Posts Tagged ‘Kebudayaan’

h1

Seni dan Persoalan Kebudayaan

May 8, 2013

Saya pernah membaca tulisan (berita) pada salah satu kolom di koran lokal regional, tertulis judulnya “Majalengka Belum Miliki Ikon Seni”. Lalu apa artinya ini? Jika dikaitkan dengan usia Kabupaten ini yang katanya kurang lebih 5 abad, apakah ini tidak terlalu ironis? Ya, memang perlu dikaji ulang mengenai korelasi antara usia (daerah) dengan “kematangan” budaya-berbudaya yang dalam hal ini mengenai salah satu unsurnya, yaitu kesenian. Akan tetapi, fokus persoalan adalah bukan pada semata-mata pada hal ini. Ada persoalan yang lebih “nyangkut”, lebih kepada persoalan identitas budaya kedaerahan. Hal ini mungkin tidak hanya terjadi di kita tapi juga di daerah-daerah lain.

Terkadang stereotip yang beredar di masyarakat awam kita adalah bahwa kebudayaan itu ya kesenian ‘tok’ atau sebaliknya. Selama kesenian itu adalah salah satu unsur kebudayaan, hal ini tidak terlalu salah. Menurut Koentjaraningrat (2003), 7 unsur kebudayaan adalah bahasa; sistem pengetahuan; organisasi sosial; sistem peralatan hidup dan teknologi; sistem mata pencaharian hidup; sistem religi; dan kesenian termasuk di dalamnya. Sedangkan kesenian itu biasanya menampilkan corak yang kontras dalam kebudayaan tertentu sehingga jelas bahwa kesenian itu bisa sangat “mewakili” dan menjadi identitas salah satu kebudayaan tertentu. Selain daripada itu, wujud kebudayaan yang terdiri nilai budaya; sistem budaya; sistem sosial; dan kebudayaan fisik (Koentjaraningrat, 2003), di mana kebudayaan fisik (benda hasil karya manusia) adalah hal yang paling menonjol karena sifatnya yang fisik dapat dilihat atau dinikmati.

Maka, dalam hal ini kita bersama yang harus mampu menciptakan dan mengelola iklim berkesenian yang positif. Hal ini juga mesti didukung sekuat tenaga oleh pemerintah dan pemimpinnya sebagai pemegang otorita wilayah yang bukan hanya melulu fokus pada pembangunan ekonomi. Pramoedya Ananta Toer dalam “Panggil Aku Kartini Saja” (2003 : 101) mengungkapkan :

“Kecintaan pada rakyat selamanya dibuktikan pula dari kecintaannya pada seninya. Aksioma ini berlaku sepanjang sejarah manusia. Pernyataan-pernyataan cinta rakyat tanpa bukti cintanya pada seninya tidak lain daripada hipokrisi yang kasar.”

Kemudian yang dapat dikatakan menjadi persoalan-persoalan di hulu adalah persoalan-persoalan semacam sistem budaya yang berlaku termasuk di dalamnya kesadaran dalam berkebudayaan, kebijakan sosial-ekonomi-politik, globalisasi dan lain sebagainya. Memang hal ini terlalu kompleks untuk dijabarkan secara detail. Kita ambil saja beberapa contoh mengenai persoalan-persoalan yang sedikit mendasar. Salah satunya adalah komersialisasi budaya yang ini menyangkut pola-pola tindakan dalam menyikapi cara berkesenian. Meskipun hal ini tak melulu negatif, akan tetapi para fundamentalis budaya menganggap inilah faktor penyebab hilangnya nilai dan popularitas dari kesenian, terutama seni pertunjukan tradisi. Pola yang di’main’kan adalah ketika seni itu hanya dipertontonkan ketika ada yang “nanggap” (memberi upah) lalu menjadi seperti komoditi dagang. Maka ketika popularitasnya menurun karena tidak ada yang “nanggap”, maka kesenian itu akan pudar tergantikan oleh kesenian-kesenian lain yang lebih populer. Kasarnya, kesenian ada karena uang dan hidup hanya untuk uang. Belum lagi mereka harus melawan kesenian-kesenian yang muncul di era post-modern dan kontemporer yang popularitasnya lebih menonjol. Ini hanyalah salah satu contoh, banyak lagi masalah-masalah kompleks dalam mempertahankan kesenian tradisi ini. Lalu kesenian-kesenian itu hilang tersisihkan zaman. Kalaupun ingin ditangisi, silahkan!

Akhirnya, kita akan menyadari akan kekurangan dalam kebudayaan dengan indikasi adanya kesulitan dalam memilih ikon kesenian itu tadi. Setelahnya, yang patut kita lakukan adalah negosiasi kebudayaan. Artinya, setiap unsur terlibat yang seharusnya memperbaiki, menyesuaikan dengan kondisi, situasi dan “tren” berkebudayaan yang sedang bergulir. Negosiasi kebudayaan, selain dalam pola berkesenian, juga berlaku bagi keseniannya itu sendiri. Mempertahankan seni tradisi juga kadang kala kita terjebak dalam romantisme yang absurd, sedangkan kebudayaan itu sendiri bersifat dinamis.

Salam UG

Nama : Reinhart Binsar Hamonangan

NPM : 56412093

Kelas : 1IA15


Kompasiana

Advertisements