h1

Ini Urusan Wanita Cantik, Bukan Urusan Sapi dan Politik

May 11, 2013

OPINI | 11 May 2013 | 06:34 Dibaca: 26   Komentar: 0   Nihil

13682287561723738297

ilustrasi: 123rf.com

INI bukan urusan politik. Ini urusan wanita-wanita cantik. Wanita-wanita yang bisa dibayar sepuluh juta hanya untuk menemani minum-minum di hotel elit. Diberi mobil cantik karena ia seorang teman.
Sayangnya, mobil itu kemudian mesti direbut oleh pihak yang mengatasnamakan Negara. Sehingga wanita-wanita cantik itu harus pulang naik taksi – yang ada dan sedikit mengurangi gengsi daripada naik Transjakarta atau bajaj.
“Bapak itu bukan orang partai,” aku seorang wanita cantik bernama Septi Sanustika, istri bukan orang politik di Metro TV, pukul 17.25 Wib (8/5). Penjelasan latar belakang Septi Sanustika: istri bukan istri pertama Ahmad Fathanah.
Benarlah Septi. Lelakinya, tepatnya, suaminya hanya seorang yang berhubungan dengan orng politik – petinggi partai yang sekarang sama-sama menjadi pesakitan dari KPK, Lutfhi Hasan Ishaaq. Tentang apa? Bukan tentang politik. Kecuali soal si paha-paha putih mulus – kali ini bukan milik wanita-wanita cantik. Tapi sapi. Impor pula. Terbayang mulusnya.
Menjadi rancu, jika sampai di sini tak dijelaskan. Kenapa wanita-wanita cantik, bahkan seorang artis kondang, model majalah pria dewasa serta konon sebutan membingungkan: Ayam Kampus. Mereka direnteng dan direken, hanya sebatas teman. Atau artis professional. Meski dengan mudahnya seorang teman berjenis kelamin wanita mendapat uang sepuluh juta untuk sekali ngobrol-ngobrol tak penting. Atawa mobil yang pas untuk wanita: kinclong.
Jika diikuti dari pemberitaan infotainment, mungkin klop. Karena seorang wanita cantik (meski tak bisa dibilang muda lagi dan beranak lebih dari empat orang) ini layak menjadi nara sumber. Sayangnya, nara sumber yang juga tak bisa dipercaya. Pertama menyebut: Saya tidak menerima uang. Pada hari berikutnya ia mengembalikan sejumlah uang dari “kegagalan” ia dikontrak sebagai seorang entertainer. Tepatnya sebagai pengihibur. Entengan.
Negeri ini menjadi indah dengan hiasan wanita-wanita cantik di sekitar (bukan) orang politik. Itu apabila mereka tidak ditarik-tarik untuk urusan yang berbau politik. Setidaknya, kenapa wanita-wanita ini berhubungan dengan orang penting partai politik. Kalau tidak, kan KPK tak perlu mengambil mobil-mobil “milik” wanita-wanita cantik itu. Juga mobil-mobil yang (bakal) disita dari orang politik yang menjargonkan politik “bersih” itu. Meski yang belakangan sempat “adu argumentasi” laiknya politkus yang senang dengan debat tak berujung.
Wanita, Harta, Kuasa baru menjadi klop di sini. Paling tidak, wanita-wanita itu melenakan orang-orang yang punya “kuasa” di partai politik. Sehingga harta (mobil) bagian dari sebuah pelengkap bahagia bagi orang-orang yang bersinggungan dengan politik, pada titik temu: wanita cantik, mobil dan tunggangan kekuasaan.
Wanita-wanita cantik, duhai kenapa Anda kini menjadi penghias berita yang tak mengasyikan. Bukan tentang prestasi-reputasi-prestise di dunia – sebutlah hiburan – yang selayaknya dijalani. Kecuali sekarang boleh jadi memiriskan kaum Hawa. Sedemikian mudah dan murah hanya untuk minum-minum menemani orang politik. Lalu digerebek oleh KPK. Lalu mobil-mobil itu disita. Lalu wajah disorot kamera bukan untuk sebuah pencitraan seorang wanita cantik yang punya prestise. Martabat.
“Kucing, walau sudah kenyang, kalau ada daging di depannya, akan dicium-cium juga,” jelas Septi, wanita cantik berpakaian gamis nan modis dalam wawancara langsung di Metro TV itu lagi. Dan kemudian ia menganalogikan suaminya (yang beristri lebih dari seorang) sebagai bermartabat. “Kalau wanita bermartabat, kan suami saya nggak mungkin ….”
Ah, ya mungkin wanita cantik yang menggoda suami Septi yang teman orang penting partai politik itu ya cukup “martabak”. Mungkin, lho ya? Ya jajanan yang mudah dan murah dibeli pada sore hingga malam hari. Teng, teng! ***

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: