Posts Tagged ‘dalam’

h1

Dunia Dalam Berita

May 13, 2013
Jadikan Teman | Kirim Pesan

Orang Pandeglang ini sangat menikmati perannya sebagai manusia komunikasi. Kegemarannya menulis sewaktu mahasiswa mengantarkannya bekerja di sejumlah media massa. Setelah lulus dari Program Magister Manajemen Komunikasi Universitas Indonesia pada 2005, ia terpanggil untuk membagi-bagikan pengalaman dan pengetahuannya di beberapa perguruan tinggi, termasuk kelas-kelas pelatihan bidang komunikasi. Selain menjadi penulis, pengajar, dan pewirausaha, mantan manager program Kick Andy Foundation ini juga seorang trader paper asset berbasis syariah. Salam kenal.

OPINI | 14 May 2013 | 04:01 Dibaca: 19   Komentar: 0   Nihil

JUDUL di atas dipinjam dari salah satu mata acara di TVRI. Dulu, sebelum ada televisi swasta, Dunia Dalam Berita (DDB), termasuk salah satu tontonan terfavorit. Bukan hiburan, isinya. Tidak ada lagu, di dalamnya. Tidak ada lawakan, materinya. DDB malah sangat serius.

Tapi, mengapa paling ditunggu pemirsa? Mungkin Anda menjawab, “Ah, waktu itu, kan, media televisi cuma satu.” Anda benar, tapi tidak sepenuhnya tepat. Jadi, apa sebabnya?

DDB menayangkan kejadian dan peristiwa penting dan menarik dari seluruh mancanegara. Informasi jenis itu, pada saat itu, tidak disediakan oleh sumber informasi lain. Padahal, banyak di antara kita yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di Malaysia, misalnya. Apa pula yang terjadi di Amerika Serikat, contohnya.

DDB boleh disebut sebuah fenomena pada zamannya. DDB juga bisa menjadi salah satu ilustrasi tepat untuk menjelaskan pengertian atau konsep berita (news). Kata berita dalam judul mata acara DDB merujuk pada: laporan tercepat peristiwa atau kejadian terbaru yang penting dan menarik bagi sebagian besar pemirsa atau khalayak.

Begitulah pengertian sederhana dari kata berita.

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

h1

Menghadirkan Tuhan Dalam Diriku

May 7, 2013

REP | 07 May 2013 | 19:11 Dibaca: 5   Komentar: 0   Nihil

13679284171999826913

Sumber Foto: Dalam Renunganku Semalam

Terus terang aku sendiri belum pernah merasakan kehadiran Tuhan dalam diriku. Entah, apakah karena aku masih menyimpan keraguan dalam diriku sehingga akibatnya Tuhan menjauhiku.

Dalam sholat aku terus berusaha dengan khusu’ sambil membaca ayat-ayat kebesarannya. Namin, hal itu belum juga ada titik temu. Kadang-kadang batinku berpendapat bahwa dalam beberapa hal Tuhan itu sering menyembunyikan kehendaknya. Sementara akal bebasku berkata Tuhan itu maha tersembunyi, sehingga tidak menampakkan diri dengan jelas, dan hanya karena kepercayaanku akan adanya Tuhan serta Wahyu yang berupa kitab suci Al-Qur’an, serta Muhammad itu adalah manusia pilihan yang di utus untuk manjadi Nabi dan Rasul yang diberikan predikat sempurna oleh Tuhan. Makan pada resultante terakhir aku berpendapat bahwa secara total Islam itu baik dan sempurna.

Dalam do’a aku pun berharap Tuhan memaklumi ketidaktahuanku ini. Sejauh yang aku amati akhir-akhir ini Agama telah kehilangan peranannya, petunjuk-petunjuk teks dalam Al-Qur’an tidak dapat tidak mampu menjawab persoalan-persoalan dunia, yang ada secara riil dalam Agama kita hanya menjual ayat-ayat kitab suci yang di sakralkan. Entah, indikator ketidak mampuan menjawab fenomena yang terjadi tersebut disebabkan karena katidakmampuan akal kita untuk menjawabnya atau memang teks isi-isi dalam Al-Qur’an itu perlu diperbaharui? Kalau soal ketidakmampuan akal kita mencerna isi teks yang ada dalam Al-Qur’an itu, aku pikir sampai sampai saat ini pun aku belum tahu letak keterbatasan akal ini.

Mengintegrasikan Tuhan dalam diri ini saja aku belum bisa, bagaimana aku mengintegrasikan ajaran Al-Qur’an yang kaya akan nilai-nilai kesusastraan itu..?

Aku yakin ini adalah proses pribadiku yang belum selesai aku bentuk, sehingga banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab dengan sempurna.

Tuhan maklumi aku ya,, ini akal bebasku yang bicara, bukannya aku hendak merong-rong otoritasmu absolutmu itu..

Siapa yang menilai tulisan ini?


Kompasiana

h1

Ancaman Perang dalam Sebuah Dilema

May 7, 2013

Oleh: Tungga Dewi Winarno Putri

Konfrontasi uji coba nuklir yang dilakukan oleh pemimpin negeri Pyongyang, Kim Jong Un akhir-akhir ini membuat suasana Korea Utara dan Korea Selatan kembali memanas. Negeri yang disebut Goerge W Bush sebagai negeri poros setan ini seolah ingin menunjukkan eksistensi negerinya yang tidak mati. Dengan basis militer yang kuat, Korea Utara masih ingin dipandang oleh seluruh dunia, terlebih dengan Kim Jong Um sebagai pemimpin baru dengan pemerintahannya yang masih seumur jagung.

Francis Fukayama (1992) pernah berpendapat bahwa berakhirnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet merupakan akhir dari sejarah yaitu titik akhir dari evolusi ideologis manusia dengan demokrasi liberal Barat sebagai bentuk akhir pemerintahan. Ideologi inilah yang rupanya masih ditentang oleh Korea Utara karena hingga detik ini tidak pernah ditandatangani suatu perjanjian perdamaian antara Korea Utara dengan Korea Selatan beserta Sekutunya (Amerika Serikat). Hal ini menginisasi bahwa perang dingin ideologi belum berakhir, sejarah masih akan terus mengukir tindak tanduk negara-negara ekstrem ideologis ini. Pertanyaannya, apakah gertakan siaga perang yang dilancarkan Korea Utara akhir-akhir harus ditanggapi serius oleh Korea Selatan dan dunia?

Jika kita menilisik pemerintahan Korea Utara saat ini, pernyataan perang yang dilontarkan Kim Jong Un bisa kita kategorikan sebagai bentuk tindakan dari pengakuan kekuatan pemimpin baru yang ingin dipandang oleh dunia. Korea Utara seakan ingin menunjukan bahwa dengan dipimpin oleh pemimpin yang masih muda, lantas negara nya masih tetap tegas terhadap rival-rival politiknya. Namun, di satu sisi, jika kita perhatikan, ada satu dilema keamanan tersendiri yang dihadapi Korea Utara dan menghasilkan beberapa alternatif strategis yang harus dipilih untuk keberlangsungan kekuatannya.

Cho (2009) menyebutkan bahwa ada 3 hal yang menjadi alternatif strategis yang menjadi dilema bagi Korea Utara saat ini yaitu melakukan tindakan demi keberlangsungan negeranya dengan 3 pilihan alternatif tindakan, yaitu transformasi, kompromi, atau justru bandwagon. Transformasi adalah alternatif pilihan pertama bagi Korea Utara. Transformasi disini berarti Korea Utara melakukan pembukaan akses pada pasar dunia seluas-luasnya, opsi ini dapat menggenjot perekonomian dari negeri bekas kendali Uni Soviet tersebut, namun disatu sisi dapat melepaskan program senjata nuklirnya. Alternatif kedua yaitu kompromi. Kompromi adalah alternatif yang dilakukan dengan tetap mempertahankan program nuklirnya yang terbatas dengan perjanjian nonpoliferasi nuklir dan mengejar perekonomian terbuka dalam lingkup yang amat terbatas. Kemudian opsi yang terakhir yaitu bandwagon. Bandwagon disini diartikan sebagai opsi bagi Korea Utara dengan tetap mempertahankan program nuklirnya yang kuat dan mengembangkan pembangunan dengan bersekutu kedalam ketergantungan blok ekonomi China. Tetapi nampaknya, alternatif strategi pembangunan dengan ketergantungan keamanan dengan China tidak dapat diandalkan lagi. China tidak dapat memastikan keamanan dari Korea Utara secara tak bersyarat sejak negeri itu sendiri sedang gencarnya mengembangkan pertumbuhan ekonominya dengan tidak membuat konflik dengan Amerika Serikat, karena hal tersebut akan membahayakan keamanan dan stabilitas pembangunan di kawasan timur laut Asia, khusunya bagi China sendiri.

Dilema dari beberapa alternatif strategis muncul karena Korea Utara patut was-was terhadap apa yang dianggap sebagai kelebihannya selama ini. Misalnya dalam hal kekuatan militer. Tidak bisa dipungkiri memang, kekuatan militer Korea Utara jauh memimpin dari Korea Selatan. Korea Utara memiliki 70 kapal selam, sementara Korea Selatan hanya memiliki 10. Korea Utara memiliki 820 kapal perang, Korea Selatan hanya mengandalkan kapal perang bantuan Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, selama masa kepemimpinan Kim Jong Il, jumlah tentara di Korea Utara sebanyak 1,2 juta jiwa dengan 200.000 jiwa dikategorikan “special forces” dengan kemampuan khusus. Tetapi kelebihan tersebut justru bisa menjadi boomerang tersendiri bagi Korea Utara apabila tidak dapat mengatur negaranya dengan baik dan memilih alternatif kebijakan yang paling baik. Dengan realitas kemiskinan yang terus menghantui rakyatnya, food supply yang tidak kunjung bertambah, dan perekonomian yang sangat tertutup, ketegangan perang justru dapat membahayakan negaranya, karena logikanya militer membutuhkan persedian makanan yang banyak. China yang tidak bisa selalu menjanjikan bantuan dewasa ini terhadap Korea Utara serta perkembangan industri agraris Korea Utara yang stagnan membuat Korea Utara harus berpikir ekstra keras untuk mencukupi kebutuhan pangan negerinya, khususnya pasukan militernya.

Korea Utara adalah negeri tirani yang mengharuskan seluruh warganya untuk mengikuti perintah dari sang pemimpin. Fanatisme dari sosok pemimpin didoktrin pada seluruh warganya hingga memunculkan suatu ketakutan tersendiri dalam diri mayoritas individu disana. Korea Utara pasti menyadari hal tersebut dan dengan alasan ini, tidak sedikit dari warganya yang tidak setuju dengan kepemimpinan dari Kim Jong Un akan memanfaatkan momen perang yang terjadi untuk melakukan tekanan dan asosiasi untuk menentang pemimpinnya sendiri karena selama ini mereka dilakukan seperti budak dan diperintah dengan penuh rasa ketakutan. Bagaimana tidak? Kesejahteraan sosial dari warganya adalah fokus yang dikesampingkan oleh para pemimpinnya. Dari anggaran yang dimiliki oleh Korea Utara, anggaran untuk kesehatan bagi para warga Korea Utara hanya 2% dari total anggaran secara keseluruhan, menempatkan Korea Utara pada 3 deret terbawah negara yang memiliki anggaran terkecil untuk kesehatan masyarakatnya.

Dengan realitas warganya yang masih banyak kelaparan, terserang penyakit, serta kekuatan ekonominya yang masih cukup lemah, maka tidak heran sejumlah dilema tersebut harus diselesaikan terlebih dahulu bagi masa pemerintahan Kim Jong Un sebelum melakukan perang dengan Korea Selatan dan Amerika Serikat, karena dalam masa kini kita dapat meramalkan bahwa mengembangkan senjata nuklir tanpa basis kekuatan ekonomi yang kuat hanya akan menjadi sebuah wacana pertahanan yang lemah.

Referensi

Cho, Seong-Ryoul, “North Korea’s Security Dilemma and Strategic Options”, The Journal of East Asian Affairs, Vol. 23, no.2, 2009, pp 69-102

Fukuyama, Francis, The End of History and The Last Man, Free Press, 1992

https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/kn.html

https://www.cia.gov/library/publications/the-world factbook/rankorder/2225rank.html?countryName=Korea,%20North&countryCode=kn&regionCode=eas&rank=189#kn

http://www.catholic.org/international/international_story.php?id=50448


Kompasiana