h1

Ternyata Surga dan Neraka Kita yang Memilihnya Sendiri (?)

May 11, 2013

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Biarlah sedu sedan itu. Mungkin dengan itu kita mengerti. Bagaimanakah ketika kita menyadari keadaan diri. Sedu sedan menahan kesedihan. Itulah suatu keadaan kesadaran. Suasana ketika kita diliputi  perasaan. Bukankah kita serasa ada. Meski hanyalah semisal residu rahsa saja. Itulah eksistensi kita sebagai manusia. Setiap manusia memiliki rahsa sedih itu. Jadi janganlah berbangga jikalau kita tidak pernah menikmati rahsa sedih. Sebab pastilah itu bukan manusia.

Manusia berbangga dengan suka. Banyak cita yang dirasakan. Bukankah sama saja. Dimanakah suka jika tidak ada duka ?.  Adakah manusia yang sadar saat ketika sedang dibuai kesenangan. Hmm.. sedikit sekali manusia yang sadar saat ketika senang.  Bukankah sesungguhnya sama saja keadaannya. Rahsa senang adalah suatu keadaan dimana kita sedang diliputi rahsa suka-cita. Ketika diliputi rahsa senang, maka terasa  yang sangat nyata. Sehingga rahsa lainnya menjadi ghaib. Dia menjadi hilang empati kepada manusia lainnya yang sedang sedih hatinya. Dirinya melakukan ‘blocking’, “Untung bukan dirinya”.

Sebab memang karena, dirinya tidak dalam keadaan rahsa yang sama. Sulit bagi dirinya yang sedang dalam suka memahami rahsa sebaliknya. Maka dirinya menjadi manusia yang sombong dengan rahsa itu. Maka janganlah merasa sedih jika kita tidak pernah merasakan senang. Sebab semua rahsa sama saja keadaannya. Semua akan dapat memalingkan diri kita sebagai manusia.

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Malam dan siang ~ dualitas yang meski dilalui manusia dalam perjalanan hidupnya. Maka siapakah yang tak suka malam. Bersiaplah dia dalam ketakutan. Maka siapakah yang tak suka panasnya siang. Maka bersiaplah dirinya dalam kehampaan. Siang dan malam adalah baju dalam kesadaran. Semua manusia akan berpersepsi atas siang dan malam dengan logikanya.

Namun percayalah bahwa semua manusia pasti melalui semua itu. Tak peduli, meskipun apa kata mereka tentang itu. Tunggulah saja saatnya. Tidakkah sebaiknya kita bersiap dipergilirkan rahsa ?. Sebab setiap diri manusia pasti akan merasakan pergolakan itu ; dualitas ~ sedih-senang. Pergantian benci dan cinta. Ketakutan dan nelangsa. Begitu juga dengan ikhlas dan dendam.  Mampukah manusia menghindarinya ?. Rahsanya tidak !. Sebab disinilah ujian keimanan bagi manusia.

Sekali lagi, semua manusia pasti akan melaluinya. Tidak miskin atau kaya. Tidak peduli dia Islam, Kristen, Yahudi, Sabiin, atau lainnya. Tidak peduli itu siapa sebab itulah kehidupan. Rahsa-rahsa itu akan memalingkan diri kita. Memalingkan wajah kita dari Tuhan. Ketika sedih datang, bersiaplah amati, jangan sampai kita terlepas menghujat Tuhan. Mempertanyakan keadilannya. Sebab selewat sedih pasti giliran senang akan menghampiri. Dengan berkali lipat rahsanya dan derajatnya. Maka dikatakan manusia yang diuji akan dilipatkan pahala dan derajatnya di mata Allah. Maka tak selayaknya kita berduka saat sedih datang.

Manusia akan dalam melewati malam dan siang yang sama setiap jamnya. Tidak ada yang dirugikan satupun. Tidak ada yang dilebihkan atau dikurangi waktunya sedetikpun. Satu hari  adalah 24 jam yang sama. Mengapakah manusia masih mempertanyakan keadilan Tuhan ?. Jika kita meraa tak sama dengan manusia lainnya. Sungguh semua itu hanyalah permainan logika.

Yang penting adalah bagaimana manusia memaknai. Itu saja yang membedakan diantara mereka. Pemaknaan tersebut akan tampil dimuka sebagai akhlak yang nyata. Dia tidak sedih kehilang suka. Dan dia juga tidak terkesan suka cita jika kehilangan sedihnya. Dia hanya  berjalan menapaki apa adanya.Tiada bersedih hati, tiada khawatir dan tiada rahsa takut, meniti siang dan malamnya. Dengan langkah nyata.

Sekali lagi, meski semua manusia memiliki waktu yang sama. Mereka dibedakan dlam kemampuan diri mereka untuk memaknainya. Kemampuan dalam memaknai inilah yang pada gilirannya akan membedakan kualitas hidup mereka. Meskipun dia kaya tidak menjamin dirinya memiliki kualitas hidup yang baik. dDan juga sebaliknya, meskipun dia miskin belum tentu dia tidak memiliki kualitas hidup yang baik. Mungkin saja dia mampu memaknai hidup hingga dirinya merasa kaya raya. Begitulah Tuhan mengatur hukum keadilannya.

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Malam dan siang dualitas yang mestinya dilalui manusia dalam perjalanan hidupnya. Maka siapakah yang tak suka malam. Bersiaplah dia dalam ketakutan. Begitu juga,  siapakah yang tak suka panasnya siang. Maka bersiaplah dirinya dalam kehampaan. Maka Islam mengjarkan agar jiwa manusia, menuju kepada makom jiwa tenang, puas lagi ridho. Sebab di dimensi inilah jiwa manusia akan selalu merasa bahagia. Meskipun dualitas datang silih berganti.

Maka bagaimanakah jika malam dan siang tidak ada ?. Apakah mungkin  ada dimensi dimana tidak ada malam dan siang. Dimensi dimana tidak ada sedih dan senang. Jawabnya hanyalah walouhualam. Sebab manusia memang bermimpi dia ada disana dan  bersiap kesana. Maka tunggulah saja saatnya, pasti saatnya akan tiba. Mungkin saja disana kita tidak perlu bersusah payah  memaknai keduanya. Dan nanti akan terbukti siapakah yang benar. Diantara manusia yang ber-serah (Islam) dan yangtidak.

Jika di dunia saja mereka sudah mampu berada dalam makom Islam (makom jiwa tenang, puas lagi ridho), maka insyaallah mereka tidak bersusah payah lagi untuk mendapatkan makom tersebut disana.  Sebab mereka sudah mampu memindahkan dimensi itu dalam hatinya. Itulah yang menjadi sebab mengapa kualitas hidup manusia berbeda. Keadaan yang kemudian dipahami manusia sebagai surga dan neraka.

Jika kualitas hatinya ikhlas maka dia akan berada di surga, jika sebaliknya maka pastilah dia dalam keresahan yang nyata dan itulah neraka. Oleh karena itu, maka manusia pasti pernah menikmati rasanya neraka dan juga rahsanya surga dalam hati mereka. Mereka tahu keadaan dimensi hati mereka sendiri. Pasti mereka tahu sendiri.

Sayangnya manusia sering terhijab logika dan pandangan mata, menganggap orang lain lebih baik dari dirinya, sehingga merasa Tuhan tidak adil atasnya. Inilah muasal benih api neraka. Maka perhatikanlah hati kita, sesungguhnya kita sendiri tahu ada pada dimensi manakah itu !. Apakah surga ataukah neraka.

Dan keadaan susana hati, inilah yang akan menjadi sebab mengapa diri kita disana. Yaitu bagaimana keadaan susana hati kita  saat dipanggil-Nya. Apakah saat itu sedang di dimensi surga ataukah pada dimensi neraka. Jadi keadaan suasana inilah yang menyebabkan kita akan ditempatkan dimana, apakah surga atukah neraka. Ternyata surga dan neraka kita yang memilihnya sendiri.

Sekali lagi, saat terkini suasana hati kita pada saat mana kita dipanggil-Nya, itulah yang menetukan diri kita di surga ataukah di neraka. Maka berhati-hatilah dengan lintasan hati kita sendiri.  Bukankah kalau begitu kita sendiri yang menentukan surga ataukah neraka ?. Dan Tuhan hanya pengabul doa kita. Tuhan akan mewujudkan apa-apa yang ada di lintasan hati kita. Sebab DIA Maha Pengabul doa. Maka perhatikanlah hati kita sebab itu adalah doa kita. Perhatikanlah pergilirannya di setiap detiknya. Sebab karena itulah, mengapa kita perlu selalu ingat Allah. Hati kita selalu ber dzikir.

Walohualam


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: