lain. Bebas, tapi bertanggungjawab.

Selamat menikmati kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab.


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: