h1

KAYA DENGAN MEMBACA SASTRA?

May 8, 2013

OPINI | 08 May 2013 | 14:24 Dibaca: 3   Komentar: 0   Nihil

Sastra menggambarkan kehidupan suatu masyarakat, dan melalui karya sastra pula identitas atau peradapan suatu bangsa dapat dikenali. Bahkan melalui karya sastra emosi, perasaan, atau naluri manusia dapat tercermin. Dengan kata lain melalui karya sastra kita dapat mengidentifikasi perilaku atau moral suatu bangsa. Oleh karena itu memang selayaknya kalau generasi muda Indonesia pun harus mau membaca karya sastra Indonesia agar mereka mengenal betul bangsanya sendiri.

Sayangnya, kemajuan dan perkembangan arus teknologi informasi yang semakin pesat ini pun telah melemahkan minat baca. Di mata generasi muda membaca dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, jadul, nggak keren, bahkan mengadopsi bahasa anak muda zaman sekarang cupu alias culun punya. Di tengah arus informasi yang global ini minat baca menjadi semakin rendah khususnya membaca karya sastra negeri sendiri yang sarat akan pesan-pesan moral. Menangkap fenomena ini layak menjadi suatu keprihatinan bagi kita yang peduli terhadap kelestarian budaya. Banyak pihak yang menganggap bahwa rendahnya minat baca di Indonesia ini menjadi masalah yang harus disikapi. Pada hal dengan membaca sebenarnya pembaca diajak untuk kritis dan analitis terhadap setiap persoalan. Hal ini menjadi salah satu penyebab generasi muda lebih benyak melakukan hal-hal negatif karena hatinya kurang terasah.

Ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat membaca generasi muda. Memang bukan semata-mata kesalahan generasi muda, banyak juga peran serta kita sebagai guru maupun orang tua. Ketika dalam suatu keluarga orang tua selalu mengisi waktu libur dengan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan pasti hoby anaknya juga hang out. Tentu anak tidak mengenalkan budaya membaca akibatnya membaca bagi seorang anak menjadi sesuatu hal yang asing dan membosankan. Sebaliknya jika dalam keluarga orang tua sering mengajak anaknya mengisi waktu libur dengan berjalan-jalan ke toko buku pasti anak juga akan mencari buku untuk mengisi waktu luang. Dengan sendirinya, membaca akan menjadi suatu kebiasaan dan kebutuhan.

Namun sebenarnya tidak ada kata terlambat, kita bisa membudayakan membaca dalam setiap kehidupan kita apa pun profesi kita. Hal ini juga saya lakukan terhadap anak didik saya, dengan harapan mereka akan mempunyai minat baca untuk mendukung kesuksesan mereka di kemudian hari. Adapun cara yang saya lakukan melalui SSR : Sustained Silent Reading. Melalui kegiatan ini kita mempunyai waktu pribadi untuk membaca, yang dalam hal ini bukan membaca koran atau majalah tetapi membaca buku sesuai dengan kegemaran kita. Nah, tentunya karena saya guru bahasa saya menyisihkan waktu saya sebelum pengajaran selama 15 menit untuk mengajak siswa membaca. Dalam kegiatan ini saya mencoba untuk menumbuhkan minat baca siswa terhadap karya sastra Indonesia. Saat siswa masuk ruangan, biasanya saya sudah memutar lagu-lagu intrumentalia. Siswa masuk memilih tempat duduk kemudian harus mengeluarkan novel sastra Indonesia dan mulai membaca sampai timer tanda waktu membaca selesai dan pembelajaran siap dimulai. Melalui kegiatan ini meski masih sangat sedikit, menjadi salah satu upaya yang saya lakukan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang terkandung dalam karya sastra. Dengan membaca karya sastra pun kita diperkaya dengan wawasan, kosa kata, dan yang lebih penting adalah pola pikir. Mari kita budayakan membaca untuk menambah wawasan dan cakrawala berpikir kita. AST

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: