Posts Tagged ‘bernama’

h1

Nasabah Tabung Pohon itu bernama …. Pelajar

May 10, 2013

OPINI | 11 May 2013 | 05:38 Dibaca: 52   Komentar: 0   Nihil

Menanam pohon merupakan satu langka nyata untuk mengembalikan kesuburan alam dan melestarikan bumi.  Pohon memiliki manfaat bagi kehidupan manusia mulai dari kemampuannya menyimpan air melalui proses pembentukan porositas air dalam tanah, penyaringan udara melalui proses asimilasi dan merubah karbondioksida menjadi oksigen, manfaat pohon yang dapat memberikan kesuburan tanah melalui proses biologis yang unik dan kompleks sehingga mampu mensupply unsur hara bagi tanah, kemampuan akar tanaman yang mampu mengikat struktur tanah sehingga mampu menahan erosi dan mencegah banjir, kemampuan sekumpulan pohon dihutan  yang dapat mempengaruhi iklim bumi serta manfaat pohon yang sudah kita kenal terlebih dahulu sebagai penghasil bahan kayu untuk rumah, perabotan dan perlengkapan  rumah serta bahan non kayu (damar, getah, rotan, minyak atsiri).

Manfaat-manfaat tersebut membuat penanaman pohon menjadi sangat penting dan sering menjadi program yang terus dikembangkan setiap saat.  Hal ini disebabkan karena terjadinya proses eksploitasi hutan yang luar biasa mulai dari penebangan pohon tanpa reboisasi, pembukaan hutan untuk lahan pertanian atau perkebunan, pembukaan hutan untuk areal pertambangan dan pembukaan hutan untuk pemukiman penduduk.  Dasar tersebut menjadikan penanaman pohon menjadi sangat penting dan perlu dilakukan oleh semua komponen masyarakat, termasuk para pelajar.

Pelajar merupakan calon intelektualitas bangsa yang akan menjadi generasi penerus pembangunan bangsa.  Memberi pemahaman tentang arti pentingnya menabung pohon bagi para pelajar akan menjadikan mereka tumbuh sebagai intelektualitas yang juga sobat bumi karena selalu berorientasi pada penghormatan terhadap kelestarian alam.

Pelajar dapat dijadikan sebagai nasabah alam melalui Tabung Pohon.  Esensi dati menanam pohon adalah : Tanam Pohon dan jangan pernah berharap mengambil hasilnya.  Artinya, kita melakukan pelestarian alam melalui penanaman pohon, tetapi kita tidak harus menjadi pemikmat hasilnya, biarkan generasi penerus yang akan mengambil hasilnya.  Generasi penerus akan menjalankan tongkat estafet pelestarian alam pada generasi berikutnya.

Tabung Pohon dengan nasabah para pelajar dapat diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan yang mereka peroleh sejak Sekolah Dasar.  Pada tingkat dasar, para pelajar diberikan materi tentang penyadaran akan arti pentingnya menanam pohon, mereka diberikan arahan dan pengkondisian pemikiran untuk selalu menjadi sobat bumi yang cintya lingkungan hidup.  Begitu mereka masuk ke sekolah menengah sampai pendidikan di perguruan tinggi, mulai dilakukan langkah-langkah aplikatif dalam Gerakan Tabung Pohon.

Tabung Pohon dilakukan oleh pelajar yang akan menyelesaikan tahapan pelajaran di tingkat Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum/Sekolah Menengah Kejuruan, Pendidikan Tinggi di tingkat Diploma – Sarjana – Pasca Sarjana dan Doktoral.  Setiap pelajar/mahasiswa  yang akan lulus dikelompokkan dalam jumlah tertentu dan diwajibkan untuk menanam pohon.  Teknis penanaman dilaksanakan oleh pelajar/mahasiswa yang masih berada dalam proses belajar.  Misalnya, ada 50 orang pelajar sebuah Sekolah Menengah Pertama.  Mereka dikelompokkan dalam lima kelompok yang masing-masing beranggotakan 10 orang.  Masing-masing kelompok nantinya akan menyediakan bibit tanaman pohon dan sarana produksinya (pupuk, agensia hayati).  Pelajar kelas 8 merupakan kelompok pelajar yang akan menanam dan merawat pohon yang ditabung tersebut.  Sekolah/Perguruan Tinggi bekerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah menyediakan lahan untuk penanaman pohon penghijauan.  Pihak sekolah/perguruan tinggi juga membuat sebuah lahan Hall of Fame yang berisi satu pohon yang menandakan setiap angkatan kelulusan.  Kelompok pelajar/mahasiswa yang akan lulus juga membuat deskripsi tentang pohon yang ditaman dan dipasang pada papan informasi di lahan Hall of Fame.  Kerjasama juga dilakukan bersama dengan dinas kehutanan setempat dan organisasi yang peduli lingkungan.  Pelajar/mahasiswa juga dapat dilatih menjadi seorang wirausaha melalui kegiatan pembibitan tanaman untuk Gerakan Tabung Pohon ini.

Tabung Pohon yang dilakukan pelajar/mahasiswa ini juga akan menjadi satu ikatan emosional dengan sekolah, karena pelajar/mahasiswa akan memiliki satu keinginan untuk melihat “Monumen Hijau” yang sudah mereka tanam sebelumnya.  Gerakan Tabung Pohon dengan nasabah pelajar/mahasiswa juga akan membuat mereka menjadi sobat bumi yang peduli lingkungan saat nantinya berkiprah di lapangan pekerjaan.

Mari menjadi nasabah Tabung Pohon


Kompasiana

h1

Duta Kota yang bernama: Tukang Parkir

April 18, 2013

Salah satu yang saya suka dengan kota halaman saya adalah: Tukang parkirnya.

Mungkin di kota lain ada yang lebih bagus. Tapi saya belum sempat ketemu. Yang jelas, kalau dibandingkan dengan Bandung atau Jakarta, tukang parkir di kampung saya jauh lebih ngangeni.

Seperti minggu lalu ketika saya berksempatan sarapan pecel Mbok Bari, di sebuah jalan yang agak sepi di Kelurahan Sentul (saya lupa nama jalannya, tapi kalau dari arah Selatan, yang ada jalan tembusnya ke Kelurahan Bendo).

Sudah menjadi ciri khas, setiap tukang parkir itu memakai seragam. Jaman saya kecil dulu, kalau tidak salah seragamnya warna oranye tua. Tapi sekarang tampak lebih muda, dengan paduan warna biru muda dan abu-abu. Ada tulisan “JUKIR” di dada kiri, dan biasanya ada nama yang bersangkutan di dada sebelah kanan. Di lengan kiri ada tulisan dan lambang Kota Blitar. Aksesoris standar lainnya: topi dan tas pinggang kecil. Bersepatu sudah pasti.

Ketika saya selesai makan pecel yang tidak sampai habis Rp 8 ribu (nasi pecel lauk tempe, tahu, mendoan, rempeyek kacang + tahu setengah mateng + susu kedelai), saya menyodorkan lembaran uang Rp 2 ribu ke tukang parkir sambil bersiap menyetater sepeda motor. Pikir saya, mungkin tidak akan dikembalikan.

Ternyata salah. Dengan sigap Pak Parkir merogoh tas kecilnya, mengeluarkan recehan Rp 500 tiga keping. Untuk motor, tarifnya memang Rp 500. Dan selalu ada kembalian untuk pecahan uang yang lebih besar. Kalau tidak salah Rp 1.000 untuk mobil.

Saya tidak tahu, kenapa di kota ini tukang parkir begitu sopan dan jujur (soal kembalian). Termasuk terhadap orang yang kelihatannya bukan orang Blitar. Lima ratus ya lima ratus, tidak berusaha mendapatkan untung dengan beralasan kembaliannya tidak ada, atau paling sering seperti di kota lain: ketika dikasih uang agak besar langsung masukin kantong dan pura-pura tidak lihat ke pemilik kendaraan yang mungkin sedang menunggu kembalian.

Sayangnya di Blitar, di beberapa tempat (terutama pasar dan toko-toko yang agak besar) sudah mulai ada parkir non-organik. Biasanya mereka “preman” setempat. Mereka ini tidak berseragam resmi, tapi umumnya membuat identitas dan seragam sendiri. Tapi soal tarif, tidak lebih dari seribu (ini pun sudah dua kali lipat tarif resmi) — kecuali musim lebaran, biasanya mereka ini mematok tarif hingga Rp 2 ribu untuk motor.

Saya jadi berpikir, wajah jujur dan bersahabat sebuah kota salah satunya sebenarnya diwakili oleh perilaku para tukang parkirnya.

Semakin tertib, ramah, jujur soal biaya parkir, semakin kota tersebut memiliki “ruh” sebagai kota yang bahagia. Bahagia untuk ditinggali, dan bahagia untuk dikunjungi. Tukang parkir itu tersebar di berbagai sudut kota secara merata. Semakin banyak tukang parkir yang  menyenangkan, bukankah wajah kota tersebut juga akan menjadi menyenangkan? Orang akan berpikir, tukang parkirnya saja menyenangkan seperti ini, apalagi penduduknya, apalagi pemerintah dan anggota dewannya (meskipun untuk dua yang terakhir, ya … masih fifty fifty sih)

Sebaliknya, semakin semrawut, tidak jujur, bahkan menakutkan para tukang parkirnya, tanda sebuah kota sedang mengalami keruwetan dalam berpikir dan berbenah.

Kita tidak sedang membicarakan abang none, akang mbakyu, mojang bujang, miss or mister apapun yang biasanya dipilih dengan berbagai standar kecapakan yang tinggi dan kontes yang tidak murah, tapi kita “hanya” membicarakan tukang parkir. Sebelum sebuah kota punya duta ini itu, ada baiknya memperhatikan betul-betul bagaimana perilaku tukang parkirnya. Mengajak mereka menjadi orang yang ngangeni bagi orang yang berkunjung ke kota tersebut. []

(catatan ini juga tersimpan di http://www.wahyuaji.com , mari mampir:)

@densatria

13662498601655846503

Salah satu Jukir di Blitar.


Kompasiana