Posts Tagged ‘telah’

h1

Apa yang sesungguhnya telah terjadi ?!

May 9, 2013


Kompasiana

h1

Cerita Silam Telah Kelam

May 8, 2013


Kompasiana

h1

Buku Syair Jiwa Sahabat Kompasioner telah Terbit Membuatku Terpukau

April 28, 2013
1367117371356334909

Syair Jiwa Sahabat Erna Suminar (Dokpri)

Salah satu Kompasioner yang “mencuri hatiku” melalui kematangan refleksi dalam pemikirannya tentang hakekat pencarian jiwa untuk bersatu dengan yang ilahi adalah mba Erna Gunawan. Diam-diam saya selalu merindukan tulisannya, meski akhir-akhir ini dia jarang menulis di Kompasiana. Dari percakapannya di wall Facebook dengan teman-temannya saya mendapatkan alasan kefakumannya menulis di Kompasiana. Rupanya, ia sedang menerbitkan buku antologi “syair jiwanya” yang luar biasa itu. Dan buku antologi syair jiwanya telah terbit pada Maret 2013. Hati kecilku pun berkata: “Saya ingin sekali memiliki bukunya, bagaimana pun caranya!”

Ibarat kata pepatah, “pucuk dicinta ulam tiba,” kerinduan besarku untuk memiliki bukunya dan membaca syair jiwanya yang tergores di sana terpenuhi. Tanpa kuduga, melalui fasilitas pesan pribadi di Facebook, Mba Erna meminta alamat lengkapku pada 17 April lalu. Ia berniat mengirimkan bukunya untukku. Tanpa menunda, aku segera mengetik alamat lengkapku sambil mengucapkan terima kasih atas kesediaanya memberikan bukunya kepada seorang sahabat sederhana sepertiku. Dalam pesanku aku katakan, Mba Erna yang baik…itu alamat keberadaanku saat ini. Saya sangat merasa berbahagia bisa mendapatkan buah pena hasil refleksi mba Erna atas kehidupan….” Kemudian dijawab Mba Erna dengan kata-kata ini, Terima kasih Pater, saya pun sangat bahagia jika dapat berbagi apa yang saya rasakan dan pikirkan selama ini. Bukunya akan saya kirimkan..terima kasih untuk alamatnya Pater..”

Pada Kamis yang lalu sebuah pesan masuk dari Mba Erna, Pater, bukunya sudah saya kirimkan sejak hari Senin via kantor pos..semoga sampai..” Langsung kujawab hari itu juga, “Oke, makasih mba, biasanya agak lama. dulu bukunya Mba Leil Fataya hampir 3 minggu. Maklum, makin ke timur makin lelet hehehe.” Mba Erna yang sudah biasa bolak-balik Kupang, NTT-Bandung pun memakluminya dengan menjawab, “Saya sudah maklum Pater, karena sebagian hidup saya sekarang berada di NTT lumayan mengerti situasinya…duh…! #nyengir kuda..hehehe.”

Jauh dari prediksiku, Jumad, 26 April 2014, bel biara berbunyi dan seorang teman membukakan pintu. Ternyata seorang tukang pos mengantarkan kiriman dengan tulisan tangan Mba Erna sendiri pada alamatnya. Kirimannya pun sampai ke tanganku siang itu juga. Aku langsung membuka bingkisannya, mengambil bukunya dan terpampang Judul, Bukan Cinta  yang Buta, Engkaulah yang Buta. Perlahan kubuka halaman pertamanya dan di sana teruntai kata-kata tulus tulisan tangan Sahabatku, Mba Erna yang membuatku tersentuh, “Pater, tetaplah dalam jiwa pelayanan dengan kasih sayang takberbatas takbertepi. Bersamamu, aku menebar cinta. Bersamamu, aku menebar damai. Bersamamu, kita menyalakan terang. Sahabatmu.” Diakhiri tanda tangan khas-nya.

Kalimatnya sederhana tapi membetot jiwa. Dia muslimah, aku Kristiani. Dia mendoakanku, mendoakan panggilanku sebagai pastor. Dia tahu hakekat hidup sebagai seorang pastor. Dia menyuportku dengan doanya. Dia tidak memandang siapa aku, apa agamaku ketika mendoakanku. Masih berderet ungkapan kata hatiku kala membaca kata-katanya yang sangat mempribadi bagiku itu.

Sebagai ucapan terima kasih, aku segera membuka Facebook, mengirimkan pesan singkat kepada Mba Erna, “Mat malam Mba Erna…makasih banyak bukunya udah nyampe sore tadi…aku terharu membaca kata-kata dengan tulisan tangan Mba Erna sendiri…sebuah doa, dukungan, dan motivasi tulus dari Mba Erna, saya baru mulai membaca yang pertama….saya ingin menikmati setiap kata-frasa-dan kalimat yang terangkai, karena setiap kata-frasa-dan kalimat mengandung kekuatan. Makasih sekali lagi atas persahabatan….saya yakin ketika agama tidak berhenti pada dogma, ritual, atau ungkapan lain yang bersifat lahirian (esoteris) dan melangkah menuju dimensi yang lebih spiritual, ruhaniah, terkait perjalanan jiwa setiap insan menuju yang esa-satu yang disebut dengan berbagai nama yang adalah Sumber Kasih Sejati sehingga menjadikan kasih sebagai bahasa universal, maka itulah titik konvergensi pertemuan dialog antara agama yang melahirkan saling memahami, memaklumi, dan menghormati perbedaan “ungkapan” yang sifatnya lahiriah itu…”

Tanggapan Mba Erna membuat mulutku semakin kelu menyadari indahnya persahabatan tulus tanpa prasangka yang ditunjukkannya, Alhamdulillah, saya sangat senang buku itu telah sampai di tangan Pater. Terima kasih Pater untuk seluruh persahabatan yang tulusnya. Saya sangat bahagia..Sungguh! Pater, saya sampai kehilangan kata-kata untuk membalas kalimat-kalimat dari Pater di atas. Begitu dalam. Saya percaya, ada satu titik di mana manusia akan menyerah bahwa hanya cinta kasih yang akan mempertautkan seluruh hati manusia. Adapun perbedaan itu sesungguhnya sangat indah..jika manusia ingin menyelami makna. Pater..sampai saat ini, saya adalah seorang yang Insya Allah menyelami Al Qur’an..ia adalah kitab yang sangat indah..sarat dengan bahasa metafor yang tak bisa diterjemahkan secara harfiah. Tetapi, saya juga membaca Al Kitab, yang tak urung sering membuat mata saya berkaca-kaca..sangat menyentuh jiwa saya. Pada suatu malam, saya sempat bermimpi bertemu dengan Yesus Kristus..ia begitu anggun, terang dan tenang..saya sangat menghormati ummat Kristiani, dan mencintai mereka dengan sepenuh jiwa saya. Demikian pula, saya sangat mencintai umat Islam sebagai bagian dari tubuh saya..saya mencintai semua dan siapapun..dan juga, saya mencintai Pater.. Jabat erat, Erna.

Aku pun hanya bisa membalas ucapannya dengan berkata: “Mba Erna, saya dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Katolik fanatik di tempat umat mayoritasnya katolik dan jarang bersentuhan/bergaul dengan teman-teman beragama lain. Kemudian saya masuk seminari setingkat SLTP dan SMU susadah tamat SD dan hidup di asrama (kaya ponpes-mba erna pasti tahu). Jadi, sejak kecil kami telah dididik untuk menjadi pastor. Namun satu hal yang tidak akan pernah saya lupa dari kata-kata para pastor selama di seminari dalam proses pendidikan adalah “hargailah dan hormatilah umat beragama lain”-bahwa kasih itu harus menembus batas apa pun termasuk agama. Para pastor juga mengingatkan bahwa apapun karya kemanusian yang kami lakukan harus murni karena kasih, bukan karena hasrat untuk membaptis umat beragama lain yang dibantu dalam karya kemanusiaan semisal pendidikan/kesehatan. Benih toleransi ini kemudian semakin tumbuh besar ketika saya menamatkan seminari menengah (setingkat smu) dan harus berangkat menuju Bandung untuk menempuh pendidikan selanjutnya karena konggregasi/serikat yang saya pilih, tempat pendidikan lanjutannya kala itu berada di bandung. Ketika masuk Jawa, saya mulai merasakan apa artinya toleransi yang sesungguhnya. Selama di bandung ketika belajar di fakultas filsafat unpar saya mulai belajar Islamologi juga, dosennya Pak Amril Gafar Suni seorang muslim intelektual yang taat. Dia sangat baik mengajarkan Islamologi. Melalui beliau saya belajar khazanah pemikiran tokoh-tokoh besar Islam dalam sejarah seperti Al Gazali, Ibnu Sina, Ibnu Rust, dan Jalaluddin Rumi, dll. Saya mulai punya banyak sahabat muslim/muslimah di kampus. Dari mereka juga saya belajar bergaul tanpa prasangka. Selain itu, kami juga belajar tentang ilmu agama-agama lain. Karena itu, saya yakin bahwa semua agama mengajarkan bagaimana seharusnya mengasihi Allah dengan totalitas diri dan bagaimana kasih kepada Allah yang tidak kelihatan dengan mata telanjang menjelma/mewujud  dalam kasih kepada sesama manusia dana alam ciptaan yang lain tanpa prasangka. Inilah hakekat sejati dari ajaran setiap agama. Semua agama mengajarkan kebaikan yang harus bermuara pada inti diri/citra diri manusia sesungguhnya yakni kembali ke fitrahnya yang sejati yaitu “yang ilahi” yang masih mewadat dalam tubuh fana….

Jawaban Mba Erna membuatku semakin kagum akan keluasan dan kedalaman jiwanya sebagai seorang muslimah, Pater, terima kasih untuk kisah Pater dan catatannya yang benar-benar menunjukkan pribadi yang penuh cinta dan juga sangat intelek dan elegan. Saya merasa memiliki saudara dalam pemikiran, yang dianggap kebanyakan orang saling berseberangan dan sulit dipertemukan..akan tetapi, kita bisa saling menghormati dan mengasihi. Kita memiliki titik temu, yakni cinta kasih. Saya sangat mafhum ketika orang-orang Katolik mendirikan rumah sakit, sekolah dan kebaikan2 di antara umat lainnya sebagai pelayanan pada umat manusia sebagai wujud dari pengejawantahan dari ajaran cinta itu sendiri. Jika banyak orang salah memaknai, sesungguhnya mereka belum mengerti esensi dari ajaran Katolik dan memahami ajarannya dengan baik. Ketika semua orang sudah saling memahami, tak akan ada debat kusir soal agama dengan cara yang sangat tidak pantas dikatakan dan dilakukan oleh orang yang beriman. Semua yang terjadi bukan hanya menuai kebencian dan dendam, tetapi bisa lebih jauh dari itu. Saya rasa, itu sangat “merendahkan” Tuhan itu sendiri yang memiliki otoritas menciptakan manusia dengan aneka perbedaan untuk mengambil hikmah dan pelajaran. Pater, saya juga dlahirkan dari keluarga Islam yang taat namun berpikiran terbuka. Karena itu, saya disekolahkan di sekolah Katolik. Saya biasa bergaul dan bersahabat dengan lintas agama. Saya sering menyambangi biara, terkadang dulu diajak ke gereja karena gereja Santo Petrus ada tepat di di depan sekolah saya di SMA Mardi Yuana. Saya terkadang datang ke Vihara-Vihara…di sana saya mendalami ajaran Buddha..setelah itu, saya menjadi aktivis Islam yang memiliki warna beda.. Saya menyelami Jalaluddin Rumi. Tulisan-tulisan Rumi seperti al Qur’an yang kedua bagi saya. Demikian juga, saya membaca segala sesuatu yang berkaitan dengan filsafat Islam dengan tokoh tokoh yang disebutkan Pater. Saya memasuki dunia sufisme…”

Mba Erna, terima kasih untuk persahabatan tulusmu, untuk khazanah cinta yang engkau bagikan dari perspektifmu sebagai seorang muslimah sejati. Semoga kita tetap bersahabat dengan tulus, tanpa prasangka…..saya telah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan segala sesuatu yang saya rasakan oleh karena mendapatkan sahabat setulusmu.

Salam Hormat Sahabatmu.


Kompasiana

h1

Karena aku telah menyisipkan sebagian kecil hatiku untuk kau ketahui.

April 22, 2013
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Pribadi yang moody, tapi baik hati. Punya hobi menulis, membaca, dan mendengarkan musik. Suka tertawa dan suka banget sama pelajaran matematika. Lulus S2 dari Magister Sains Ekonomi Akuntansi UGM Yogyakarta Tahun 2012 silam. Sekarang bergelut di dunia editorial sampai jangka waktu yang belum ditetapkan. Saya bisa ditemukan di jati.ningrum.56@facebook.com, @ningrum1806, dan bahasahatiningrum.blogspot.com

OPINI | 22 April 2013 | 12:53 Dibaca: 14   Komentar: 0   Nihil

Aku tak terlalu memerlukan setiap lembar rupiah yang kau punya di dompetmu. Yang lebih kubutuhkan adalah ketulusanmu, untuk menerima setiap coretan kekuranganku.

Aku tak terlalu ingin memusingkan kenapa atap rumah kita bocor setiap hujan datang menghampiri. Yang lebih kuinginkan adalah kesetiaanmu, untuk selalu menemani dan menjagaku.

Aku sungguh tahu kamu hanyalah manusia yang juga tak sempurna, tapi kasih sayangmu terhadapku menjadikanmu terlihat indah di penglihatanku

Tengoklah pelangi setelah hujan reda nanti, karena aku telah menyisipkan sebagian kecil hatiku untuk kau ketahui.

(Ningrum, 2012)

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana