Posts Tagged ‘yang’

h1

Rumah tangga yang cekcok tapi menghasilkan uang

May 13, 2013

REP | 14 May 2013 | 00:28 Dibaca: 7   Komentar: 0   Nihil

Anda mungkin tahu,kalau ada peribahasa yang mengatakan” buah itu jatuhnya tak jauh dari pohonnya”

Nah begitu juga dengan keluarga ini. Ayahnya seorang hakim, ibunya pengacara.Nah kedua anaknya pun jadi pengacara ternama dikota tersebut.

Suatu hari dalam sebuah kasus mereka menangani cleint yang berbeda tapi masih dalam satu kasus. Tentunya tak dapat dielakan lagi.. Dimeja persidangan pasti akan terjadi saling ngotot untuk membela kleinnya masing2…..nah….itu semua demi bayaran atau katakanlah uang.

Sedangkan setelah pulang kerumah merekapun rukun kembali dan makan bersama disatu meja makan dengan makanan yang dibeli dari hasil percekcokan mereka…

Inilah kisah percekcokan yang menghasilkan uang….

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

Advertisements
h1

Bacaan Bagi yang Tau Maknanya

May 13, 2013


Kompasiana

h1

Mengapa LHI yang Disidik, PKS yang Kebakaran Jenggot?

May 12, 2013
1368372584374484522

Mobil-mobil milik LHI yang akan disita KPK. Foto: KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN

Sangat mencurigakan melihat PKS yang kebakaran jenggot seperti saat ini. Karena kedudukannya ‘kan sudah jelas. Yang disidik KPK adalah LHI Cs sebagai person, bukan PKS sebagai institusi partai. Begitupun barang-barang yang disita KPK, adalah mobil-mobil kepunyaan Luthfi Hasan Ishaaq (LHI), bukan punya PKS.

Namun yang kentara mencak-mencak atau kebakaran jenggot adalah PKS, bukan LHI. LHI malah senyum-senyum saja sambil mengacungkan tiga jari ketika tersorot kamera wartawan. Sama sekali tak terlihat upaya LHI menggugat balik KPK.

Sebagaimana luas diberitakan, PKS melalui pengurus DPP-nya akan melaporkan penyidik dan jubir KPK ke kepolisian atas upaya penyitaan yang dilakukan KPK pada hari Selasa (7/5/2013) lalu. Demikian dikemukakan Wasekjen PKS Fahri Hamzah hari ini, Minggu (12/5/2012).

Ada dua keanehan atau kejanggalan atau ketidaktepatan atas rencana upaya hukum yang akan ditempuh PKS tersebut. Pertama, PKS tidak memiliki kedudukan hukum untuk melaporkan personil KPK ke penegak hukum manapun terkait penyitaan asset atau mobil-mobil pribadi milik LHI.

Yang memiliki kedudukan hukum untuk melaporkan atau menggugat KPK terkait penyitaan mobil LHI demikian adalah LHI sendiri atau kuasa hukumnya. PKS sebagai institusi partai jelas bukan kuasa hukum LHI.

Taroklah digunakan dalil bahwa PKS dititipi mobil oleh LHI, karenanya PKS bertanggung jawab menjaga titipan LHI tersebut. Namun dalil dititipi tersebut tetap saja tak menjadikan PKS berkedudukan hukum untuk menuntut atau menggugat KPK atau personil KPK.

Kedua, dikatakan Fahri Hamzah bahwa yang akan dilaporkan ke polisi bukan institusi KPK melainkan pribadi penyidik dan jubir KPK Johan Budi. “Ini tidak ada hubungannya dengan institusi, ini hubungannya dengan 10 orang yang datang ke PKS dan Johan Budi yang membuat pernyataan yang fatal,” tegas Fahri Hamzah sebagaimana dikutip dari detik.com (12/5/2012).

Tentu saja aneh pendirian PKS demikian. Sebab, tindakan penyidik dan jubir KPK dalam rangka menjalankan tugas institusi KPK berdasarkan undang-undang. Namun yang dilaporkan ke polisi adalah pribadi penyidik dan jubir KPK.

Dalam hubungan ini, memang sudah pasti bahwa tidak tepat membawa kasus penyitaan demikian ke kepolisian. Alasannya, penyitaannya sendiri belum berhasil atau gagal, baru sekedar mobil digembok bannya saja, dan mobilnya sendiri belum dibawa oleh KPK. Dalam kaitan ini, langkah yang tepat adalah, LHI (bukan PKS) menempuh gugatan ke pengadilan.

Dari dua poin uraian di atas terlihat dengan jelas, bahwa serangan balik PKS pada KPK nampak sangat dipaksakan dan mengada-ada. Tentu timbul pertanyaan, ada apa?

Dugaan penulis, tentu ada alasan amat sangat kuat dan mendesak sehingga PKS sampai kalap seperti saat ini—tidak bisa lagi membedakan mana ranah partai dan mana ranah pribadi kadernya yang diproses hukum pidana.

Tak salah lagi. PKS sedang merasa terancam! Indikasi PKS merasa terancam terlihat dari rapat-rapat Majelis Syuro PKS secara maraton dalam dua hari ini, Sabtu-Minggu (11-12/5/2013). Rapat itu sendiri tertutup pada pihak luar, namun ditengarai bentuk penyikapan PKS terhadap perkembangan kasus LHI.

Langkah PKS saat ini merupakan bentuk pertaruhan hidup dan mati. Dimana PKS sebagai institusi terancam atas dugaan adanya aliran dana ke internal PKS dari LHI dan Ahmad Fathanah (AF) terkait proyek impor sapi.

Agak sulit diterima akal sehat pengumpulan dana yang dilakukan tersangka LHI Cs tak ada masuk agak sekian rupiah ke kantong partai. Internal PKS sepertinya menyadari hal ini. Demikian pula LHI. Langkah LHI memindahkan mobil-mobilnya ke kantor DPP PKS merupakan isyarat politik kehendak LHI untuk melibatkan partai.

Jika dugaan ini benar dan kelak terbukti, maka warning dari peneliti ICW Tama S. Langkun bahwa PKS dapat dibubarkan jika terbukti menerima aliran dana pencucian uang, memiliki pijakan kebenaran. Inilah yang ditakutkan PKS sekarang.

Bukan apa-apa. Keyakinan penulis, aliaran dana itu memang ada. Logika sederhananya, yaitu kalau memang tidak ada aliran dana haram ke PKS, mengapa harus kelabakan begitu. Sebagaimana telah diutarakan di atas, bukankah posisi masing-masing  pihak (PKS dan LHI Cs) sudah jelas, bahwa yang disidik KPK adalah person LHI Cs (bukan PKS).

Perlawanan partai secara terbuka pada KPK demikian tidak terjadi, misalnya, saat kader partai PDIP, Golkar, dan Demokrat tersangkut perkara hukum di KPK. Contohnya, dalam kasus cek pelawat Bank Indonesia tempo hari. Institusi-institusi partai ini tidak pernah melaporkan KPK ke kepolisian.

Demikianlah. Hari demi hari PKS melakukan blunder menghancurleburkan citra partai ini di mata publik. Jargon partai “bersih, peduli, dan profesional” entah pergi ke mana. Makanya taglinenya sekarang diubah menjadi “cinta, kerja dan harmoni”.

(SP)


Kompasiana

h1

Ternyata Surga dan Neraka Kita yang Memilihnya Sendiri (?)

May 11, 2013

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Biarlah sedu sedan itu. Mungkin dengan itu kita mengerti. Bagaimanakah ketika kita menyadari keadaan diri. Sedu sedan menahan kesedihan. Itulah suatu keadaan kesadaran. Suasana ketika kita diliputi  perasaan. Bukankah kita serasa ada. Meski hanyalah semisal residu rahsa saja. Itulah eksistensi kita sebagai manusia. Setiap manusia memiliki rahsa sedih itu. Jadi janganlah berbangga jikalau kita tidak pernah menikmati rahsa sedih. Sebab pastilah itu bukan manusia.

Manusia berbangga dengan suka. Banyak cita yang dirasakan. Bukankah sama saja. Dimanakah suka jika tidak ada duka ?.  Adakah manusia yang sadar saat ketika sedang dibuai kesenangan. Hmm.. sedikit sekali manusia yang sadar saat ketika senang.  Bukankah sesungguhnya sama saja keadaannya. Rahsa senang adalah suatu keadaan dimana kita sedang diliputi rahsa suka-cita. Ketika diliputi rahsa senang, maka terasa  yang sangat nyata. Sehingga rahsa lainnya menjadi ghaib. Dia menjadi hilang empati kepada manusia lainnya yang sedang sedih hatinya. Dirinya melakukan ‘blocking’, “Untung bukan dirinya”.

Sebab memang karena, dirinya tidak dalam keadaan rahsa yang sama. Sulit bagi dirinya yang sedang dalam suka memahami rahsa sebaliknya. Maka dirinya menjadi manusia yang sombong dengan rahsa itu. Maka janganlah merasa sedih jika kita tidak pernah merasakan senang. Sebab semua rahsa sama saja keadaannya. Semua akan dapat memalingkan diri kita sebagai manusia.

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Malam dan siang ~ dualitas yang meski dilalui manusia dalam perjalanan hidupnya. Maka siapakah yang tak suka malam. Bersiaplah dia dalam ketakutan. Maka siapakah yang tak suka panasnya siang. Maka bersiaplah dirinya dalam kehampaan. Siang dan malam adalah baju dalam kesadaran. Semua manusia akan berpersepsi atas siang dan malam dengan logikanya.

Namun percayalah bahwa semua manusia pasti melalui semua itu. Tak peduli, meskipun apa kata mereka tentang itu. Tunggulah saja saatnya. Tidakkah sebaiknya kita bersiap dipergilirkan rahsa ?. Sebab setiap diri manusia pasti akan merasakan pergolakan itu ; dualitas ~ sedih-senang. Pergantian benci dan cinta. Ketakutan dan nelangsa. Begitu juga dengan ikhlas dan dendam.  Mampukah manusia menghindarinya ?. Rahsanya tidak !. Sebab disinilah ujian keimanan bagi manusia.

Sekali lagi, semua manusia pasti akan melaluinya. Tidak miskin atau kaya. Tidak peduli dia Islam, Kristen, Yahudi, Sabiin, atau lainnya. Tidak peduli itu siapa sebab itulah kehidupan. Rahsa-rahsa itu akan memalingkan diri kita. Memalingkan wajah kita dari Tuhan. Ketika sedih datang, bersiaplah amati, jangan sampai kita terlepas menghujat Tuhan. Mempertanyakan keadilannya. Sebab selewat sedih pasti giliran senang akan menghampiri. Dengan berkali lipat rahsanya dan derajatnya. Maka dikatakan manusia yang diuji akan dilipatkan pahala dan derajatnya di mata Allah. Maka tak selayaknya kita berduka saat sedih datang.

Manusia akan dalam melewati malam dan siang yang sama setiap jamnya. Tidak ada yang dirugikan satupun. Tidak ada yang dilebihkan atau dikurangi waktunya sedetikpun. Satu hari  adalah 24 jam yang sama. Mengapakah manusia masih mempertanyakan keadilan Tuhan ?. Jika kita meraa tak sama dengan manusia lainnya. Sungguh semua itu hanyalah permainan logika.

Yang penting adalah bagaimana manusia memaknai. Itu saja yang membedakan diantara mereka. Pemaknaan tersebut akan tampil dimuka sebagai akhlak yang nyata. Dia tidak sedih kehilang suka. Dan dia juga tidak terkesan suka cita jika kehilangan sedihnya. Dia hanya  berjalan menapaki apa adanya.Tiada bersedih hati, tiada khawatir dan tiada rahsa takut, meniti siang dan malamnya. Dengan langkah nyata.

Sekali lagi, meski semua manusia memiliki waktu yang sama. Mereka dibedakan dlam kemampuan diri mereka untuk memaknainya. Kemampuan dalam memaknai inilah yang pada gilirannya akan membedakan kualitas hidup mereka. Meskipun dia kaya tidak menjamin dirinya memiliki kualitas hidup yang baik. dDan juga sebaliknya, meskipun dia miskin belum tentu dia tidak memiliki kualitas hidup yang baik. Mungkin saja dia mampu memaknai hidup hingga dirinya merasa kaya raya. Begitulah Tuhan mengatur hukum keadilannya.

Sesungguhnya tiada yang terbuang. Sebab malam juga tak menyisakan siang. Malam dan siang dualitas yang mestinya dilalui manusia dalam perjalanan hidupnya. Maka siapakah yang tak suka malam. Bersiaplah dia dalam ketakutan. Begitu juga,  siapakah yang tak suka panasnya siang. Maka bersiaplah dirinya dalam kehampaan. Maka Islam mengjarkan agar jiwa manusia, menuju kepada makom jiwa tenang, puas lagi ridho. Sebab di dimensi inilah jiwa manusia akan selalu merasa bahagia. Meskipun dualitas datang silih berganti.

Maka bagaimanakah jika malam dan siang tidak ada ?. Apakah mungkin  ada dimensi dimana tidak ada malam dan siang. Dimensi dimana tidak ada sedih dan senang. Jawabnya hanyalah walouhualam. Sebab manusia memang bermimpi dia ada disana dan  bersiap kesana. Maka tunggulah saja saatnya, pasti saatnya akan tiba. Mungkin saja disana kita tidak perlu bersusah payah  memaknai keduanya. Dan nanti akan terbukti siapakah yang benar. Diantara manusia yang ber-serah (Islam) dan yangtidak.

Jika di dunia saja mereka sudah mampu berada dalam makom Islam (makom jiwa tenang, puas lagi ridho), maka insyaallah mereka tidak bersusah payah lagi untuk mendapatkan makom tersebut disana.  Sebab mereka sudah mampu memindahkan dimensi itu dalam hatinya. Itulah yang menjadi sebab mengapa kualitas hidup manusia berbeda. Keadaan yang kemudian dipahami manusia sebagai surga dan neraka.

Jika kualitas hatinya ikhlas maka dia akan berada di surga, jika sebaliknya maka pastilah dia dalam keresahan yang nyata dan itulah neraka. Oleh karena itu, maka manusia pasti pernah menikmati rasanya neraka dan juga rahsanya surga dalam hati mereka. Mereka tahu keadaan dimensi hati mereka sendiri. Pasti mereka tahu sendiri.

Sayangnya manusia sering terhijab logika dan pandangan mata, menganggap orang lain lebih baik dari dirinya, sehingga merasa Tuhan tidak adil atasnya. Inilah muasal benih api neraka. Maka perhatikanlah hati kita, sesungguhnya kita sendiri tahu ada pada dimensi manakah itu !. Apakah surga ataukah neraka.

Dan keadaan susana hati, inilah yang akan menjadi sebab mengapa diri kita disana. Yaitu bagaimana keadaan susana hati kita  saat dipanggil-Nya. Apakah saat itu sedang di dimensi surga ataukah pada dimensi neraka. Jadi keadaan suasana inilah yang menyebabkan kita akan ditempatkan dimana, apakah surga atukah neraka. Ternyata surga dan neraka kita yang memilihnya sendiri.

Sekali lagi, saat terkini suasana hati kita pada saat mana kita dipanggil-Nya, itulah yang menetukan diri kita di surga ataukah di neraka. Maka berhati-hatilah dengan lintasan hati kita sendiri.  Bukankah kalau begitu kita sendiri yang menentukan surga ataukah neraka ?. Dan Tuhan hanya pengabul doa kita. Tuhan akan mewujudkan apa-apa yang ada di lintasan hati kita. Sebab DIA Maha Pengabul doa. Maka perhatikanlah hati kita sebab itu adalah doa kita. Perhatikanlah pergilirannya di setiap detiknya. Sebab karena itulah, mengapa kita perlu selalu ingat Allah. Hati kita selalu ber dzikir.

Walohualam


Kompasiana

h1

Pekerjaan Yang Tak Ia Sangka Sangka Sebelumnya.

May 11, 2013


Kompasiana

h1

TERNYATA MASIH ADA YANG MEMBACA

May 10, 2013

OPINI | 10 May 2013 | 16:01 Dibaca: 16   Komentar: 0   Nihil

Salah satu buku yang saya tulis, Menjadi Guru Inspiratif, Memberdayakan dan Mengubah Jalan Hidup Siswa, terbit pertama kali pada tahun 2009. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Pelajar Yogyakarta ini merupakan bagian dari sketsa pemikiran dan perjalanan hidup saya. Ada banyak cerita, teori, dan juga metodologi tentang guru yang mampu mengubah jalan hidup para siswanya.

Buku ini memberikan banyak berkah dalam hidup saya. Sejauh yang saya amati, buku ini telah diresensi di banyak media. Saya juga diundang bedah buku di berbagai tempat, seperti Tulungagung, Ponorogo, Madiun, Kebumen, bahkan hingga Pangkal Pinang.

Bagi saya sebagai penulis,  kebahagiaan datang saat karya saya dibaca dan diapresiasi. Bentuk apresiasinya tidak harus positif. Kritik pun harus saya terima dengan tangan terbuka karena itu menunjukkan mereka mau memerhatikan karya saya.

Empat tahun setelah buku tersebut terbit, ternyata buku saya masih ada yang meresensinya. Dan alhamdulillah, buku ini telah terbit sampai cetakan keempat.

Sebagai penulis kecil, ini merupakan penghargaan besar dalam hidup saya. Saya akan selalu belajar untuk menulis dan menulis agar bisa memberikan manfaat buat orang banyak.

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

h1

Rekam Laku Yang Ku Mau

May 10, 2013


Kompasiana