Posts Tagged ‘DENGAN’

h1

Bernostalgia Dengan Sang Jendral

May 9, 2013

…..Seorang Jendral besar di negeri ini yang kediamannya sungguh memperihatinkan dari semangat anak muda jaman sekarang. Padahal perjuangan yang beliau lakukan untuk negara ini melebihi idola anak muda jaman sekarang. Sekarang rumah itu hanya menjadi sebuah kenangan yang dilupakan generasi jaman sekarang….

13680999291211388169

museum Jendral Sudirman yang begitu sepi pengunjung

Berawal dari rasa ingin tahu  mengunjungi satu museum kini menjadi hobi dan keinginan untuk mengunjungi berbagai museum. Salah satu keinginan mengunjungi museum Sang Jendral yang lama terpendam tersebut yang kini telah terwujud.

Banyak orang yang melewati depan museum Jendral Sudirman ,namun sangat sedikit yang mengunjungi rumah Sang Jendral Besar untuk melihat isi dalam rumah tersebut. Museum yang terletak di Jalan Bintaran Wetan no 3 Yogyakarta memiliki konsep rumah Joglo dengan sebuah patung Jendral Sudirman yang Berkuda di depannya. Sebuah patung yang menjadi ciri khas museum ini selain dengan bentuk rumah yang besar dan sepi. Sungguh sangat disayangkan sebuah museum yang megah akan nilai sejarahnya kini hanya menjadi rumah yang sepi pengunjung.

Beragam Sejarah dengan nominal seikhlasnya.

13681001951651259336

halaman museum Jendral Sudirman

Seikhlasnya mas...itulah harga tarif yang dikenakan kepada setiap pengunjung. Sungguh tarif yang sangat murah bukan bila dibandingkan dengan tarif menonton bioskop atau dengan harga tarif parkir di Mall bukan?

Dan selamat datang di museum Jendral Sudirman ! Seperti biasanya mengunjungi museum, kami selalu diharuskan untuk mengisi buku tamu. Sedikit malu bila melihat daftar tamu museum, selalu sedkit orang yang terekam melalui buku tamu.

Museum Jendral Sudirman terbagi menjadi tiga bagian ruangan. Ruangan pertama terletak sebelah kiri ruang tengah, kemudian ruang kedua terletak sebelah kanan ruang tengah dan ruangan tengah adalah kediaman Jendral Sudirman selama bertugas di Jogja. Itu adalah rute yang kami lalui ketika mengunjungi museum hehehe.

1368100413705139184

kursi yang menjadi saksi bisu sejarah Panglima Besar Sudirman

1368100945305707650

Ketika anda memasuki ruangan sebelah kiri, di dalam ruangan anda akan disuguhi satu set kursi rotan tamu di mana ruang itu pernah menjadi ruang rapat pengusulan kolonel Sudirman menjadi Panglima Besar. Tidak begitu banyak pemandangan di dalam ruang pertama karena di ruang tersebut mungkin di setting sebagai appetizer. Terdapat pula beberapa jenis senjata perang yang digunakan dalam perang kemerdekaan bangsa ini yang kalau tidak salah buatan Inggris. Selai itu terdapat banyak foto tokoh – tokoh militer negeri ini. Sungguh unik foto – foto tersebut dengan kwalitas gambar hitam putih membawa kita ke suasana yang klasik.

1368101069640051586

Foto Jendral Sudirman dan foto beberapa tokoh kemerdekaan lainnya

13681011832008976831

beberapa telegram bela sungkawa yang masih bisa terbaca

Sengaja saya dan pacar saya tidak langsung menuju ruang tengah dan melanjutkan perjalanan waktu kami ke ruang sebelah kanan. Di bagian belakang terdapat banyak sekali kartu pos berisikan ucapan bela sungkawa terhadap wafatnya Jendral Sudirman. Beragamtelegram banyak terpajang di dinding belakang gedung sebelah kanan. Sayang surat – surat tersebut hanya dipajang dalam pigura dan kini tulisan tersebut mulai luntur tidak terbaca.

Sepengetahuan saya gedung sebelah kanan ini merupakan tempat khusus perlengkapan Jendral Sudirman selama aktif sebagai tentara Indonesia. Mulai dari baju safari, baju perang, sepatu dinas bahkan tandu yang ia gunakan selama perang gerilya pun masih tersimpan rapi di ruangan yang cukup membuat merinding. Satu hal yang membuat saya merasa terharu yaitu ketika saya membaca surat Jendral Sudirman dari Presiden Soekarno. Dimana dalam surat tersebut beliau menggunakan kata – kata yang sangat lembut, layaknya seorang kakak yang berbicara dengan adiknya dengan menggunakan “Adinda”.

Sungguh di ruangan ini perasaan anda akan diaduk – aduk melalui foto, benda – benda, kemudian peta gerilya Jendral Sudirman. Seorang yang sedang sakit namun semangat untuk membela negeri ini tidak pernah membuat ia merasa sakit. Banyangkan saja rute gerilya Jendral Sudirman tidak hanya di Jogja saja melainkan hingga ke Jawa Tengah dan ia bergerak dari satu tempat ke tempat lain hanya menggunakan tandu. Di ruangan ini anda juga dapat menyaksikan banyak sekali tokoh sejarah seperti Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh Hatta, Sri Sultan HB IX memberikan penghormatan terakhir kepada sang Jendral.

13681014461419207811

tandu yang pernah di pakai beliau perang gerilya

13681016511499982068

beberapa barang peninggalan beliau yang masih terawat

Dan di ruang tengah menjadi akhir perjalanan waktu kami bernostalgia dengan Sang Jendral. Di ruang tengah ini menjadi rumah tempat tinggal Jendral Sudirman. Sebuah ruang tamu tertata rapi lengkap dengan perabotnya mengisi ruangan yang sangat besar sekali. Terdapat pula beberapa piagam penghargaan yang pernah dimiliki Jendral Sudirman. Rumah yang begitu besar ini cukup membuat merinding ketika memasuki setiap ruangan. Terdapat beberapa ruang rumah mulai dari ruang kerja beliau, ruang keluarga, kamar ibu dari Jendral Sudirman dan kamar Jendral Sudirman. Semuanya masih terjaga rapi bahkan tempat tidur beliau pun masih bisa kita lihat disana. Seakan – akan disini kami melihat sisi Jendral Sudirman sebagai seorang kepala keluarga dengan barang – barang yang ada.  Banyak sekali kenangan – kenagan beliau di museum ini. setiap ruang memiliki kisah dan sejarah masing – masing yang rugi bila anda tidak kunjungi.

1368101829291034098

peta gerilya Jendral Sudirman

13681023151461566748

salah satu piagam yang diberikan Presiden Soekarno terhadap Jendral Soedirman

Jas Merah ?

Sebuah kata – kata yang begitu sering diucapkan namun sedikit bahkan tidak pernah diterapkan “ Jangan Sekali – kali Melupakan Sejarah”, seakan hanya menjadi slogan di hari kemerdekaan saja. Padahal untuk mengingat sejarah banyak sekali cara yang dilakukan salah satunya dengan berkunjung ke museum perjuangan. Dulu waktu semasa  kecil saya diajarkan mengenang sejarah dengan berkunjung ke museum, namun nampaknya budaya itu telah luntur. Banyak orang tua yang lebih suka mengajak anak untuk pergi ke mall, ke tempat wisata namun untuk ke tempa sejarah nampaknya itu hanya dilakukan jika ingat saja.

Saya kadang berfikir betapa mudahnya kultur bangsa ini larut dalam budaya barat. Lihat saja anak muda jaman sekarang yang begitu hebohnya menggandrungi artis dibandingkan dengan tokoh pahlawan kita. Kok anak muda, anak kecil jaman sekarang kalau ditanya tentang tokoh perjuangan pasti akan berpikir lama bahkan tidak tahu bila dibandingkan ditanya siapa artis paling top jaman sekarang. Apakah kurikulum pendidikan kita sudah bergeser hanya untuk menciptakan manusia yang berpikir hanya untuk lulus UN saja dengan mengesampingkan pendidikan lainnya. Padahal setahu saya di luar negeri museum banyak dikunjungi masyarakatnya dan menjadi tempat berlibur keluarga. Berbeda di negara ini…….

salah satu piagam penghargaan Jendral Sudirman yang diberikan oleh Presiden Soekarno


Kompasiana

Advertisements
h1

Pemimpin yang memempin dengan cinta

May 8, 2013


Kompasiana

h1

KAYA DENGAN MEMBACA SASTRA?

May 8, 2013

OPINI | 08 May 2013 | 14:24 Dibaca: 3   Komentar: 0   Nihil

Sastra menggambarkan kehidupan suatu masyarakat, dan melalui karya sastra pula identitas atau peradapan suatu bangsa dapat dikenali. Bahkan melalui karya sastra emosi, perasaan, atau naluri manusia dapat tercermin. Dengan kata lain melalui karya sastra kita dapat mengidentifikasi perilaku atau moral suatu bangsa. Oleh karena itu memang selayaknya kalau generasi muda Indonesia pun harus mau membaca karya sastra Indonesia agar mereka mengenal betul bangsanya sendiri.

Sayangnya, kemajuan dan perkembangan arus teknologi informasi yang semakin pesat ini pun telah melemahkan minat baca. Di mata generasi muda membaca dianggap sebagai sesuatu yang membosankan, jadul, nggak keren, bahkan mengadopsi bahasa anak muda zaman sekarang cupu alias culun punya. Di tengah arus informasi yang global ini minat baca menjadi semakin rendah khususnya membaca karya sastra negeri sendiri yang sarat akan pesan-pesan moral. Menangkap fenomena ini layak menjadi suatu keprihatinan bagi kita yang peduli terhadap kelestarian budaya. Banyak pihak yang menganggap bahwa rendahnya minat baca di Indonesia ini menjadi masalah yang harus disikapi. Pada hal dengan membaca sebenarnya pembaca diajak untuk kritis dan analitis terhadap setiap persoalan. Hal ini menjadi salah satu penyebab generasi muda lebih benyak melakukan hal-hal negatif karena hatinya kurang terasah.

Ada banyak faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat membaca generasi muda. Memang bukan semata-mata kesalahan generasi muda, banyak juga peran serta kita sebagai guru maupun orang tua. Ketika dalam suatu keluarga orang tua selalu mengisi waktu libur dengan berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan pasti hoby anaknya juga hang out. Tentu anak tidak mengenalkan budaya membaca akibatnya membaca bagi seorang anak menjadi sesuatu hal yang asing dan membosankan. Sebaliknya jika dalam keluarga orang tua sering mengajak anaknya mengisi waktu libur dengan berjalan-jalan ke toko buku pasti anak juga akan mencari buku untuk mengisi waktu luang. Dengan sendirinya, membaca akan menjadi suatu kebiasaan dan kebutuhan.

Namun sebenarnya tidak ada kata terlambat, kita bisa membudayakan membaca dalam setiap kehidupan kita apa pun profesi kita. Hal ini juga saya lakukan terhadap anak didik saya, dengan harapan mereka akan mempunyai minat baca untuk mendukung kesuksesan mereka di kemudian hari. Adapun cara yang saya lakukan melalui SSR : Sustained Silent Reading. Melalui kegiatan ini kita mempunyai waktu pribadi untuk membaca, yang dalam hal ini bukan membaca koran atau majalah tetapi membaca buku sesuai dengan kegemaran kita. Nah, tentunya karena saya guru bahasa saya menyisihkan waktu saya sebelum pengajaran selama 15 menit untuk mengajak siswa membaca. Dalam kegiatan ini saya mencoba untuk menumbuhkan minat baca siswa terhadap karya sastra Indonesia. Saat siswa masuk ruangan, biasanya saya sudah memutar lagu-lagu intrumentalia. Siswa masuk memilih tempat duduk kemudian harus mengeluarkan novel sastra Indonesia dan mulai membaca sampai timer tanda waktu membaca selesai dan pembelajaran siap dimulai. Melalui kegiatan ini meski masih sangat sedikit, menjadi salah satu upaya yang saya lakukan untuk melestarikan kebudayaan Indonesia yang terkandung dalam karya sastra. Dengan membaca karya sastra pun kita diperkaya dengan wawasan, kosa kata, dan yang lebih penting adalah pola pikir. Mari kita budayakan membaca untuk menambah wawasan dan cakrawala berpikir kita. AST

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

h1

penghijauan yang menguntungkan dengan menanam dengan tanaman buah-buahan dan toga

May 8, 2013

OPINI | 08 May 2013 | 10:34 Dibaca: 13   Komentar: 0   Nihil

belakangan ini sering kali diadakan acara-acara go green. yaitu acara penghijauan lingkungan dengan adanya penanaman pohon. seringkali penanaman tanaman itu ditanam dengan pohon-pohon yang menghasilkan kayu dimasa akan datang contohnya meranti,jati dan banyak jenis pohon lainnya. jika kita menanam pohon jati itu sangat lama untuk menghasilkan kayu atau keuntungan lainnya. karena membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bertumbuh dan berkembang. oleh karena itu, saya memiliki ide penghijauan dengan mengganti tanaman yang digunakan. biasanya kita sering menggunakan tanaman yang berumur panjang untuk penghijauan, disini saya mengguankan tanaman buah dan toga untuk melakukan penghijauan, seperti saya menggunakan tanaman buah jambu,buah mangga,buah nangka,buah lengkeng. mengapa saya menggunakan tanaman tersebut karena tanaman tersebut memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang cepat dan memiliki bentuk pohon yang besar. karena memiliki pertumbuhan yang cepat kita bisa mendapatkan penghijauan yang cepat dan hasil buah yang dapat dipanen. jadi, enak kan kalau kita penghijauan menggunakan tanaman buah karena kita mendapatkan penghijauan yang maksimal dan mendapatkan buah yang dapat kita konsumsi atau dijual, ini menghasilkan keuntungan yang melimpah. untuk penghijauan di lingkungan perumahan rs(rumah sedehana), di rumah sederhana kita sering melihat lahan yang sempit, oleh karena itu, sangat susah atau tidak bisa ditanami tanaman pohon-pohanan, oleh karena saya memiliki ide, untuk menanam tanaman toga di perumahan rs sebagai langkah penghijauan. karena  tanaman toga tidak membutuhkan lahan yang luas maka sangat cocok jika ditanami dengan tanaman tersebut. seperti penanaman cabe, sekarang kan cabe sedang mahal-mahalnya, oleh karena itu kita bisa menanam cabe agar mengurangi pembelian cabe. dengan penghijauan menggunakan tanaman toga sangat diuntungkan karena dapat membuat lingkungan menjadi hijau dan menghasilkan keuntungan lainnya

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

h1

Nyatakan Cinta dengan Pohon

April 27, 2013

OPINI | 27 April 2013 | 06:29 Dibaca: 50   Komentar: 1   1 inspiratif

13670188941506162026

Menyatakan cinta dengan setangkai bunga, atau sekotak coklat, ah itu sih sudah biasa. Atau kalau yang punya banyak uang, mungkin mereka bisa menyatakan cintanya dengan kalung atau cincin emas berlian. Itu juga sudah lumrah. Tapi kalau menyatakan cinta dengan pohon (baca : bibit pohon), menurutku ini istimewa dan luar biasa romantis. Mungkin ada yang setuju, tetapi banyak pula yang tidak.

Kalau memberikan seseorang bibit pohon, manfaatnya tidak hanya untuk orang yang diberi saja, tetapi juga bagi lingkungan di sekitarnya. Tetapi hadiah setangkai bunga, mungkin keindahannya hanya bisa dinikmati dalam beberapa hari saja, setelah itu pasti akan layu. Lalu kenapa gak sekalian ngasih tanamannya saja untuk dipelihara, supaya suatu saat bisa berbunga lagi. Atau kalau memberi hadiah dengan sekotak coklat, tentu ia akan habis dalam waktu sekejap. Lalu kenapa gak sekalian ngasih bibit pohon penghasil coklat saja.

Coba bayangkan jika setiap pasangan yang menikah menanam satu pohon. Atau taruhlah kado ultah buat teman dan pasangannya yang berulang tahun adalah bibit pohon, alangkah hijaunya bumi ini. Ya tentu saja bukan berhenti sampai pada pemberian dan penanaman pohon saja, tapi dipelihara sampai besar. Pohon yang diberikan juga tidak harus selalu yang besar-besar seperti di hutan, asal bisa ditanam di halaman rumah saja. Kalau tidak punya halaman luas juga sebenarnya bisa diakali dengan menanamnya di dalam pot besar atau drum. Biasanya ini untuk jenis phon buah yang dicangkok, karena bentuk habitusnya memang dibuat lebih kecil.

Pohon merupakan pabrik oksigen yang sangat luar biasa. Mungkin kebanyakan dari kita tidak menyadari peranannya. Bahkan menganggap semua oksigen yang kita hirup ‘emang udah dari sononya’. Soalnya manusia memang tidak pernah mengeluarkan sepeser uangpun demi mendapatkan oksigen untuk bernafas, karena semuanya gratis. Tentu saja berbeda dengan sembako atau BBM yang harganya mahal. Tetapi tidakkah kita berpikir darimana asalnya sumber oksigen itu? Apakah mungkin semua hadir begitu saja tanpa ada proses di sebelumnya. Bagi manusia yang mau berpikir, pasti ia akan mencari tahu.

Tuhan telah menitipkan oksigennya kepada tumbuhan dan beberapa bakteri lewat kemampuannya berfotosintesis. Sampai kapanpun, manusia dan hewan tidak akan bisa menghasilkan oksigen karena ia tidak punya perangkat fotosintesis seperti pigmen klorofil dan sebagainya. Oleh karena itu, tumbuhan menduduki tingkatan sebagai produsen dalam rantai makanan. Luar biasa memang, melalui reaksi yang sangat rumit, tumbuhan menyumbangkan oksigennya bagi kehidupan di muka bumi.

Tumbuhan terutama pohon benar-benar makhluk Tuhan yang multifungsi. Hampir seluruh organ tubuhnya bermanfaat. Selain daunnya yang bisa menghasilkan oksigen, akarnya bisa mempertahankan kelembapan air di sekitarnya karena ia selalu berusaha untuk mencukupi kebutuhan air bagi dirinya. Oleh karena itulah sebabnya daerah yang banyak pohonnya disebut sebagai daerah resapan air (tapi bukan pohon kelapa sawit ya, kalau ini lain ceritanya). Belum lagi batangnya sebagai sumber kayu, atau buahnya sebagai sumber makanan dan bunga sebagai penghias.

Menyadari betapa pentingnya peranan pohon bagi kehidupan, sudah sepantasnya manusia sebagai makluk yang punya kedudukan tinggi harus berusaha untuk memperlakukannya dengan baik serta memelihara kelestariannya. Kalau tidak, apa jadinya bumi ini beberapa tahun ke depan. Mungkin sekarang oksigen bisa kita dapatkan secara cuma-cuma, tapi entahlah untuk puluhan tahun mendatang. Jangan-jangan kita harus merogoh kocek dulu agar bisa menikmati oksigen. Betapa kasihannya nasib anak cucu kita. Karena itu, ayo mulai sekarang kita sayangi pohon. Jangan menebang pohon sembarangan. Satu helai daun saja hilang, sudah berapa oksigen yang bakal hilang, trus gimana kalau satu pohon. Tanam dan peliharalah pohon karena ini investasi jangka panjang. Memberi hadiah dengan bibit pohon memang tidak biasa, tapi mungkin harus dibiasakan.

Jadi, nyatakan cinta dengan pohon? Kenapa tidak 🙂

Bogor, 27 April 2013


Kompasiana

h1

APA YANG AKAN KAMU LAKUKAN DENGAN UANG 2,49 TRILIUN RUPIAH?

April 18, 2013

“Membuat orang lain tahu saja itu sebuah pergerakan, mencerdaskan adalah tindakan, melakukan perubahan adalah pengabdian. Apatis boleh asal tidak menjatuhkan. HIDUP MAHASISWA!!”

~Ninette Ika Asyifa~

Sudah tahukah anda dengan kebijakan pemerintah yang terbaru terkait kurikulum pendidikan kita? Mungkin bagi sebagian teman-teman yang mengambil jurusan kependidikan sudah tahubanget. Yap! Kebijakan terbaru tersebut adalah “KURIKULUM 2013”.

APA ITU KURIKULUM 2013?

Seperti yang kita ketahui bersama bahwa kurikulum di Indonesia yang sampai saat ini sedang berlaku adalah KTSP yang merupakan kependekan dari Kurikulum Tingkat Satuan Kependidikan. Nah,rencananya KTSP yang sudah eksis selama 6 tahun belakangan ini akan digantikan oleh KURIKULUM 2013 bulan Juli mendatang.

Terus apa itu kurikulum 2013? Ada apa di kurikulum 2013? Sebenernya sih tujuannya masih sama saja dengan KTSP yaitu untuk mengarahkan peserta didik agar berpikir kreatif, inovatif dan berkarakter. Mohammad Nuh mengatakan bahwa kurikulum baru yang tengah menjalani fase uji publik ini bertujuan utama  membangun kemampuan berpikir anak secara ilmiah. Dia yakin bahwa ini akan berdampak baik mengingat banyaknya laboratorium alami yang dapat dieksplorasi oleh anak-anak (Kompas, 17/12/2012). Peserta didik juga diajarkan untuk mengimplementasikan kemampuan mengoperasikan komputer dengan cara mengharuskan membuat karya ilmiah pada setiap mata pelajaran yang ada.

Jika dilihat baik-baik dengan seksama kita seperti diingatkan kembali dengan kurikulum silam yaitu KBK. Modernisasi cara berpikir peserta didik juga merupakan tujuan yang sangat baik. Namun, pertanyaannya adalah apakah semua target-target mulia ini akan bisa tercapai apabila dilakukan secara mendadak dan sangat instan? Dan juga sebagai anak ekonomi kita sepatutnya mempertanyakan tentang anggaran yang selalu berubah, mengalami kenaikan di setiapminggunya. Hingga hari ini, total uang terakhir yang dianggarkan untuk kurikulum 2013 adalahsebesar 29,4Triliun. Begitu banyak hal yang harus dikritisi dalam pergantian kurikulum ini. Karena sebenarnya yang harus dirubah bukanlah si kurikulumnya namun metodologi pembelajaran dan kualitas sumber daya pengajar didik-nya.

APA YANG HARUS DIKRITISI?

Kurikulum ini masih saja sama dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang dicap sebagai pemuja Ujian Nasional. Terkesan mendewakan Ujian Nasional terlihat dari bagaimana cara peserta didik dianggap lulus bila mampu mencapai suatu angka tertentu. Berarti bisa ditarik garis lurus bahwa yang ditekankan pada kurikulum 2013 adalah HASIL bukan PROSES. Hal ini sangat bertolak belakang dengan yang digembar-gemborkan bahwa sistem penilaian Kurikulum 2013 berpacu pada proses belajar peserta didik. Namun, Ujian Nasional masih saja dijadikan sebagai penentu lulus tidaknya peserta didik. Ujian Nasional boleh saja tetap ada tapi setidaknya bukan sebagai penentu tapi hanya sebagai tolak ukur matang atau tidaknya seorang peserta didik atau sebagai pengukur paham atau kurang pahamnya mereka terhadap mata pelajaran yang mereka pelajari selama ini.

Lagipula di samping ada Ujian Nasional ada suatu kunci abstrak bernama “kisi-kisi” yang sebenarnya sadar atau tidak kehadiran si kunci abstrak ini adalah sebuah bocoran muslihat yang membawa kenyamanan belajar peserta didik namun membawa kebodohan di masa datang setelah lewat masa Ujian Nasional. Keefektifan Ujian Nasional sendiri dirasa juga masih belum memuaskan. Walaupun efisien untuk jangka pendek namun efektifitas tidak dirasa dalam jangka panjang. Hal ini terbukti dengan begitu banyaknya peserta didik yang lulus SMA masih tidak bisa lolos ujian masuk Universitas. Jika mau dibanding-bandingkanjuga,anak-anak kita memiliki kompetensi yang sayangnya bahkan lebih rendah dibanding dengan anak-anak yang ada di Malaysia maupun Singapore.

Hal berikutnya adalah hal yang mungkin sudah sebagian orang tahu bahwa beberapa mata pelajaran seperti IPA, IPS, Bahasa Lokal, dan TIK akan dihapuskan. Penghapusan disini dikatakan sebagai wujud pengintegrasian keberadaan mereka terhadap beberapa mata pelajaran lainnya. TIK akan diaplikasikan terhadap semua mata pelajaran. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan mengharuskan peserta didikmembuat karya ilmiah di semua mata pelajaran. Pertanyaan timbul disini. Apakah semua pengajar didik di lapangan sudah siap mengaplikasikan komputersehingga bisa mengajarkan dengan baik peserta didiknya? Lalu, bukankah dengan begini seakan mengekang para peserta didik untuk terlalu lama belajar di depan komputermengerjakan sesuatu yang bisa saja bagi sebagian dari mereka hal ini jelas merupakan sesuatu yang tidak nyaman atau menyenangkan.

IPA dan IPS direncanakanakan diintegrasikan dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ini yang jelas paling keliru dan menentang Undang-undang yang sebelumnya sudah dibuat. Undang-undang No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 37 ayat 1 (e) dan (f) mengatakan “kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat …. (e) ilmu pengetahuan alam dan (f) ilmu pengetahuan social”. Lagipula dalam UU sendiri juga mengatakan bahwa Bahasa Indonesia harus ada sebagai mata pelajaran yang berdiri sendiri.

Penghapusan mata pelajaran Bahasa Inggris di tingkatan SD juga merupakan kemunduran bagi bangsa kita dalam menghadapi modernisasi kehidupan saat ini. Bahkan Bahasa Sunda atau mata pelajaran bahasa daerah lainnya juga akan dihapuskan. Bukankah semakin merosot saja kebudayaan kita jika hal ini dilakukan? Kapan lagi kita mendengar anak-anak Indonesia menggunakan bahasa daerah jikalau mereka tidak mempelajarinya? Sehingga nanti kedepannya semakin asing saja bukan bahasa daerah kita bagi anak-anak yang tinggal di kota?

Kurikulum ini juga terlalu mendadak. Kurikulum bukanlah mie instan yang sekalinya diseduh dan ditambah beberapa bumbu lalu bisa dinikmati begitu saja. Dengan adanya peniadaan TIK, bagaimana nasib teman-teman kita yang sedang mangambiljurusan TIK? Apa pekerjaan mereka nanti? Lagipula apa semua pengajar didik siap mengusai TIK? Pemerintah menjawab akan ada pelatihan. Namun, pelatihan tersebut hanya dengan waktu 5 hari. Apa 5 hari cukup? Sumber Daya Manusia kita ini belum siap.

Sungguh jikalau dipaksakan pengaplikasian dari kurikulum 2013 di bulan Juli mendatang maka tamatlah peradaban bangsa kita. Contoh lainnya adalah silabus. Silabus kembali dibuat oleh pemerintah. Bukankah yang tahu betul keadaan kelas adalah si pengajar didik? Lalu mengapa pemerintah yang membuat? Bagaimana seorang pengajar didik bisa kreatif jika seperti ini?

Lalu, yang paling miris adalah apa kita rela uang kita sebanyak 2,49 Triliun (yang tidak tahu akan bertambah lagi atau tidak) dihabiskan untuk sesuatu yang TIDAK MATANG, TIDAK EFEKTIF dan TIDAK EFISIEN ini? Relakah anda? 2,49 Triliun untuk pelatihan 5 hari yang pasti tidak efektif. 2,49 Triliun untuk pemberdayaan sekolah-sekolah yang belum tentu merata sampai kepelosok. 2,49 Triliun untuk pengadaan Buku Pelajaran baru lagi yang belum tentu bisa menjadi media pembelajaran yang menjajikan (apalagi kalau disuruh beli dan bayarlagi).Apa anda rela 2,49 Triliun dihabiskan untuk hal yang hanya membuat kemerosotan peradaban dan pembudayaan kehidupan bangsa kita? Apa anda RELA? Saya jelas tidak RELA.

Sebaiknya pemerintah melakukan pengoptimalan dari segi Sumber Daya Manusia-nya. Lewat pelatihan sesering, sefektif, dan jelas harus seefisien mungkin. Jika ingin diaplikasikan maka lakukan sosialisasi yang lebih menyeluruh dan tepat sasaran. Yang terjadi sekarang justru masyarakat tidak tahu apa kurikulum 2013 padahal kurikulum ini ya nantinya mereka yang merasa dampaknya.

Dan untuk terakhir saya sangat setuju dengan statement Pak Suparmanto yang mengatakan bahwa “Ada tiga hal yang menyebabkan gagalnya perubahan kurikulum sebelumnya, yaitu kesiapan guru, kesiapan sekolah dan kesiapan dokumen”. Dari tulisan saya di atas pasti bisa disimpulkan bahwa KITA JELAS BELUM SIAP dalam tiga hal tersebut.

Alangkah lucunya negeri ini. Namanya baru namun konsepnya jaman bahela. Sebagai mahasiswa inilah tugas kita untuk menolak sesuatu yang tidak pro rakyat apalagi justru membawa dilema kedepannya. Merupakan urgenisitas untuk mengkritisi ini semua. Jangan diam tapi bergeraklah. Kita ini adalah pemimpin masa depan. Kita yang akan meneruskan perkembangan pemerintahan saat ini. Berdiam diri justru membahayakan diri kita nantinya. Sebagian teman-teman di Universitas Negeri Jakarta nantinya adalah orang-orang yang akan menjadi Pengajar Didik dimana pastinya teman-teman yang akan merasakan dampaknya jika nanti kurikulum ini disahkan Juli mendatang.

Apa teman SETUJU? Saya sih TIDAK! Karena saya sih mirisnya ama 2,49 Triliun itu loh. Kan bisa buat kehidupan 7 turunan. Bisa buat jalan-jalan. Bisa buat bakti sosial. Wah banyak deh. Hehe.

Sekian dan terimakasih. Penjabaran sederhana dari Mahasiswa yang belum punya pengalaman apa-apa.

HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!


Kompasiana