Posts Tagged ‘HATI’

h1

Dermaga Hati

May 13, 2013


Kompasiana

Advertisements
h1

Pujaan Hati

April 24, 2013


Kompasiana

h1

EMANSIPASI SETENGAH HATI

April 20, 2013

Oleh : Upik Triwulandari

(Dalam rangka memperingati hari Kartini,  21 April 2013)

R.A Kartini lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879, sekitar 134 tahun yang lalu.  Cita-cita R.A.Kartini telah banyak mengubah perempuan Indonesia. R.A Kartini sangat menginspirasi.  Betapa tidak , pemikiran seorang putri bupati dengan berani berjuang mendobrak tatanan kehidupan perempuan yang notabene sebatas tembok rumah.

Pemikiran-pemikiran R.A.Kartini telah banyak membuka hati dan pikiran kaum perempuan Indonesia. Dan ketika itu telah 134 berlalu , memang angan-angan R.A Kartini secara kasat mata telah mulai terwujud. Kaum perempuan telah leluasa mengenyam pendidikan bahkan sampai jenjang pendidikan yang tertinggi. Kaum perempuan bisa menikmati profesi apapun yang dikehendaki.

Namun, menurut  penulis bahwa emansipasi perempuan yang dipahami oleh  oleh kaum perempuan sendiri dan kaum laki-laki khususnya di negeri ini adalah masih emansipasi setengah hati. Mengapa penulis bisa menyebut demikian? Karena kemajuan pendidikan dan profesi pada kaum perempuan tidak disertai pemaknaan yang dalam bahwa perempuan itu juga manusia yang memiliki keinginan dan cita-cita yang berbeda-beda antar individu.

Sekarang ini, perempuan memang dipersilakan untuk mengenyam pendidikan dan berkarir. Namun bagi perempuan masih kental  labelisasi bahwa  urusan domestik yakni : urusan rumah tangga, urusan pendidikan anak, urusan keseharian adalah tanggung jawab perempuan. Memang tidak semua pribadi berpaham bahwa laki-laki adalah dominan urusan publik dan perempuan adalah dominan urusan domestik. Namun di masyarakat pada umumnya pemisahan urusan domestik dan publik itu jelas terlihat. Sehingga manakala perempuan dominan urusan publik, paka pada saat yang sama perempuan juga tetap berkutat pada urusan domestik, bahkan meskipun sang suami tidak juga berperan publik. Karena seperti ada penurunan derajad laki-laki manakala laki-laki mengurusi urusan domestik. Padahal telah di-amini oleh banyak kalangan bahwa urusan domestik itu tak lebih ringan  daripada urusan publik.

Artinya job description atau pembagian tugas antara laki-laki dan perempuan masih belum berdasar kemampuan dan situasi yang ada namun masih dengan pertimbangan gender.

Dalam kasus-kasus tertentu memang telah ada pembagian tugas yang proporsional. Bahwa laki-laki dan perempuan bekerja sama, bahu membahu untuk terwujudnya cita-cita sebuah keluarga yang diinginkan. Laki-laki memahami perempuan dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pun perempuan memahami laki-laki dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Kondisi kasuistis seperti tersebut diatas adalah tak lepas dari peran besar laki-laki. Ketika laki-laki bisa berbesar hati,  berbesar jiwa untuk memahami dan menempatkan perempuan berdasar kondisi, situasi, dan kemampuan yang ada dalam diri perempuan, maka akan terjadi keharmonisan rumah tangga.

Bila laki-laki tak bisa memahami dan hanya mengikuti kebiasaan labelisasi masyarakat bahwa urusan domestik adalah tanggung jawab perempuan,  maka laki-laki tidak akan pernah bisa  membuka hati, mata, dan telinga, sehingga tetap  memperlakukan istri bagai pelayan utama keluarga, meski misalnya istri sedang  didera fisik dan pikiran yang  lelah luar biasa karena urusan publik.  Laki-laki tak akan pernah mau tahu, dan sama sekali tidak merasa berdosa,  karena sudah dalam pemahamannya sejak turun temurun,  bahwa perempuan sudah di takdirkan melayani laki-laki dan keluarga.

Maka , disini dan sekarang ini, peran ganda adalah pilihan yang mutlak harus dipilih bagi perempuan yang berkeinginan melakukan kegiatan publik. Yang dimaksud peran ganda adalah perempuan bertanggung jawab pada urusan domestik , yaitu urusan rumah tangga meskipun dia sudah berperan publik, seperti bekerja di luar rumah.

Siapa yang paling disalahkan seandainya anak-anak tidak terurus? Pastilah perempuan. Bahkan seandainya perempuan bekerja di luar rumah dan laki-laki bekerja di dalam rumah pun, tetap saja perempuan yang disalahkan.

Ironisnya, ketika ada laki-laki yang telah dengan sukarela bisa memahami kondisi perempuan untuk bahu membahu bekerja sama untuk urusan domestik, ada saja para perempuan lain dari pihak laki-laki- entah ibunya, atau adiknya-  yang protes akan kebesaran hati sang laki-laki itu. Inilah yang terjadi. Bukan kebanggaan bagi keluarga bila melihat seorang laki-laki mengerjakan pekerjaan domestik.

Disisi lain perempuan dituntut untuk mampu berperan ganda pada urusan domestik, walau sang perempuan sama sekali tidak paham urusan domestik. Perempuan karir belum bisa dianggap perempuan bila tak bisa berperan ganda. Karena itu di masyarakat kita  masih menjadi keniscayaan bahwa perempuan harus bisa paham tentang urusan domestik agar bisa diterima di keluarga besar laki-laki.

Manakah yang benar dan manakah yang salah? Tidak ada salah dan yang benar dalam sebuah budaya. Semua adalah hanya sebuah pilihan.  Perjuangan R.A.Kartini juga sebuah pilihan. Bila gadis Kartini tidak mencuatkan pemikiran kesetaraan , tentu perempuan sekarang mungkin masih dalam posisi perjuangan kesetaraan pendidikan dan profesi.

Lalu kondisi ideal yang seperti apa yang bisa menunjukkan bahwa perempuan dan laki-laki telah benar-benar sejajar? Menurut penulis kesetaraan laki-laki dan perempuan adalah bila laki-laki dan perempuan telah bisa berbagi tugas bukan berdasarkan jenis kelamin namun berbagi tugas berdasar kemampuan dan  potensi yang dimiliki masing-masing berdasarkan kelebihan dan kekurangan individu sebagai manusia.

Demikian pula dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Kesetaraan perempuan dan laki-laki bila masyarakat tidak lagi mendikotomi peran publik dan peran domestik. Karena sesungguhnya pembagian tugas dan pekerjaan adalah urusan masing-masing keluarga.

Sesungguhnya siapakah yang paling menderita bila kaum perempuan tidak diberi dukungan perlakuan yang manusiawi, perlakuan yang memahami seluruh kekurangan dan kelebihan dari perempuan? Sesungguhnya yang paling menderita adalah kita semua. Mengapa? Karena ibu kita perempuan. Istri atau anak perempuan kita juga perempuan. Ada adik atau kakak perempuan. Bahkan kita nanti juga akan punya cucu atau cicit perempuan. Seandainya ada sanak atau keturunan kita yang mempunyai potensi kemanusiaan yang lebih, namun  mendapat perlakuan secara tidak proporsional dari laki-laki, tentu akan hancur jiwa kita.

Ketidak sepahaman inilah yang menurut penulis bisa sebagai pemicu tingginya tingkat perceraian.

Penulis mengutip dari :

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/01/24/lya2yg-angka-perceraian-pasangan-indonesia-naik-drastis-70-persen

yaitu :

Angka perceraian pasangan di Indonesia terus meningkat drastis. Badan Urusan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung (MA) mencatat selama periode 2005 hingga 2010 terjadi peningkatan perceraian hingga 70 persen.

Pada tahun 2010, terjadi 285.184 perceraian di seluruh Indonesia. Penyebab pisahnya pasangan jika diurutkan tiga besar paling banyak akibat faktor ketidakharmonisan sebanyak 91.841 perkara, tidak ada tanggungjawab 78.407 perkara, dan masalah ekonomi 67.891 perkara.

Sedangkan tahun sebelumnya, tingkat perceraian nasional masih di angka 216.286 perkara. Angka faktor penyebabnya terdiri atas ketidakharmonisan 72.274 perkara, tidak ada tanggungjawab 61.128 perkara, dan faktor ekonomi 43.309 perkara.

Penulis memprediksi, mungkin ketidak harmonisan rumah tangga sebagai pemicu utama perceraian disebabkan karena kekurang-sepahaman antar pasangan memaknai kelebihan dan kekurangan masing-masing pasangan.  Entahlah.

Hanya saja penulis menggaris bawahi, bahwa apapun jenis kelamin kita, yang utama kita lakukan adalah memanusiakan manusia. Maka memperlakukan perempuan sebagai seorang manusia tentu harus sama nilainya dengan memperlakukan laki-laki sebagai manusia.

Bahwa pekerjaan tidak mengenal jenis kelamin.

Bahwa keimanan juga tidak berdasar jenis kelamin.

Bahwa profesi juga tidak berdasar jenis kelamin.

Semua hanya berdasar kemampuan.

Karenanya,  berbahagialah orang-orang yang sangat mencintai ibunya.

(Surabaya. 21 April 2013)


Kompasiana