Posts Tagged ‘RUPIAH’

h1

APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN DENGAN UANG 2,49 TRILIUN RUPIAH?

April 18, 2013

“Membuat orang lain tahu saja itu sebuah pergerakan, mencerdaskan adalah tindakan, melakukan perubahan adalah pengabdian. Apatis boleh asal tidak menjatuhkan. HIDUP MAHASISWA!!”

~Ninette Ika Asyifa~

Sudah tahukah anda dengan kebijakan pemerintah yang terbaru terkait kurikulum pendidikan kita? Mungkin bagi sebagian teman-teman yang mengambil jurusan kependidikan sudah tahubanget. Yap! Kebijakan terbaru tersebut adalah “KURIKULUM 2013”.

APA ITU KURIKULUM 2013?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kurikulum di Indonesia yang sampai saat ini sedang berlaku adalah KTSP yang merupakan kependekan dari Kurikulum Tingkat Satuan Kependidikan. Nah,rencananya KTSP yang sudah eksis selama 6 tahun belakangan ini akan digantikan oleh KURIKULUM 2013 bulan Juli mendatang.

Terus apa itu kurikulum 2013? Ada apa di kurikulum 2013? Sebenernya sih tujuannya masih sama saja dengan KTSP yaitu untuk mengarahkan peserta didik agar berpikir kreatif, inovatif dan berkarakter. Mohammad Nuh mengatakan bahwa kurikulum baru yang tengah menjalani fase uji publik ini bertujuan utama  membangun kemampuan berpikir anak secara ilmiah. Dia yakin bahwa ini akan berdampak baik mengingat banyaknya laboratorium alami yang dapat dieksplorasi oleh anak-anak (Kompas, 17/12/2012). Peserta didik juga diajarkan untuk mengimplementasikan kemampuan mengoperasikan komputer dengan cara mengharuskan membuat karya ilmiah pada setiap mata pelajaran yang ada.

Jika dilihat baik-baik dengan seksama kita seperti diingatkan kembali dengan kurikulum silam yaitu KBK. Modernisasi cara berpikir peserta didik juga merupakan tujuan yang sangat baik. Namun, pertanyaannya adalah apakah semua target-target mulia ini akan bisa tercapai apabila dilakukan secara mendadak dan sangat instan? Dan juga sebagai anak ekonomi kita sepatutnya mempertanyakan tentang anggaran yang selalu berubah, mengalami kenaikan di setiapminggunya. Hingga hari ini, total uang terakhir yang dianggarkan untuk kurikulum 2013 adalahsebesar 29,4Triliun. Begitu banyak hal yang harus dikritisi dalam pergantian kurikulum ini. Karena sebenarnya yang harus dirubah bukanlah si kurikulumnya namun metodologi pembelajaran dan kualitas sumber daya pengajar didik-nya.

APA YANG HARUS DIKRITISI?

Kurikulum ini masih saja sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang dicap sebagai pemuja Ujian Nasional. Terkesan mendewakan Ujian Nasional terlihat dari bagaimana cara peserta didik dianggap lulus bila mampu mencapai suatu angka tertentu. Berarti bisa ditarik garis lurus bahwa yang ditekankan pada kurikulum 2013 adalah HASIL bukan PROSES. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang digembar-gemborkan bahwa sistem penilaian Kurikulum 2013 berpacu pada proses belajar peserta didik. Namun, Ujian Nasional masih saja dijadikan sebagai penentu lulus tidaknya peserta didik. Ujian Nasional boleh saja tetap ada tapi setidaknya bukan sebagai penentu tapi hanya sebagai tolak ukur matang atau tidaknya seorang peserta didik atau sebagai pengukur paham atau kurang pahamnya mereka terhadap mata pelajaran yang mereka pelajari selama ini.

Lagipula di samping ada Ujian Nasional ada suatu kunci abstrak bernama “kisi-kisi” yang sebenarnya sadar atau tidak kehadiran si kunci abstrak ini adalah sebuah bocoran muslihat yang membawa kenyamanan belajar peserta didik namun membawa kebodohan di masa datang setelah lewat masa Ujian Nasional. Keefektifan Ujian Nasional sendiri dirasa juga masih belum memuaskan. Walaupun efisien untuk jangka pendek namun efektifitas tidak dirasa dalam jangka panjang. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya peserta didik yang lulus SMA masih tidak bisa lolos ujian masuk Universitas. Jika mau dibanding-bandingkanjuga,anak-anak kita memiliki kompetensi yang sayangnya bahkan lebih rendah dibanding dengan anak-anak yang ada di Malaysia maupun Singapore.

Hal berikutnya adalah hal yang mungkin sudah sebagian orang tahu bahwa beberapa mata pelajaran seperti IPA, IPS, Bahasa Lokal, dan TIK akan dihapuskan. Penghapusan disini dikatakan sebagai wujud pengintegrasian keberadaan mereka terhadap beberapa mata pelajaran lainnya. TIK akan diaplikasikan terhadap semua mata pelajaran. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mengharuskan peserta didikmembuat karya ilmiah di semua mata pelajaran. Pertanyaan timbul disini. Apakah semua pengajar didik di lapangan sudah siap mengaplikasikan komputersehingga bisa mengajarkan dengan baik peserta didiknya? Lalu, bukankah dengan begini seakan mengekang para peserta didik untuk terlalu lama belajar di depan komputermengerjakan sesuatu yang bisa saja bagi sebagian dari mereka hal ini jelas merupakan sesuatu yang tidak nyaman atau menyenangkan.

IPA dan IPS direncanakanakan diintegrasikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ini yang jelas paling keliru dan menentang Undang-undang yang sebelumnya sudah dibuat. Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 37 ayat 1 (e) dan (f) mengatakan “kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat …. (e) ilmu pengetahuan alam dan (f) ilmu pengetahuan social”. Lagipula dalam UU sendiri juga mengatakan bahwa Bahasa Indonesia harus ada sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkatan SD juga merupakan kemunduran bagi bangsa kita dalam menghadapi modernisasi kehidupan saat ini. Bahkan Bahasa Sunda atau mata pelajaran bahasa daerah lainnya juga akan dihapuskan. Bukankah semakin merosot saja kebudayaan kita jika hal ini dilakukan? Kapan lagi kita mendengar anak-anak Indonesia menggunakan bahasa daerah jikalau mereka tidak mempelajarinya? Sehingga nanti kedepannya semakin asing saja bukan bahasa daerah kita bagi anak-anak yang tinggal di kota?

Kurikulum ini juga terlalu mendadak. Kurikulum bukanlah mie instan yang sekalinya diseduh dan ditambah beberapa bumbu lalu bisa dinikmati begitu saja. Dengan adanya peniadaan TIK, bagaimana nasib teman-teman kita yang sedang mangambiljurusan TIK? Apa pekerjaan mereka nanti? Lagipula apa semua pengajar didik siap mengusai TIK? Pemerintah menjawab akan ada pelatihan. Namun, pelatihan tersebut hanya dengan waktu 5 hari. Apa 5 hari cukup? Sumber Daya Manusia kita ini belum siap.

Sungguh jikalau dipaksakan pengaplikasian dari kurikulum 2013 di bulan Juli mendatang maka tamatlah peradaban bangsa kita. Contoh lainnya adalah silabus. Silabus kembali dibuat oleh pemerintah. Bukankah yang tahu betul keadaan kelas adalah si pengajar didik? Lalu mengapa pemerintah yang membuat? Bagaimana seorang pengajar didik bisa kreatif jika seperti ini?

Lalu, yang paling miris adalah apa kita rela uang kita sebanyak 2,49 Triliun (yang tidak tahu akan bertambah lagi atau tidak) dihabiskan untuk sesuatu yang TIDAK MATANG, TIDAK EFEKTIF dan TIDAK EFISIEN ini? Relakah anda? 2,49 Triliun untuk pelatihan 5 hari yang pasti tidak efektif. 2,49 Triliun untuk pemberdayaan sekolah-sekolah yang belum tentu merata sampai kepelosok. 2,49 Triliun untuk pengadaan Buku Pelajaran baru lagi yang belum tentu bisa menjadi media pembelajaran yang menjajikan (apalagi kalau disuruh beli dan bayarlagi).Apa anda rela 2,49 Triliun dihabiskan untuk hal yang hanya membuat kemerosotan peradaban dan pembudayaan kehidupan bangsa kita? Apa anda RELA? Saya jelas tidak RELA.

Sebaiknya pemerintah melakukan pengoptimalan dari segi Sumber Daya Manusia-nya. Lewat pelatihan sesering, sefektif, dan jelas harus seefisien mungkin. Jika ingin diaplikasikan maka lakukan sosialisasi yang lebih menyeluruh dan tepat sasaran. Yang terjadi sekarang justru masyarakat tidak tahu apa kurikulum 2013 padahal kurikulum ini ya nantinya mereka yang merasa dampaknya.

Dan untuk terakhir saya sangat setuju dengan statement Pak Suparmanto yang mengatakan bahwa “Ada tiga hal yang menyebabkan gagalnya perubahan kurikulum sebelumnya, yaitu kesiapan guru, kesiapan sekolah dan kesiapan dokumen”. Dari tulisan saya di atas pasti bisa disimpulkan bahwa KITA JELAS BELUM SIAP dalam tiga hal tersebut.

Alangkah lucunya negeri ini. Namanya baru namun konsepnya jaman bahela. Sebagai mahasiswa inilah tugas kita untuk menolak sesuatu yang tidak pro rakyat apalagi justru membawa dilema kedepannya. Merupakan urgenisitas untuk mengkritisi ini semua. Jangan diam tapi bergeraklah. Kita ini adalah pemimpin masa depan. Kita yang akan meneruskan perkembangan pemerintahan saat ini. Berdiam diri justru membahayakan diri kita nantinya. Sebagian teman-teman di Universitas Negeri Jakarta nantinya adalah orang-orang yang akan menjadi Pengajar Didik dimana pastinya teman-teman yang akan merasakan dampaknya jika nanti kurikulum ini disahkan Juli mendatang.

Apa teman SETUJU? Saya sih TIDAK! Karena saya sih mirisnya ama 2,49 Triliun itu loh. Kan bisa buat kehidupan 7 turunan. Bisa buat jalan-jalan. Bisa buat bakti sosial. Wah banyak deh. Hehe.

Sekian dan terimakasih. Penjabaran sederhana dari Mahasiswa yang belum punya pengalaman apa-apa.

HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!


Kompasiana

Advertisements