h1

Privasi…

May 10, 2013

OPINI | 10 May 2013 | 20:34 Dibaca: 12   Komentar: 0   Nihil

Berprivasi sering dianggap tidak terbuka.
Sejatinya, privasi malah menumbuhkan
percaya dan saling menghargai
Setelah pernikahan dilangsungkan, agenda
selanjutnya yang dijelang oleh setiap
pasangan adalah adaptasi. Meski sudah
mengenal bahkan telah berteman sekian
tahun, pasti ada saja masalah yang harus
diadaptasikan. Salah satunya adalah masalah
privasi.
Setiap orang pastinya memiliki pribadi yang
berbeda dan kecenderungan yang berbeda.
Menghormati perbedaan inilah sesungguhnya
arti privasi. Kita menghormati bahwa
pasangan kita memiliki hobi yang berbeda
dan
menginginkan waktu untuk menikmati hobi
tersebut sendiri saja, inilah yang disebut
dengan privasi.
Karena privasi sejatinya adalah naluri, maka
kita pun dituntut untuk senantiasa berhati-
hati
dalam menjaga yang satu ini.
bila ada yang mencoba mengusiknya tentu
kita
akan merasa terganggu. Dengan demikian,
ketika sudah menikah, perlu disepakati batas-
batas wilayah privasi masing-masing orang
yang tak boleh dilanggar.
Privasi akan membuat kita
belajar untuk saling mempercayai dan
menghargai. Kita akan lebih ringan untuk
menerima setiap sikap yang dipilihnya bila
memang berdasarkan itikad untuk
membahagiakan. Kita pun menjadi orang
yang
senantiasa menyadari bahwa Allahlah Yang
Maha membolak-balikkan dan menjaga hati…
Tak selamanya blak-blakan dan jujur apa
adanya, baik untuk kehidupan
berumahtangga.
Mari menyimak sejenak, apa yang pernah
Rasulullah lakukan terhadap istri-istrinya
manakala mereka menanyakan kepada
Rasulullah siapakah istri yang paling
disayanginya. Lelaki yang penuh kasih ini
tidak
lantas menjawab dengan “jujur” siapa yang
paling disayanginya. Ia hanya tersenyum dan
menjawab, “Aku akan beritahukan kepada
kalian nanti.”
Setelah itu dalam kesempatan yang berbeda,
Rasulullah kemudian menggenggamkan
sebuah cincin pada masing-masing istrinya
seraya berpesan pada setiap istri bahwa
cincin
ini adalah tanda cinta mereka yang terlalu
indah untuk dibagikan kabarnya pada orang
lain.
Di kemudian hari ketika para istri berkumpul
kembali dan menagih jawaban dari suami
terbaik ini, lisannya berucap, “Yang paling aku
sayangi adalah dia yang kuberikan cincin
kepadanya.” Maka setiap istri pun berbunga
hatinya dan merasa bahwa ialah yang
terindah.
Inilah teladan yang diberikan oleh Rasulullah
bahwa kejujuran tak selalu berarti membuka
apa adanya semua hal. Percaya pun tidak
selamanya dibangun dari kejujuran, apabila
kejujuran tersebut tidak ditempatkan dalam
sikap yang bijak. Yakinlah bahwa setiap orang
diberkahi naluri untuk melindungi orang yang
disayanginya dalam keadaan baik. Karena itu,
jangan ragukan pasangan Anda sebagai
seorang khalifah Allah yang senantiasa
menjaga amanah-Nya dalam kebaikan, yaitu
Anda. 😉

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
%d bloggers like this: